Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Efek Hiatus dan Instagram

Setelah hiatus beberapa bulan....

Jika awal membuat blog ini bertujuan untuk menulis dan berbagi pengalaman, maka selanjutnya akan mengalami kebosanan-kebosanan. Entah itu berhenti menulis, atau merasa insecure, atau bahkan mencari kesibukan lain.

Kesibukan lain, namanya fotografi pun ditekuni. Hingga kini, menjadi fotografer sungguh mudah, tapi pakai tanda petik ya. Coba deh browsing sebentar aja, ada banyak wadah untuk menampung karya dan berkumpul dengan sesama fotografer. Satu di antara yang tenar adalah Instagram, sisanya adalah khusus bagi fotografer yang serius dan benar-benar profesional.

Awal masuk kuliah tahun 2013 lalu saya mendaftar di Instagram. Cukup menarik. Aplikasi foto yang dahulunya dirancang untuk pengguna iOS, kemudian mencari pasar pengguna Android. Ya, di smartphone Android-lah saya menggunakan Instagram. Tentunya, harus edit dan convert foto dari kamera lalu ke smartphone yang bersistem operasi user-friendly itu. Dari nol sampai pro, saya istiqomah menggunakan aplikasi cetar itu. Sampai sekarang.

Tapi sekarang, hm, beberapa hari ini ada yang berbeda. Mulai dari memberatkan memori pengguna. Mungkin, si pengguna harus upgrade OS dan smartphone supaya fitur-fitur aplikasi ini mendukung. Lalu, konten-konten dalam fitur pencarian benar-benar disrupt, mulai dari foto dengan konten positif sampai ke yang provokatif. Foto dan konten yang provokatif ini membuat saya gerah, dan merasa Instagram udah ga asik lagi, yang dulunya fokus untuk fotografer sekarang malah untuk yang abal-abal. Yah, sedih sih. You know lah, mas dan mbak pembaca bisa cek konten di fitur pencarian dalam akun masing-masing.

Beruntungnya, beberapa wadah untuk fotografer tetap eksis loh! Bisa dibilang, bersih dari konten provokatif yang bersifat opini parsial. Sebut saja:











Kreavi (wah ada fotografinya loh, serius, selain desain juga), 

dan masih banyak lagi! Atau, wadah yang sangat-sangat profesional seperti:

Dribble atau 



Niice.co pun juga benar-benar keren untuk unjuk karya. 

Di sanalah para kreator, khususnya fotografer berkumpul. Memang sih, tetap perlu juga media sosial seperti Instagram ini untuk promosi.

Sampai sekarang, saya terus berusaha mengurangi intensitas membuka Instagram. Bukan karena ingin merugikan pihak aplikasi itu, bukan. Tapi untuk meningkatkan fokus latihan dan berkarya. Bisa saja konsentrasi kreator, termasuk mbak dan mas pembaca, buyar karena membuka hal-hal lain. Misal, seharusnya karya sudah launched, malah postponed karena multitasks ini dan itu.

Kalau disimpulkan, semua media sosial, apapun itu, ternyata tergantung pengguna. Apakah mau mengendalikan, atau dikendalikan. Kalau mau ekstrim, report saja konten-konten yang membuat gerah atau menggelitik daya kritis pengguna. Asal objektif ya, hihi. Sebagai penutup, saya akan lanjut belajar nge-blog seperti waktu SMP lagi. Mengingat nge-blog juga melatih daya konsentrasi dan mengasah kemampuan menulis esai on the spot.

Tetap semangat! 

Komentar

  1. Saya masih pakai instagram, buat nyampah foto di sana hehehehe
    Belajar juga bikin foto bagus, tapi belum bisa-bisa huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pakai instagram juga mbak, buat belajar bikin portofolio. Pelan-pelan mbak belajarnya hehe. Lebih bagus, sering-sering lihat akun fotografer mbak, supaya referensinya banyak

      Hapus

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Terowongan Kendal Sudah Berubah, Yuk Naik MRT!

ZAP Rawamangun Pindah Lokasi, Tenang, Kliniknya Ada Dimana-mana Kok

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan