Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Peminta Sumbangan Masjid

Meringkuh dibalik hujan, lalu memeluk foto yang berisi pecahan kenangan. Tetapi diluar sana, tidak jadi hujan. Oh.

Aku ingin mengungkapkan isi nurani yang tak pernah dibuang ke kotak cerita maya ini. Yang ku pikirkan hanya memendamnya, lalu melupakannya. Atau dianggap tak penting. Mau tahu? Yang membuatku miris adalah, para peminta sumbangan untuk mendirikan masjid. Mereka memintanya kala siang yang mencekik dan mobil yang tak hentinya menyusuri jalan hampa.

Ya, mereka. Kadang aku berpikir sama seperti mereka.

"Kalo mau ngasih sumbangan, ya langsung ke orangnya, ke ketuanya. Biar dijamin."

Wah, begitukah? Supaya apa? Diingat? Bukannya sedekah itu untuk dilupakan selama kita menyedekahkan sedikit penghasilan atau rezeki? Entahlah...

Dan seorang ibu berkoar-koar dari mic. Ia berlindung di pos penjagaan. Suaranya! Mengiris hati yang bersembunyi dalam baja hitam; mobil. Sementara ibu-ibu atau bahkan bapak-bapak dan kadang anak muda ikut membantu, mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dengan gayung tak terpakai. Seikhlasnya.

"Makasih pak!" katanya sambil mengangkat lima jari.

Aku melihat dia dengan senyum ikhlas, tak pernah mengeluh walaupun debu menempel dipipinya. Bapak itu, ibu, dan pemuda yang sukarela berpanas-panasan. Yang didapat tak hanya dari satu mobil, tapi mungkin ribuan mobil (bahkan tak terhitung) yang rela memberi uangnya.

Ada sedikit bahagia diantara keresahan. Mengapa masih ada orang yang kadang tak peduli betapa susahnya peminta sumbangan itu sementara mereka asyik berpesta hingga malam. Masihkah ada yang peduli? :)

Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Insekuritas dalam Berkarya

ZAP Rawamangun Pindah Lokasi, Tenang, Kliniknya Ada Dimana-mana Kok

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan