Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Puisi Maafkan Kami, Guru

Kami tahu...
darah remaja adalah darah yang mengandung api yang membara

Kami tahu,
kami masih remaja berumur belasan tahun
kami juga manusia,
yang penuh kesalahan dan dosa-dosa

Kami tahu,
pemikiran kami belumlah matang
kami hanya bisa berpikir pendek
bertindak dulu baru berpikir

Kami juga tahu,
pada hari ini kami wajib menanggung dosa sendiri
termasuk kepada manusia pun,
kami juga tetap harus menghormati mereka

Namun,
inilah kami
remaja
bertindak sebelum berpikir
"ada juga sih, yang mikir dulu.... tapi kelamaan,
akhirnya gini deh, kena hantam sama guru"
beginikah remaja dari dulu sampai sekarang?

Setelah diberi nasihat,
kami langsung menyalami mereka,
para pendidik kami yang terhormat
ke ruang guru, minta maaf

Apa reaksinya?
"kalian terlalu cepat untuk memutuskan minta maaf pada saya
sana duduk dan renungkan dulu!!
pergi!!!," katanya sambil mengusir.
benarkah cara kami?
untuk meminta maaf kepada bapak/ibu guru
dalam tempo setelah dinasihati?

Terlalu cepat kami merenungkan itu
kami juga terlalu tergesa-gesa
kami takut,
ini akan terjadi lagi....
hanya demi solidaritas teman; kebebasan;
biasanya dialami kami sendiri

Kami,
benar-benar khilaf
siapapun kami
kami adalah siswa-siswi,
yang tidak dipandang bulu; kaya-miskin; pintar-bodoh,
(mungkin) tidak mudah bagi kami untuk berkata
"cuek aja lagi...."
amat berdosa kami berkata seperti itu...

Kami, benar-benar minta maaf
untuk kalian dan semua pihak
sekolah kami tercinta
bapak/ibu guru, dan semuanya....
kami sungguh telah merepotkan kalian....

maafkan kami

Komentar

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Terowongan Kendal Sudah Berubah, Yuk Naik MRT!

Insekuritas dalam Berkarya

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan