Nadia K. Putri Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2013

Translate

Engineer and Programmer or Translator and Writer?

Apakah setiap orang punya jalannya masing-masing? Meski ia merasa salah langkah namun ia sangat menikmati dan mencintai apa yang membuat ia salah langkah.

Apakah setiap orang punya keahlian eksak? Kenapa hanya itu yang dipandang orang? Bagaimana dengan kemampuan bahasa dan sastra, yang sebenarnya mendukung semua orang untuk berkomunikasi?

Jadi, bagaimana?

Ada rasa iri ternyata. Menjadi programmer, teknisi, dan peneliti ternyata sangat menggiurkan dan menggoyahkan keyakinan saya untuk tetap bertahan di jurusan yang saya pilih. Ah, memang sih. Kemampuan analitis dan logika seseorang tidak bisa dipaksa. Namun bisa dilatih. Tapi, bagaimana jika kemampuan bahasa, menulis, membaca, dan menyukai sastra lebih dominan daripada apa yang saya inginkan?

Semua orang pernah mengalami ini. Saya yakin sekali.

Jadi? Jika kita menggabungkan semua itu, akan menjadi apa? Super? Hebat? Atau tertekan? Lihat saja nanti.

Selamat Liburan (Mahasiswa) :D

Menjelang liburan ini, banyak sekali kejadian yang kuhadapi dan itu sangat berharga ternyata.

Mungkin, hari Sabtu dan Minggu kemarin adalah hari menegangkan. Membuat pikiran terus berjalan. Materi yang diberikan dari Pandu Budaya ternyata membuatku berhenti bicara. Hanya otak yang riweuh mencerna.

Mungkin juga, lebih baik menjadi pemimpin bagi diri sendiri dibandingkan pemimpin untuk orang lain. Ehm, maksudnya, memimpin orang lain. Kenapa? You have your own answer, surely. Aku udah dapat materi tentang kepemimpinan, manajemen waktu dan manajemen konflik yang membuat pikiran riweuh. Gimana biar semua materi itu masuk dan sesuai sama satu yang introvert dan suka kedamaian ini.

Oiya, dibutuhkan juga kemampuan orasi atau yeah public speaking yang baik. Memang tak langsung bisa. Tapi, namanya belajar, pasti ada prosesnya. Lihat deh, nanti, pasti bisa berorasi atau public speaking-nya bagus.

Satu lagi! Konflik!

Konflik pengukuhan anggota Pandu Budaya cukup ricuh di Teater Daun. Ini membuat …

Bebas, Seriously?

Tuh kan. Tidak ada namanya kebebasan abadi. Apalagi keinginan untuk bebas seperti burung yang dilepas dari sangkarnya. Tidak ada!

Bebas sih bebas. Itu hanya istilah. Namun sesungguhnya diri ini masih diatur oleh seperangkat aturan. Supaya lebih teratur. Kebayang kan, bagaimana rasanya hidup bebas tanpa aturan? Padahal nyawa ini dititip pada diri ini dari Yang Diatas. Bisa-bisanya Dia mencabut nyawa, sekehendaknya. Bagaimana?

Bukan berarti saya hidup dalam tekanan. Tapi, ada perasaan bahwa semakin jauh dari orang tua dan rumah, makin takut melakukan pelanggaran yang merugikan diri sendiri. Sebelum terjadi dan merasakan betapa celakanya apabila menjadi korban.

Karena, ini kuliah men! Keras! Seperangkat aturan yang mengikat itu diharapkan membuat diri yang jauh dari mereka ini, tetap selamat.

がんばって ね!Tetap semangat (: