Insekuritas dalam Berkarya

Wow!

Saya seperti sedang menciptakan istilah baru: insekuritas. Oh iya, mari kita cek di KBBI terlebih dahulu, apakah ada kata insekuritas.





Oke, nggak masalah. Saya menciptakan kata ini karena dimulai dari kata insecure (adjectives) dan insecurities (noun) dalam bahasa Inggris. Insecurities adalah perasaan tidak nyaman dengan kecurigaan tertentu, sehingga dapat mengakibatkan rasa minder untuk unjuk diri atau tampil. Insekuritas juga menunjukkan rasa tidak percaya diri dalam hal tertentu. Secara definisi resmi, mari kita lihat dari kamus Oxford dan Merriam Webster. 





Mengenai insekuritas, atau sebutlah kecemasan (dalam konteks tulisan ini), ternyata sering dialami oleh kreator seperti penulis, fotografer, pelukis, desainer atau mungkin mas dan mbak pembaca yang sedang menjalani suatu usaha kreatif. Rasa cemas itu kerap kali mengganggu dan menghambat kreatifitas karena dilandasi oleh ketakutan atau fear. Buktinya, jika seorang pengguna Instagram mempublikasi karya foto setiap 2 hari sekali, ia akan berasumsi.

"Bakal di-like gak ya?"
"Followers gue kok nurun?" 
"Besok pas ketemu di kampus/kantor, tanggapan mereka gimana ya?" 

Terus begitu sampai kecemasan itu berbuah ketakutan dan tidak berkreasi lagi. Ternyata, saya pun menemukan tulisan seorang fotografer perempuan yang juga pernah merasakan hal yang sama. 


Blog pribadi fotografer Nicoline Patricia Malina. Sekilas tentang dirinya di ulasan sebuah blog

Manusiawi memang, tapi rasa cemas itu bisa diakali dengan pikiran positif dan evaluasi diri. Atau, tetap berkarya dengan dukungan orang-orang terdekat melalui masukan yang membangun. 

Lantas, bagaimana jika insekuritas itu dihadapi sendirian? 

Saya pernah merasakannya ketika ingin melanjutkan nge-blog di sini. Rasa insecure dimulai ketika viewers menanjak tidak wajar, padahal mah isi postingannya full random post dan curhat pribadi. Apa yang membuatnya ramai dikunjungi? Satu pos tentang Hak-Hak DPR. Pos tersebut menjadi buah kecemasan saya, apakah blog ini akan dilanjutkan dengan tulisan pengalaman pribadi atau tulisan opini dengan riset dan sumber. Saya diamkan blog ini sampai 3-4 bulan lebih, otomatis jumlah pos pun menurun.

Tetapi, rasa cemas itu semakin besar ketika saya surfing blog mengenai berpenghasilan melalui blog. Sontak saya semakin pusing karena blog pada dasarnya untuk hal pribadi, lalu bergeser menjadi hal-hal komersil. Saya memutar otak agar tulisan dalam blog saya tetap hidup dan timeless, atau berkarya di tempat lain dan mempromosikannya di blog ini. 

Lama-kelamaan, saya sedikit demi sedikit dapat mengatasinya. Dimulai dari vakum atau hiatus dari blogger.com dan menekuni hobi fotografi. Kemudian, menemukan Instagram dan wadah fotografi lain seperti National Geographic Yourshot, Behance, maupun Shutterstock (Sebentar lagi mau apply di sana. Mohon doanya). Setelah itu, fokus di Instagram dan Behance untuk mengasah kemampuan fotografi, sembari riset-riset bahan skripsi (eng ing eng). Dari banyak wadah tersebut, akhirnya saya sadar bahwa menulis, apalagi menulis esai on the spot nih, itu penting banget! Oh my Allah. 

Menulis adalah bagian dari konten fotografi. Dan menulis esai on the spot, adalah tantangan terbesar bagi scholarship applicants (pelamar beasiswa). No. Pasti masih banyak waktu dan kesempatan latihan. 

Maka dari itu, insekuritas atau rasa cemas tersebut berbuah bara semangat untuk berkreasi. Mengingat tak semua orang mau repot-repot jadi kreatif dengan reward yang seberapa. Setidaknya, membangun branding, kepercayaan, dan apresiasi dari kreator global menjadi batu loncatan untuk mengatasi rasa cemas atau insekuritas tersebut. 

Bagaimana denganmu? 

Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri