Petualang Sehari Mendadak


Kebayang nggak, kalau suatu ketika kamu mendapat pengumuman menang sebuah lomba dari posel (pos elektronik; e-mail), dan lombanya diadakan keesokan harinya? Kalau lokasi lomba dekat atau masih bisa dijangkau dari rumah sih nggak masalah. Kalau udah harus menyeberangi ibu kota provinsi? Wah, mengikuti lomba H-1 jadi kacau karena bingung memutuskan.

Suatu hari, kejadian yang diibaratkan di atas terjadi begitu saja kepada saya.


Awalnya, seneng banget ketika dapet kabar dari rekan tim yang mendapat posel, kalau tim kami lolos 30 besar di sebuah acara lomba startup tingkat nasional. Senang banget! Standar lah ya, kaget dan nggak percaya gitu. Tahu-tahu, saya kepikiran, ini lombanya di mana, mulai acara kapan, dan pesan tiket pesawatnya gimana.

Pertama, ini adalah lomba yang diadakan di luar Jakarta. Wah kaget dong. Lah terus di mana? Di Surabaya. 


Literally nggak kebayang kenapa kok bisa nyasar sampai Surabaya ini tim. Ternyata, rekan tim saya terpaksa mendaftarkan ke lomba tersebut dengan lokasi di Surabaya. Acara lomba yang sama dengan lokasi di Jakarta, masa seleksinya sudah habis, sehingga nggak mungkin registrasi ke situ. Akhirnya, dipilih di Surabaya karena masih bisa dijangkau kereta api dan pesawat. Durasi perjalanan dengan kereta api adalah 12 jam, sedangkan pesawat 1-2 jam.

Bukannya melanjutkan rasa senang dengan selebrasi, malah membombardirnya dengan pertanyaan bersifat menyelidik, misal nginep di mana? Atau, di Surabaya ada transportasi online nggak? Tahu rute angkot dan bayar berapa nggak? Ntar ribet nih izin sama orang tua, atau bahkan.. Kok mendadak banget sih dikabarinya? Dan lain-lain. Agak gimana sih, tapi bisa ngebayangin gimana rasanya seorang anak yang masih memiliki orang tua, dan terlebih agak over protektif. Skill lobi dan negosiasi harus tingkat dewa nih.


Akhirnya, kami berdua berunding dan membuat kesimpulan final: naik pesawat tanpa pamit (basa-basi, you know) ke ortu masing-masing. Agak berbahaya sebenarnya. Let’s say, if we are in overthinking position, pesawatnya jatuh karena nabrak Gunung Semeru, atau nabrak pesawat UFO. Perjalanan ke bandara malah batal karena kecelakaan di jalan tol. Heyah, semua itu beresiko, apalagi kalau belum dan tidak pamit ke orang tua. Serba salahnya, mereka pun belum tentu memberi izin karena apa yang kita utarakan belum tentu dimengerti dalam waktu sesingkat-singkatnya. Sedangkan acara lomba diadakan tinggal beberapa jam lagi dari hari kami berunding.

Lomba startup men. Belum tentu juga ada orang tua yang cepat mengolah dan memahami informasi. Kalau bilang “Ada lomba mak”, ya lomba apa? Duh, sabar haha.

Oke, lanjut! Di hari eksekusi, tepatnya hari Sabtu, sebagai hari keberangkatan plus hari acara lomba berlangsung, kami yakin bahwa perjalanan kami dilindungi oleh Tuhan YME, pulang pun demikian. Mulai dari naik pesawat saja...


Kami memilih harga tiket termurah dengan waktu keberangkatan paling awal. Dengan harga tiket sekitar Rp 300.000-an dibagi dua orang, dan waktu keberangkatan pukul 5.55 pagi, kami mendapatkan golden ticket dengan penuh rasa syukur. Pesan pakai apa? Saat itu, kami butuh yang dipercaya dan cepat, kalau ada apa-apa masih bisa bertanggung jawab: Traveloka. Tapi...... bayarnya juga deg-degan sih, soalnya dikasih timer sekitar satu jam.

Dan di sinilah penting banget punya tabungan cadangan, serta aplikasi mobile banking bagi nasabah yang hobi mager keluar kayak saya ingin praktis dan cepat. Alhamdulillah wa syukurillah. Semoga perjalanan ini menyenangkan.

Tips dari kami yang mendadak jadi bondo nekat:
a. Pilih penyedia jasa jual-beli tiket pesawat yang terpercaya, bertanggung jawab, dan fast-response. Bisa melalui agen atau aplikasi dari gawai (gadget) masing-masing.

b. Cari jadwal penerbangan keberangkatan paling pagi. Biasanya, harga tiketnya lebih murah karena pesawat baru akan melakukan penerbangan di hari tersebut. Semakin siang dipesan, kemungkinan semakin mahal. Tapi, harga tiket pesawat juga fluktuatif loh. Jadi, waktu pemesanan juga berpengaruh. Misal, waktu pesan tiket di H-1 keberangkatan adalah malam hari, tepatnya sehabis magrib. Mungkin akan dapat harga tiket murah, karena durasi antara pemesanan tiket dan keberangkatan hari berikutnya masih panjang.

c. Siapkan tabungan cadangan untuk keperluan mendadak, misalnya untuk keperluan mengikuti lomba seperti ini. Tabungan ini setidaknya dapat menutupi kekurangan biaya atau biaya tidak terduga. Jumlah nominal tabungan adalah tergantung kamu bagaimana menabung, juga kebutuhan untuk mengeluarkannya. Jangan lupa sediakan aplikasi mobile banking di gawai untuk mempermudah mobilitas dalam keadaan tergesa-gesa.

d. Buat rincian informasi daerah yang akan dikunjungi, mulai dari transportasi, lokasi rumah makan beserta harga, makanan khas, tempat ngehits, ATM dan tempat ibadah terdekat, rumah sakit atau klinik, kantor polisi, dan alamat saudara atau kenalan di daerah tersebut. Saat ini, sudah ada teknologi yang memudahkan seperti peta online. Gunakan semaksimal mungkin untuk perjalanan yang menyenangkan.

e. Pamit ke orang tua untuk mengabari mereka. Terlebih untuk perjalanan mendadak, tetap diberitahu meskipun proses lobi dan negosiasi agak alot. Siapa tau, kalau udah ngabari, perjalanan kita akan diridhoi.

Dalam perjalanan waktu itu, kami ternyata tidak menginap, baik rekan tim menginap di homestay maupun saya menginap di kos saudara perempuannya. Karena, waktu lomba cukup sebentar dan punya waktu panjang untuk melakukan hal lain, khususnya pulang lebih awal. Lumayan banget bisa menghemat biaya. Kecuali, kamu dan rekan tim lomba bersedia untuk extend satu hari menginap.

Perjalanan sehari tanpa menginap memang melelahkan, tapi bisa diimbangi dengan makan yang berkarbohidrat dan mengandung protein, mengurangi rasa tegang dan stres, serta menikmati proses perjalanan.

Well, selamat menjadi petualang sehari mendadak :D 

Komentar

  1. Gak bisa aku kalau perjalanan sehari gini, anak udah dua wakakaka... Kemana-mana wajib pamit donk, kalau beneran pesawat nabrak UFO pie hahaha.. Domain baru ya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk kalo udah punya anak, pasti beda deh mbak gaya perjalanannya. Siap, next time wajib pamit :D

      Hapus
  2. aku tadi drop comment lewat akun wordpress yang satu lagi, tapi ga tau masuk apa engga. -_-

    ini gimana kelanjutan ceritanya? lombanya gimana? menang ngga? lomba startup apa? bisikin dooonk. :P

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri