Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Belum Siap? Yakin, hah?

Teh hijau memang pahit, tapi menyenangkan bila terus dinikmati. 

Mungkin seperti masa lalu yang dimiliki seseorang. Pahitnya masa  lalu membuat dia selalu bergerak dan tak ingin diam. Seolah-olah melupakan masa lalunya dan hatinya yang sakit. 

Kini ia meringkuk bingung. Ia berhadapan dengan orang tersebut, yang pernah menyakiti hatinya. Apa daya, hanya tulisan dan menarikan jari-jari di atas keyboard untuk membuang sampah pikiran semua itu. Memang galau. Logika selalu menang daripada perasaan. Tapi, ia ingin logika dan hati beriringan, bahkan memenangkan hati daripada logika, agar logika menjadi pembelajaran dan kausalitas yang sudah dialami olehnya. Ya, iya meringkuk bingung. Lagi. Sama seperti 4 bulan yang lalu.

Kini ia berhadapan dengan seabrek kegiatan, hingga ia sakit. Darah rendah membuatnya malas berpikir keras mengenai pergerakan politik nasional dan kampus, atau kajian strategis yang sering dibahas dalam lingkaran ketika senja mulai menyambut dirinya. Di setiap lesehan, di setiap waktu. Meski ia terus menggurat pensilnya, menulis ratusan atau ribuan karakter Han. Memasang headset, mendengar rekaman untuk dihapal. Kurang apa lagi ia?

Mengapa ia tidak siap? Liburan sebentar lagi tiba. Ia tinggal belajar hal-hal baru, programming, menulis, berlari kesana kemari mengejar bola basket, memutar komplek perumahan sejauh 3 km dengan sepeda bututnya. Kurang apa lagi? Kurang siap apa lagi? Kurang siapkah hatinya untuk selalu bergerak tanpa memikirkan apapun karena umur. UMUR!

Mengapa pula orang yang pernah bersama dengannya belum siap akan hal-hal yang berkaitan dengan hati ataupun cinta? Cinta tidak nyata? Cinta abstrak dan absurd? Cinta mengganggu... di setiap kegiatan? Cinta hanya berbatas antara kisah kasih laki-laki dan perempuan? Lalu cinta itu apa? 

Ia dan orang tersebut adalah salah satu kisah dari segala kisah. Mereka yang tanggung umurnya, ngotot dengan idealisme masing-masing. Kemudian berbentur dan bertemu dalam jaringan dunia maya. Bercerita bahwa, "belum siap". 

Lantas, mengapa orang tersebut datang dan memainkan hati perempuan itu? 

Dan mengapa perempuan harus menanggapinya dengan penuh suka cita?

Salah. Bisa dibilang. Orang yang melihat dari sisi lain, tidak salah. Atau, narator dalam tulisan ini juga tidak tahu siapa yang salah? Cinta tidak sesempit ini men. Tapi bisa berbuah petaka ketika janji-janji datang seperti calon presiden yang bergerak memasuki kampus-kampus. 

Mana ada reformasi cinta? Bohong. Haha. 

Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Terowongan Kendal Sudah Berubah, Yuk Naik MRT!

Insekuritas dalam Berkarya

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan