Langsung ke konten utama

Postingan

Kehidupan di Pasar

Tepatnya pada 8 Agustus pagi, tak biasanya saya bangun pagi ke pasar. Bukan kebiasaan saya pergi ke pasar pagi-pagi kalau bukan diminta tolong ibu “titip beli ya kak”.
Dengan mata yang masih sipit dan mandi seadanya, saya beranikan diri untuk ke pasar secara serius. Betulan serius, karena pasar adalah tempat publik dengan penjual yang menjajakan hasil bumi tani dari daerah lain. Di pasar, akan bertemu segala rupa jenis barang seperti rempah, buah, sayur, aneka daging, atau bahkan barang kelontong.
Jika di pasar modern pengunjung dimanjakan atap dan ruangan sejuk, namun tidak untuk pasar tradisional. Sebenarnya tidak bisa dikatakan pasar tradisional juga sih, lebih tepatnya pasar besar yang berada di tengah kota, dekat stasiun di daerah Kranji, Bekasi. Tetapi bukan juga pasar induk seperti di Jatinegara, Jakarta.
Pasar Kranji Baru Bekasi adalah spot baru untuk saya dan rekan saya. Keperluan kami merangkap sebagai pengunjung yang berbelanja. Pengunjung seperti kami tampak berpakaian san…

Ayah yang Menyiram Bunga

Ibu memasak nasi, ayah membaca koran, Budi mengeja kata
Subyek-subyek seperti ibu, ayah, dan Budi (Budiiii ini zaman baheula banget) tertancap di kepala. Berbekal buku pelajaran menulis dan membaca Bahasa Indonesia waktu SD, saya hanya kenal mereka. 
Di beberapa buku lainnya, ibu yang saya kenal adalah yang mengurus rumah tangga. Sementara ayah, pergi keluar untuk bekerja. Namun tidak untuk kondisi keluarga saya dan mungkin pembaca lainnya. Kondisinya terbalik.
Misal sang ibu bekerja, ayah bekerja, dan anak-anaknya sekolah. Atau ibu bekerja sambilmenjadi ibu rumah tangga, ayah bekerja, anak-anaknya kuliah sambil bekerja. Atau bahkan ayah mengasuh, ibu sakit-sakitan, anak sudah tamat kuliah dan bekerja. Banyak kemungkinan. Bekerja pun bisa dari rumah atau remote working bukan?
Tapi kini saya mengalami sendiri. Fase-fase ayah dan ibu pernah bekerja saat bugar-bugarnya, dengan keadaan anak masih kecil-kecil dan sekolah. Kemudian berlanjut ke fase orang tua bekerja, dan anak-anaknya kulia…

Bayangan Perempuan

Hubungan ibu dan anak tidak pernah terpisahkan. Meski jarak yang memisahkan, selalu ada ikatan batin yang mengikat. Perkara konflik atau tidak, itu hal biasa. Bukankah begitu?
Anak perempuan adalah kesayangan ibu, begitu pula ayah. Sayangnya, gerak anak perempuan dibatasi demi kebaikan orang tua. Tapi kadang, anak perempuan itu juga tidak paham apa itu kebaikan orang tua.
Apakah kebaikan ini berdasar keyakinan rohani?
Ataukah tekanan masyarakat yang patriarki?
Anak perempuan haruslah terus bergerak. Jika ibu bebas bergerak dengan segala kuasanya, mengapa tidak dengan anak perempuan?
Hidup menjadi anak perempuan di tanah surgawi begitu sulit. Banyak yang mengombang-ambingkan teori dan realita.
Jika kata kelompok begini, perempuan sebaiknya lemah-lembut, keibuan, pasif, dan terkadang... memaksakan pandangan tentang nilai-nilai seorang perempuan pada perempuan lain.
Jika kata kelompok begitu, perempuan haruslah bersuara, aktif, mengekspresikan diri, dan bekerja keras.
Seperti bayangan, m…

Fotografi Jalanan (Street Photography) di Kota Cirebon

Kota Cirebon, ibukota kabupaten yang terletak di ujung Provinsi Jawa Barat ini menyimpan kisah dan keunikan tersendiri ketika saya kunjungi. Kota yang masih kental dengan sebutan kota keraton ini, rupanya adalah gudang berlimpah untuk melakukan fotografi jalanan atau street photography di Kota Cirebon.

