Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Cerita Sore

Hari ini makin sore. Matahari menunjukkan kelelahannya menyinari hari ini selama hampir 16 jam. Matahari menunjukkan warna sinar oranye bercampur merah. Dan makin indah ketika awan biru bersahabat warna dengan matahari. Sepoi angin, menggelantungkan burung pipit yang baru belajar terbang, walau angin itu sepoi dan pelan. Menggerakkan dedaunan pohon dan bunga, gorden coklat didepan laptopku... Kadang menggerakkan kertas kuning penghilang bosan dimeja belajarku.

Ku lihat drum oranye khusus penyimpanan air. Ia memantulkan sinar matahari yang sudah semakin sore. Aku melihat plastik pembungkusnya dialiri air yang melimpah bocor, lalu plastik itu terbang terbawa angin. Aku tertegun saat melihat handuk tak bergerak oleh angin. Begitu beratnya kain handuk, daripada plastik pembungkus, ya.

***

Sore ini, mulai dikerubungi awan kumulus. Akan menambah keindahan saat fotografer iseng mengabadikannya. Kadang aku mencuri waktu untuk melihat awan, diantara atap-atap rumah yang menutupi. Aku kecewa... Awan saja tak terlihat! Hanya langit biru. Jika malam nanti aku keluar, mungkin saja bintang tak satupun terlihat...

Dan... sore ini menunjukkan kesejukan angin. Banyak anak-anak penggemar sepeda Fixie berkumpul ditaman komplek. Mereka saling berbagi canda tawa, bercerita, balap sepeda dan mungkin memamerkan onderdil baru sepeda Fixie. Kadang sore ini, aku jalan-jalan mengelilingi komplek sambil belajar sepeda motor. Ku lihat mereka. Ada pula anak-anak kecil yang mengayuh sepeda kebutan.

Dan... biasanya, ku lihat pula tiga orang lelaki yang bermain basket. Aku mengacuhkan mereka, tapi...

Huh! Hampir saja aku oleng dengan motor matikku. Kusuruh adikku menge-rem sepedanya untuk membiarkan bola basket itu berjalan. Tiga orang pemain basket itu hanya tertawa terpingkal-pingkal membiarkan dua anak bodoh dan polos menunggu bola basket. Setelah mereka puas tertawa, aku menggas motor matik sekencang-kencangnya. Agar kuharap, emosi dan pikiranku terbuang melalui knalpot lalu berubah menjadi gas CO. Kuharap pula setiap hari mereka tidak menghirup gas CO.

Komentar

  1. ass
    cerita sore yg mengesankan mba
    tiga orang laki main basket jadi inti cerita sebenarnya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Insekuritas dalam Berkarya

ZAP Rawamangun Pindah Lokasi, Tenang, Kliniknya Ada Dimana-mana Kok

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan