Nadia K. Putri Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2014

Translate

Hai, Mahasiswa Baru (Lolos SNMPTN) :)

Dan pada akhirnya, hari ini, Allah masih Maha Baik dan Maha Mendengar. Apa yang adik-adik kelasku ucapkan dan rapalkan ketika setiap ibadah 5 waktu mereka, untuk mencapai satu keinginan mereka.

Itu membuatku nostalgia setahun yang lalu. Bahkan sampai mengorbankan blog ini, rela tidak posting. Pasti kalo udah nostalgia, rasanya akan ingin balik ke masa yang penuh perjuangan masuk PTN atau tidak ingin mengulangnya, cukup sekali seumur hidup saja setelah dimaknai setahun ini. Banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu, tetapi (dan semoga) tidak terulang di masa ini. Banyak sekali. Sampai saya duduk di meja belajar ini dengan utang-utang tugas dan ancaman UAS. Hehe :))

Nostalgia setahun yang lalu, terulang kembalil; SNMPTN. Lalu akan terulang lagi; SBMPTN, sampai saya benar-benar diterima di Telkom Bandung, UIN Jakarta dan UI. Antara, malu dan benar-benar merasa bersalah. Mengapa saya harus bernostalgia dengan hal yang sama, yang ada sangkut-pautnya dengan minat seseorang serta…

Belum Siap? Yakin, hah?

Teh hijau memang pahit, tapi menyenangkan bila terus dinikmati. 
Mungkin seperti masa lalu yang dimiliki seseorang. Pahitnya masa  lalu membuat dia selalu bergerak dan tak ingin diam. Seolah-olah melupakan masa lalunya dan hatinya yang sakit. 
Kini ia meringkuk bingung. Ia berhadapan dengan orang tersebut, yang pernah menyakiti hatinya. Apa daya, hanya tulisan dan menarikan jari-jari di atas keyboard untuk membuang sampah pikiran semua itu. Memang galau. Logika selalu menang daripada perasaan. Tapi, ia ingin logika dan hati beriringan, bahkan memenangkan hati daripada logika, agar logika menjadi pembelajaran dan kausalitas yang sudah dialami olehnya. Ya, iya meringkuk bingung. Lagi. Sama seperti 4 bulan yang lalu.
Kini ia berhadapan dengan seabrek kegiatan, hingga ia sakit. Darah rendah membuatnya malas berpikir keras mengenai pergerakan politik nasional dan kampus, atau kajian strategis yang sering dibahas dalam lingkaran ketika senja mulai menyambut dirinya. Di setiap lesehan, di s…

Surat untuk Mahkota

Ih!

Kalaulah siang ini tidak mencekam hati dan pikiran kita, mungkin akan aku hancurkan siang ini, dengan beberapa kekuatan yang kita satukan.

Ih!

Lalu? Kita harus apa?
Berlindung di bawah rindangnya pohon yang rimbun,
Berdua sambil menikmati langit biru awan yang peduli pada kita,
Hati yang tak akan pernah bersatu,
Awan-awan bergerak merekam kegiatan kita,
yang sedang menghisap sari-sari terindah dari mahkota.

Ih!

Lalu kita sedang melakukan apa, sih?
Aku mengisap sari-sari itu dengan kepuasan tersendiri,
Tak tertahankan,
Menyenangkan,
Lalu aku terlena, seperti berada di surga dunia.
Sari-sari itu begitu indah....

Namun,

Siang mulai kabur, mentari mulai menurun.
Apa kabar kerja-kerja kita? Apakah sari-sari masih ada dalam mahkota?
Tidak, mereka menutup diri dengan lapisan terluarnya
Sakit, perih, bila terkena,

Namun, apalah gunanya jarum suntik kami yang kuat dan tajam ini.
Mahkota, kamu terlalu berharga untuk dihisap.


Tertanda,  Lebah-lebah bejat.