Tepatnya di kawasan Pecinan dan Pasar Kanoman, saya dan ayah akhirnya berkeliling di daerah tersebut setelah mengunjungi Setu Patok, Taman Sari Goa Sunyaragi, dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Demi memanfaatkan waktu yang tinggal 2-3 jam lagi, kami pun berinisiatif untuk berkeliling sekitar pasar. Banyak hal yang saya temukan dan tidak disangka ternyata momen itu hanya sekelebat saja. Misalnya:
1. Rambu dilarang parkir

Sudah biasa jika rambu-rambu hadir di setiap sudut jalan. Tujuannya, agar pengendara tetap tertib berlalu lintas, sesuai etika juga tentunya. Namun, ada hal lucu di luar sana yang sering terabaikan. 



Entah karena terpepet, lupa, atau masa bodoh dengan papan rambu yang tegas m…

Jelajah Singkat Jogja 2 Hari

Jenuh, lelah, sering sakit kepala, bete. Ah, butuh liburan itu mah! Liburlah sejenak walau 2 hari. Namun, daftar tempat yang akan dikunjungi banyak. Bagaimana?
Petualangan saya berawal dari ngide solo travel atau perjalanan mandiri selama 1-2 hari. Ada banyak kota yang ingin dikunjungi, tetapi pilihan realistis adalah Jogja atau Yogyakarta. Biaya hidup murah, udara sejuk (jika musim kemarau), ramah turis dan pejalan, dan leluasa menikmati keindahan alam beserta petualangannya. 
Ide ini ditentang orang tua karena beberapa alasan: perempuan, belum punya pasangan halal, harus didampingi orang tua, dan terakhir, ya perempuan tidak wajar jalan sendiri. Sayang sekali. *kapan-kapan kita bahas kenapa ya!*
Jadilah saya pergi bersama ayah. Untungnya ayah juga suka ngide dan menyarankan untuk cari tiket pesawat di beberapa situs perjalanan. Saya pun buka Pegipegi untuk melihat-lihat harga tiket pesawat. Siapa tahu dapat tiket murah kan? 
Kebetulan, dapat juga tiketpesawat Air Asia dari Jakarta-Yogya…

Terowongan Kendal Sudah Berubah, Yuk Naik MRT!

Beberapa minggu lalu, saya tiba di stasiun kereta cepat bawah tanah di sekitar Stasiun Sudirman, Jakarta Selatan. Ini baru kali pertama mencoba kereta cepat bawah tanah atau MRT yang saat itu sedang hangat dibicarakan. Katanya sih, seperti naik MRT di luar negeri.
Kereta MRT (moda raya transportasi) adalah proyek transportasi publik yang baru rampung pada Maret 2019 lalu. Proyek ini sempat membuka program uji coba publik secara gratis dari 5 Maret 2019 - 23 Maret 2019. Tujuannya, agar masyarakat bisa merasakan pengalaman naik MRT sebelum dioperasikan secara komersial, juga pihak MRT bisa menerima masukan untuk meningkatkan layanan moda transportasi ini.
Selama uji coba publik, baik masyarakat dan pihak MRT mengkampanyekan panduan untuk penumpang MRT Jakarta. Pengalaman penumpang dibagikan ke media sosial berupa foto, cerita, dan video, dan inilah yang akhirnya membuat saya naik MRT juga.
Akhirnya ya.
Namun, naik MRT bukan sebagai gegayaan seperti penumpang lain yang hanya mencoba-coba …

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan