Perjalanan Malam ke Maze Market

Tiga hari lalu, sahabat saya, Cordova, bercerita bahwa ada tempat foto yang seru dan objeknya layak dimasukan ke portofolio. Awalnya, dia menonton vlog Raditya Dika tentang Maze Market di Jalan MH Thamrin, Cikokol Tangerang. Tempat ini dipenuhi dengan lampion-lampion ala-ala negeri seribu bambu gitu. Ketika sahabat saya menonton vlog ini, dia terkagum-kagum sampai rasanya pengen banget ke tempat itu. Dan promosi kalo mengunjungi tempat tersebut nggak bakal nyesel. Beneran. Akhirnya, dia mengajak saya pergi ke tempat itu.



Sebagai sesama pekerja serabutan fotografi (untuk stok foto), ternyata benar tempat ini keren banget banget! Nggak disangka, perjalanan ke tempat ini pun luar biasa dan cukup terbayar dengan pemandangan yang disuguhkan. Tapi, kita mulai dari rute perjalanan dulu deh.

Rute kami diawali dari titik poin Stasiun Pondok Cina pukul 5 sore. Ya iya dong, berangkat dari kosan  ini harus selalu membiasakan diri hemat bensin: cari jalur ke stasiun terdekat. Saking iritnya, kami yakin kalo paling deket itu ke Stasiun Pondok Cina. Padahal Stasiun UI juga bisa loh. 

Inilah alasannya:
- Menuju Stasiun Pondok Cina dari dalam komplek UI, hanya menyeberang rel. Kemudian parkir di tempat penitipan sepeda motor. Alternatlif lain, bisa parkir di dalam area parkir stasiun Pondok Cina.
- Tidak putar jauh pake banget via Jalan Margonda. Nggak disangka ketika lewat sana, bisa kena macet. Bahaya sih, apalagi kalo berangkat sore.

Oke, setelah sampai di Stasiun Pondok Cina kami naik kereta arah Jakarta Kota. Tapi, nanti transit di Stasiun Manggarai untuk ganti kereta ke arah Stasiun Sudirman, Tanah Abang, atau Duri (Bisa pilih salah satu. Biasanya kereta arah ini satu paket dengan jalurnya) yang ada di jalur 5. Sampai di Stasiun Manggarai, kami turun dan pindah ke jalur 5.

Ketika kereta Tanah Abang-Duri ini sampai di jalur 5, oh man, gila, seperti biasa ya jam-jam sesak-padat-zombie-brutal, yaitu jam 6.15 malam. Kereta ini penuh. Kami berdua masuk ke gerbong campur. Cordova awalnya masuk duluan dan saya bingung kalo masuk masih muat atau nggak (ya muat sih, tapi agak gimana gitu kan). Saya pun masuk dengan memaksakan diri. Ketika melangkah masuk, ada sesuatu yang jatuh, entah hape orang atau benda warna hitam yang jatuh ke bawah rel. Mungkin jatuh di selokannya. Saya masuk dengan rasa yang bikin bad mood. Kalo bukan karena kerja untuk stok foto, gue ga bakal gini. Oke well, kami menikmati perjalanan di jam-jam padat penumpang tersebut.

Kami baru berasa lega plong ketika sampai di Stasiun Duri. Itu lumayan banget buat napas dan AC jadi dingin. Nah, di stasiun ini kami turun dan berganti kereta di jalur 3 ke arah Tangerang. Durasi tunggu kereta ini berangkat sekitar... ya... 10 menitan lah. Masih di gerbong campur, saya melihat wajah-wajah yang asing. Maklum, pergi ke daerah yang baru banget dikunjungi, malam pula. Terlihat wajah-wajah lelah sehabis pulang kerja. Wajah-wajah yang mirip dengan sahabat saya, maksud saya, keturunan Cina, yang juga ternyata sering saya temui di stasiun sebelumnya. Bukan bermaksud gimana, ternyata masuk ke daerah yang agak ke barat, seperti Jakarta Kota, Tanah Abang, Duri, dan seterusnya banyak ditemukan wajah-wajah yang mirip dengan sahabat saya ini. Dan saya teringat saat membaca artikel-artikel sejarah Cina, ternyata daerah-daerah inilah yang dahulu menjadi pusat peninggalan kebudayaan dan persebaran penduduk keturunan Cina. Malam yang cukup menarik, karena wajah-wajah inilah juga ikut membaur seiring dengan bertambahnya umur negara kita, bahkan lebih.

Oke lanjut.

Naik kereta ke Stasiun Tangerang sebenarnya agak creepy. Mengapa? Pertama, mungkin karena malam hari dan takut nggak keburu sampai di lokasi. Kedua, karena jarak antar stasiun memakan waktu 3 menit lebih. Ah, mungkin karena baru pertama ke Tangerang via kereta kali ya. Tapi bener loh, coba deh iseng ke Tangerang. Saya sangat menyarankan kok. 

Waktu tempuh dari Stasiun Duri ke Tangerang sekitar setengah jam lebih. Setelah sampai di Stasiun Tangerang, yang pertama banget dicari adalah warung nasi. Kami butuh makan malam. Jelas, ini energi dasar supaya nggak pusing saat hunting.

Dari Stasiun Tangerang ke Maze Market, ada beberapa alternatif cara tempuh. Kami menggunakan aplikasi transportasi online dengan pertimbangan jarak tempuh sudah dihitung otomatis beserta ongkos, sehingga dapat menghemat biaya perjalanan. Jarak tempuh adalah 6,7 km. Bisa juga sih jalan kaki, naik sepeda portable, dan transportasi lainnya. Tapi kalo untuk di malam hari, lebih baik berangkat 2-3 jam sebelum waktu buka Maze Market (jam 19.00 sudah buka) untuk menghindari macet, kereta padat, dan sebagainya.

Sampailah kami di Maze Market. Maze Market berada di Jl MH Thamrin Cikokol Tangerang. Maze Market ini awalnya semacam food court, berdasarkan hasil browsing di Google. Di akun Instagram Maze Market, food court ini disulap menjadi lahan untuk Festival Lampion Indonesia (Indonesia Lantern Festival). Festival ini dimulai dari 18 Agustus 2017 yang dimeriahkan oleh penduduk setempat yang disertai dengan acara-acara hiburan dan artis ibukota.

Di festival ini, saya mengamati bahwa ada mata acara tertentu yang mengenalkan kebudayaan-kebudayaan Cina. Seperti aksi tukar wajah (face change, menggunakan topeng yang disertai dengan aksi tarian maupun jurus-jurus beladiri), dan lampion yang menampilkan pesona Asia Tengah (Btw, sepengetahuan saya Cina juga melakukan sebuah kerja sama dengan negara-negara di Asia Tengah).


Selain itu, terdapat unsur warna merah yang menjadi identitas budaya negara Cina



Kumpulan lampion yang hampir membentuk patung-patung

Simbol ayam

Simbol panjang umur

Sampai simbol keberuntungan dalam karakter Han   福 (dibaca fu). 

Di malam hari, semua lampion terlihat indah dan megah, saya sangat menyarankan mengunjungi tempat ini di malam hari. 

Hampir 1 jam berkeliling, kami kehausan. Saya cepat banget haus. Pas mau ambil botol minum, eh nggak ada. Duh, mati. Saya bawa botol minum sebesar 800 ml untuk perjalanan jauh, untuk menghemat juga sih hehe. Saya rasa sih terjatuh saat di Stasiun Manggarai, tapi... Hm, ikhlasin aja deh. Biasanya kalo kehilangan botol minum begitu, nggak bakal ketemu walaupun udah melapor ke pusat informasi di Stasiun Manggarai. Meski ada yang ketemu, tapi kondisinya tidak sebagus seperti pada awalnya.

Nggak apa-apa lah, yang penting apa yang diekspektasikan sesuai, bahkan lebih. Efektif banget untuk berfoto di tempat ini. Selamat berkeliling!

---

Lanjut ke posting berikutnya. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri