Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Jempol Kakiku

Kali ini kutemukan luka di jempol jari kakiku. Aku menderita itu sejak sehari yang lalu. Lalu, kutemukan pula nanah yang bermunculan dari daging kuku. Aku, kasihan melihat jempol kaki itu.

Memang, kuberi betadine yang mengandung bla-bla-bla bahan kimia aktif untuk menyembuhkan luka. Tapi, luka itu tak kunjung sembuh.

Opaku mencoba pengobatan tradisional. Beliau menggunakan kerosin yang merupakan anggota senyawa hidrokarbon yang mengandung alkana, alkena, alkuna, naftalena, dan senyawa aromatik lainnya. Kerosin, sih.. nama lainnya minyak tanah. Haha, kadang aku tertawa mengapa opa memberikan penyembuhan melalui minyak tanah ini. Rasanya tidak sakit, itu merupakan penyembuh yang menghilangkan ingatan rasa sakitku saat aku bermain gitar. Bermain gitar untuk melupakan segala luka. Emosiku sedikit terbuang dari suara cempreng dan menekan grip di senar kawat gitar agak karatan.

Hanya jemari kiri yang menjadi korban kepedihan senar kawat. Hatiku tidak, tapi.

Namun, ketika malam kini, kerosin itu tidaklah berguna lagi... Ia memang membekukan darah dan nanah yang akan mengalir nanti. Kotoran agak menghilang dari sana. Dan sekarang, luka itu muncul sebagai luka kedua yang perih, amat perih... Hingga tisu dari pohon kertas meninggalkan jejak darah dan nanah...

Ah.. Aku sih nggak peduli amat.

Walaupun rasa sakit jempol kakiku ini terasa berdenyut, namun hatiku.. Entah berbunga-bunga. Aku merasakan sakit dan bahagia sekaligus.

Aku tidak tahu, bagaimana lagi menendang dengan teknik ushiro geri kaki kiri untuk menendang lawan hatiku dari belakang. Tendangan memutar itu akan membuatnya melayang dan terjerembab ke tanah.

Saking senangnya... Aku sampai hati tak ingin menendang lawan hatiku bila aku akan bertemu dengannya. Karena ia yang membuat hatiku berbunga-bunga. Disaat aku terluka bersama dengan jempol kaki yang penuh kotoran dan bernanah. Ialah penyembuh disaat aku berada dalam transisi. Tetapi aku 'memang' bukan logam transisi, begitu kata di tabel periodik kimia.

Komentar

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Insekuritas dalam Berkarya

ZAP Rawamangun Pindah Lokasi, Tenang, Kliniknya Ada Dimana-mana Kok

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan