Langsung ke konten utama

Agar Ilmu Lebih Berguna...

Kemarin sore, aku latihan karate di GOR Panglengur Sumenep. Aku berangkat dari rumah jam setengah 4, padahal latihannya jam setengah 4 juga. Ah, sampai di dojo (tempat latihan), untung nggak telat. Syukurlah. 

Pas sampai di sana, aku langsung ganti baju, menggunakan dogi (baju karate) putih dan juga sabuk biru yang lumayan panjang. Tapi, kalau dipakai, jadi pendek. Ribet memasangnya.

Oh ya, langsung aja lah. Senpai Cung berkata, agar kita tidak terlalu sok dengan gelar atau jabatan kita. Agar, ilmu karate yang didapat nggak asal doang. Percuma dong, sabuk setinggi langit (maksudnya sabuk hitam DAN 8, contoh ya) nggak bisa mengaplikasikan ilmu karatenya pada saat darurat. Misalnya, ada pencuri bawa pistol, tapi si master karate itu melongo, nggak bisa apa-apa. Karena, walaupun dia jago karate dan sabuknya setinggi langit, dia nggak bisa mikir (bahkan mikir) apa yang harus dia lakukan saat pencuri berpistol datang. Dia hanya berteriak "mintol!! mintol!" Minta tolong maksudnya.

Begitulah pesan Senpai Cung, bukan kataku loh ya.

Intinya, jangan bangga sama jabatan atau titel kita. Apapun pekerjaannya. Apapun hobinya. Karena, kalau kita terlalu bangga, mungkin ilmu yang ada di otak hilang seketika. Nggak percaya? Silahkan coba kita nyombongin diri ke orang lain. Lihat hasilnya, nilai sekolah atau kepercayaan orang kepadamu akan anjlok.

Nah, kalau yang buat karate, sabuk putih sampai sabuk coklat itu belum ada apa-apanya bila dibandingkan sabuk hitam. Itu kata Sempai Cung lagi, hehe.. Karena, pengertian kita pada karate masih sedikit daripada sabuk hitam. Sedangkan bagi yang mencapai sabuk hitam, itu namanya asli karate, karena mereka sudah mempelajari dari jurus-jurus yang awal atau mudah, hingga ke jurus-jurus atau teknik yang expert, yang mungkin ada campuran teknik olahraga beladiri lain.

Selain itu, orang bersabuk hitam juga menjadi teladan bagi yang berlainan sabuk. Jikalau tingkahnya jelek mah, mungkin dia juga kurang pengertian.

Ada lagi! Jika mau berkelahi, jangan sok-sokan yak! Itu kata Sempaiku lagi.

Ceritanya begini, ini tentang aku dan dia (hehe, lagu Peterpan). Gini. Saat Senpai Cung masih muda (sabuk coklat), dia sedang berjualan di depan sebuah SMA. Pada saat itu, beliau melihat anak muda yang berkelahi, dua orang ya. Saat beliau datang menuju lokasi mereka berkelahi, beliau melerai mereka dengan merentangkan dua tangan beliau. Namun, tangan mereka melayangkan tinju di atas kepala si senpai. Nah, senpai ini kesel, hingga akhirnya membiarkan mereka melanjutkan berkelahinya.

"Ayo lanjutkan!" ketus Sempai.
Mereka berdua yang berkelahi itu cuma diam doang. Kayaknya ini mikir nih.
"Kalian nggak takut sakit, ya?" tanya si senpai.
Mereka dua juga tetap diam. Kenapa nih anak?

Hal yang kutangkap adalah, kalau mau berkelahi, mikir sakitnya ya! Dan, jika ada orang yang mau melerai orang berkelahi, jangan ikutan berkelahi. Ntar mati itu, eh babak belur tuh orang.


*Ide dadakan, pasti kembali
namun, kalo ide gokil, datang setahun sekali!!!
Ada sangkut-pautnya pada moral. Kamu bisa nangkap hikmahnya disini¬

Komentar

  1. kesombongan membuat orang mudah menggunakan kekerasan untuk nyelesain masalah. budaya kekerasan yah...

    ps: terima kasih partisipasinya, judul dan url postingan ini telah saya backlink di blogku 2 juli
    urutan 32 yaaaa

    BalasHapus
  2. Semakin berisi semakin merunduk, ilmu padi!

    BalasHapus
  3. yupz.... setuju ma postingan ini... ^^

    BalasHapus
  4. Aduh...daripada sakit karena berantem, mending damai aja, itung-itung menghemat energi untuk hal yang lebih bermanfaat.

    BalasHapus

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Terowongan Kendal Sudah Berubah, Yuk Naik MRT!

Insekuritas dalam Berkarya

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan