Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Matematika Rindu

Mungkin, kita pernah mempelajari ilmu peta dan geometri. Untuk mengetahui bahwa bumi ini luas tanpa batas. Serta mempelajari bentuk bangun ruang. Membangun imajinasi berupa bangunan megah dan kokoh serta luas.

Mungkin, kita pernah belajar deret dan barisan. Untuk mengetahui seberapa jauh kaki melangkah, dan seberapa kali kesalahan terus dilakukan. Entah, data-data yang berulang kali terjadi. Kemudian jadilah kesalahan biasa bahkan menjadi kebenaran.

Mungkin, kita pernah belajar peluang. Seperti apa kesempatan diantara celah kemungkinan dari masalah yang sering terjadi.

Lalu, apakah hati juga ada unsur ilmu pemetaan bumi dan geometri, deret dan barisan, dan peluang?

Katamu, tidak ada. Kataku juga, tidak ada.

Tapi bagi orang perasa. Ada. Karena, ilmu itu tidak sekedar diktat kuliah atau buku pelajaran yang tampilannya monoton. Apalagi matematika. Bisakah kamu membayangkan hal tersebut? Imajinasimu bermain disini. Rasa sok tahumu sangat berperan disini. Kamu hanya butuh menyambungkan kabel satu dengan kabel lain. Atau menyambungkan tiga hal tersebut dengan dirimu sendiri.

Hatimu. Itulah dirimu. Bagaimana mungkin kamu bisa belajar matematika tanpa hati? Bagaimana mungkin kamu akan mengerti turunan yang berhubungan pula dengan limit? Bagaimana pula kamu bisa mengerti seluk beluk trigonometri tanpa mengetahui sifat-sifat mereka dan saudara-saudara dekat trigonometri seperti integral, limit, dan turunan? Bagaimana pula kamu bisa menghitung seberapa kali kamu melakukan kesalahan dan menghindarinya tanpa statistika peluang?

Apa kamu mau, jadi robot? Hanya menghapal rumus-rumus deret dan barisan, peluang, dan geometri?

Kalau kamu pandai deret dan barisan, kesalahanmu bisa dihitung seberapa jauh kaki melangkah untuk berpindah. Jikalau pandai geometri, ruang untuk berpindah itu sangat luas, tak terbatas! Kamu bisa melangkah sebebas dan sejauh mungkin! Bumi ini luas, seharusnya ilmu pemetaan bumi dan ilmu geodesi tak perlu ribet mengurus hal ini! Kalau kamu pandai peluang, kamu harus bisa memanfaatkan celah, semangatmu. Harus melangkah!

Apa kamu mau dipermainkan oleh hati yang menyesatkan kebaikan? Kamu mau rusak gara-gara kamu terlalu rindu? Ya, kamu tidak tahu dan dia (mungkin) tidak ingin tahu. Itulah rindu.

Terus apa hubungannya sama matematika tadi?

Sudah kubilang, rasa sok tahumu dibutuhkan disini. Kamu kan, bisa menyambungkan beberapa hal yang sulit dijangkau. Tiga hal tersebut sangat membantu meniatkan hati, menerima segenap hati, dan melangkahkan kaki untuk berpindah dan sebisa mungkin tidak melakukan kesalahan yang sama.

Rindu. Rindu tak bisa dibendung. Tetap saja banjir air mata, tak peduli bagaimana derasnya keras kehidupan. Rindu tak peduli matematika tadi, tak peduli kesalahan, dan manja kepada zona nyaman.

Selamat berkompromi rindu dengan matematika :P

Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Insekuritas dalam Berkarya

Terowongan Kendal Sudah Berubah, Yuk Naik MRT!

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan