Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Malam yang Hidup

Malam yang hidup.

Malam yang hidup, kini ku dengar suara-suara motor yang tak pernah berhenti di jalanan sepi yang kadang ada dua insani berdua memadu kasih.

Kubayangkan,

Satpam-satpam itu berjaga-jaga apabila ada erampok yang berusaha memasuki perumahan blok sekian. Namun mereka terlena oleh tontonan televisi yang menyenangkan. Sedangkan para ibu, dimana itu istri mereka, selalu setia menunggu. Walau dalam galau dan sepi, galau yang nyata dan hilang ketika suami mereka pulang dengan selamat. Sepi.

Sepi karena anak-anak ibu itu tertidur pulas, tak memikirkan hari esok bagaimana dan hari ini apa yang sudah dilakukan. Mereka anak-anak yang masih terpancar kebahagiaan dan semangat hidup. Meskipun mereka hidup di pinggiran kota yang mulai macet oleh kendaraan pada..

Pada malam yang hidup ini. Malam minggu.

Malam yang terasa lama. Berbeda dengan malam Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jum'at. Waktu berputar sangat lama. Seolah-olah itu anugrah bagi dua insani yang sudah lama tak bertemu di kejauhan. Waktu bagi anak-anak yang berjuang dan terjaga hanya untuk mengerjakan sesuatu yang membuat mata mereka lelah di pagi hari.

Malam yang hidup.

Kini aku masih dalam kesendirian. Aku menunggu denting-denting pagi yang cerah dan kebahagiaan. Namun aku harus mati suri untuk menjelajahi mimpi yang membuatku jatuh tersungkur ke bawah alam sadar.

Malam yang hidup.

Kau menemaniku selalu. Aku bisa menumpahkan kekesalan hidup, kejengkelan, kegalauan tak karuan yang selalu menempel pada manusia belia, baik itu bujang maupun gadis.

Aku didepanmu, wahai layar putih. Berilah aku kebebasan untuk menodaimu dengan huruf-huruf hitam yang bergerak karena kecepatan tanganku yang menggelitiki badanmu. Karena kita mungkin takkan bertemu dimalam yang hidup ini.

Komentar

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Insekuritas dalam Berkarya

ZAP Rawamangun Pindah Lokasi, Tenang, Kliniknya Ada Dimana-mana Kok

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan