Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Agar Ilmu Lebih Berguna...

Kemarin sore, aku latihan karate di GOR Panglengur Sumenep. Aku berangkat dari rumah jam setengah 4, padahal latihannya jam setengah 4 juga. Ah, sampai di dojo (tempat latihan), untung nggak telat. Syukurlah. 
Pas sampai di sana, aku langsung ganti baju, menggunakan dogi (baju karate) putih dan juga sabuk biru yang lumayan panjang. Tapi, kalau dipakai, jadi pendek. Ribet memasangnya.
Oh ya, langsung aja lah. Senpai Cung berkata, agar kita tidak terlalu sok dengan gelar atau jabatan kita. Agar, ilmu karate yang didapat nggak asal doang. Percuma dong, sabuk setinggi langit (maksudnya sabuk hitam DAN 8, contoh ya) nggak bisa mengaplikasikan ilmu karatenya pada saat darurat. Misalnya, ada pencuri bawa pistol, tapi si master karate itu melongo, nggak bisa apa-apa. Karena, walaupun dia jago karate dan sabuknya setinggi langit, dia nggak bisa mikir (bahkan mikir) apa yang harus dia lakukan saat pencuri berpistol datang. Dia hanya berteriak "mintol!! mintol!" Minta tolong maksudnya.
B…

Kotak surat dari bahan bekas

Tadi sore, aku membuat kotak surat dari bahan bekas yang ukurannya tidak terlalu besar, bisa dibilang pas-pasan buat ukuran amplop. Ini kubuat karena adikku minta tolong. Dia diberi tugas dari guru dan OSIS saat MOS di SMPN 1 Sumenep tadi siang. Padahal, buatnya gampang kali.
Ini dia, kotak surat buatanku yang masih setengah jadi.
Yang bantuin aku membuatnya.....
Dan, yang membuatnya.. Pastinya dong kakaknya¬ Dari benda ga berguna, jadi berguna.
Kotak surat yang kubuat itu kotak dari DataPrint (pengisi ulang tinta). Awalnya, adikku sempat mengambil kotak Nutrisari. Tapi, kalo menurutku kebesaran. Ya udah, langsung aja kupilih kotak DataPrint tersebut.
Rencananya sih, bikin kotak yang setengah jadi itu, lalu ditambah dengan kaleng minuman Nestle Bear Brand Teh Putih. Eh, setelah kupikir-pikir, kaleng itu jadi nggak berguna, pasti jadi kurang menarik, karena benda itu akan berkarat. Apalagi kalo didiamkan atau dibiarkan ditempat yang lembab. Sudahlah, kurang bagus hasilnya. Jadi, ya kubiark…

Kuliner Minggu Sore

Inilah kuliner yang paling mengenyangkan dan menyenangkan. Mi goreng yang terenak di kota Sumenep. Hehe, nggak juga.

Mi goreng ini dibeli ibuku di RM. Pak Udin, yang terletak di kawasan Kampung Arab, Kota Sumenep.
Oh iya, masih ada lagi! Tapi makanan ini dipotret kemarin, bukan sekarang.

Ini tampilan mi rebus yang dipotret kemarin. Mi rebus ini, setengah habis. Maaf, lagi kelaparan, habis nyetrika baju. 
Ada lagi nih. Potret mi rebus yang masih utuh.
Harap bisa dilihat-lihat. Kalau lapar, silakan buat mi goreng merek apa saja, tiru tampilan mi-nya seperti foto-foto diatas.
*Dapet ide gokil, bukan buat promosi, tapi hanya iseng belaka.

Malam kesendirian

Masih sendiri...
hanya ditemani komputer
suara anjing menggonggong
dan suara pintu berderit

Duduk sendiri,
di tengah malam Senin...
berharap ada yang nungguin
aku takut sekali!

Menunggu

Aku menunggu
setiap waktu, menunggu
hanya menunggu
menunggu, untuk melihat wajahmu
lagi, kapan?
seolah kau takkan kembali,
ke sekolah penuh keceriaan
bumbu-bumbu keindahan sekolah
hilang sekejap
saat kau pergi
lalu aku menunggu di sana
hanya untuk melihat wajahmu kembali

Pelangi

Saat aku jauh
kau ada dimanapun
kau tak kenal waktu
walau malam, kau tak terlihat

Hujan deras selesai
namun kau keluar dengan keikhlasan
kau mengeluarkan spektrum cahaya
indah, namun,

Mungkin hanya sebentar aku melihatmu...
karena, matahari akan bersinar lebih terang
kau akan hilang,
dari pandanganku

Unforgettable think

Yeahh, pikiran usang ini memang agak susah dilupakan. Sampai sekarang, masih lengket di otak. Lucu kali dan konyol. Serta rasis sedikitlah.
Kejadian itu kira-kira sudah 8 tahun yang lalu, saat aku masih kecil. Waktu itu, keluargaku jalan-jalan pulang kampung ke Pariaman, lalu singgah sebentar ke Bukittinggi. Wah, waktu di Bukittinggi, pemandangannya kalah dengan Bukittinggi sekarang, panas (nggak juga sih). Semua keluarga ayahku, ngumpul di Bukittinggi semua, tepatnya di sebuah hotel yang homy.
Nah, keluargaku yang terdiri atas ayah, ibu, dan adik jalan-jalan sekalian silaturahmi ke rumah saudara dekat di sekitar kota Bukittinggi. Waktu itu, cuaca bagus, mendung iya tapi hujan tidak turun-turun. Kebetulan, saat itu sedang makan siang.
Aku dan adikku yang nggak tahu apa-apa soal Yahudi Israel, produk Yahudi, ataupun merek-merek yang membiayai senjata Zionis itu langsung sikat abis! Maksudku, kami makan di sebuah restoran fast food di Bukittinggi. Saat itu, aku dan adikku kelaparan banget.

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan