Serunya Ikut Seminar Compfest 9 2017

Akhir bulan September lalu, saya mengikuti sebuah seminar dari Compfest 9 tentang “Ayo Bangun Startup di Bidang Sosial!”, bahasa kerennya “Social Innovation Startup: Making Impact for Society and Environment”. Seminar ini menghadirkan pembicara yang berpengalaman di bidang startup, Lahandi Baskoro, sebagai Direktur Inkubator Bisnis Trilogi dan moderator, yang sedang merintis startup, Cordova Putra Handri Ansyah aka partner tim animator dan videografer saya waktu itu. Whoaa so cooolll. Btw, Baik Kak Lahandi dan Cordova adalah orang yang sama-sama memiliki minat di bidang startup. Perbedaannya, Kak Lahandi memberikan wadah untuk pengembangan bisnis, sedangkan partner saya ini, Cordova, masih mengembangkan purwarupa produk (product prototype) tahap awal (sebut saja Alpha Stage).

Seminar ini full of inspiration.

Cepat banget yak ngasih kesimpulan.

Jadi gini

Awalnya Cordova dapat undangan resmi dari panitia Compfest 9 via jejaring sosial bisnis, LinkedIn. Dia kaget karena tiada angin tiada hujan dikontak oleh orang asing via pesan LinkedIn. Siapa yang gak kaget ya. Saya mendengar cerita itu pun, langsung flashback ke memori pertama kenalan dengan bocah pentul ini. Iya pentul, karena dia lasak dan kreatif. Sampai ditemukan orang lain di LinkedIn.

Seperti yang readers ketahui, umumnya LinkedIn ini betul-betul memanfaatkan jejaring sosial untuk merekrut rekan tim, profesional, maupun karyawan baru. Nah, profil diri dalam LinkedIn bisa dipercantik atau diisi dengan pengalaman-pengalaman profesional, sehingga memungkinkan perekrut untuk melihat profil tersebut dengan cepat. Mirip screening CV lah, tapi ini via online. Bagi yang beruntung, mungkin ada tuh pekerja Google yang mampir bentar mengintip CV mini kita, atau bahkan dikirimi pesan. Wow, mantap! Harus manfaatin LinkedIn banget nih. Becanda.

Setelah saya tau latar belakang Cordova yang dibilang “cukup berpengalaman” dan “semi-profesional” di tingkat mahasiswa, saya langsung “oh” aja sambil kagum. Mau banget dong kayak gitu.

Kemudian, dia dikirimi pesan atau di-chat oleh seorang panitia Compfest 9. Ditawari gini.

“Lo mau nggak jadi moderator acara kami?”
“Mau dong, gue bersedia banget.”
Maksudnya, “Oh baik saudari X, acaranya kapan ya?” Dan bla bla bla.

Btw, yang di atas itu cuma ilustrasi ya. Jangan dianggap serius. Anggaplah dalam konteks profesional dan bahasa yang pantas.

Ujung-ujungnya sih nerima setelah saya beri saran “Ikut aja. Lumayan loh buat nambah relasi dan ilmu baru.” Awalnya Cordova bingung. Iya sih, namanya juga mahasiswa tingkat akhir. Mungkin saja sibuk merintis startup, cicil proposal skripsi, atau update Youtube demi pundi-pundi rupiah di masa depan yang lebih baik. Setelah setuju, Cordova menawarkan undangan basa-basi ke saya.

“Lo mau ikut nggak?”

Yah, pengen nolak sih sebenernya. Sabtu itu hari sakral untuk mencicil tugas, mempersiapkan sketch kasar terjemahan empat mata kuliah wajib full Chinese (and Classical Chinese whoahm). Namun, demi memperoleh wawasan baru dan mengosongkan gelas, maka saya menerima dan ikut ke seminar Compfest 9. Wow! Nemenin moderator itu rasanya....

Baiklah. Berhubung tema seminarnya cukup menarik, saya ikut.

Hujan plus Telat

Masalah banget tuh waktu itu. Hari Sabtu dengan waktu turun hujan yang tak diduga. Masa baru mendung dan turun hujan ketika motor masuk wilayah Pasar Minggu? Jauh-jauh dari gerbang kampus sambil ngebut lalu berhenti karena hujan? Hampir aja kami telat gara-gara saya terdemotivasi untuk bepergian keluar alias males gerak. Allah membersamai kami, para pencari ilmu. Ceilah. 

Dengan ilmu diplomasi, Cordova mengirim chat via Whatsapp pada LO (Liaison Officer) pantiia, memberitahukan bahwa ada force majeur yang membuat kedatangan melebihi waktu yang diperkirakan, yaitu ban (nyaris) kempes dan hujan rintik di wilayah Pasar Minggu. Soalnya, kalau sudah memberi konfirmasi kehadiran moderator dengan jelas, ada dua kemungkinan yang terjadi. Amit-amit nih ya: harus ada backup moderator, atau moderator benar-benar datang terlambat dan membuat acara berjalan terlambat pula. Alhamdulillah-nya, moderator yang ngebut motor ini datang tepat waktu di Balai Sudirman, Tebet.

Banget-banget deh ngebutnya. Saya sebagai penumpang stres. Selain menjadi navigator, juga harus jaga keselamatan supaya handphone tidak jatuh di jalan. Iya, ini adalah alat utama pelacak peta di Jakarta. Sekali jatuh, habis lah saya. Kaca iPhone yang hancur dengan remah-remahnya hanyalah kenangan belaka. Saya juga sempat marah dan berdebat dengan moderator satu ini gara-gara penunjuk jalan di Google Maps berbeda dengan di kenyataan.

Iya dong. Jalanan memasuki kawasan perkantoran Jalan Rasuna Said itu sedang ada proyek LRT. Sehingga betul-betul menutupi jalan arah belok kanan menuju Tebet. Akhirnya, kami memutar jauh sekali. Sampai ketemu jalur alternatif untuk ke daerah itu.

Ternyata nemu. Alhamdulillah.

Kedua kali lah mata saya memandang betapa besar dan megahnya Mall Kota Kasablanka, yang konon ada klinik praktik underarm laser (you know what I mean). Bukan norak atau kampungan. Namanya navigator, perlu menghapal landmark building in case tersesat.

Dan sampailah di Balai Sudirman dengan selamat dan sentosa. Dengan wajah  sumringah, kami buru-buru memarkirkan motor di basement karena hampir saja jam menunjukkan pukul 13.25. Cordova memberi peluang dan kesempatan sampai di lokasi pada pukul 13.30 (kalau kelewatan, cari backup moderator). Setelah itu, LO panitia pun datang menjemput kami untuk menunjukkan jalan menuju dalam gedung, tepatnya di ruangan seminar.

Tadaa!

Memasuki ruang seminar. Saya mendapati wajah-wajah geek penuh rasa ingin tahu. Wajah-wajah geek milenial yang haus akan informasi baru. Ya begitu lah, saya pun juga pernah begitu. Tapi memang seru kan?

Saya pun duduk di sebelah Cordova, sedangkan sebelahnya Cordova adalah Kak Lahandi. Duduk di depan dong. Saya agak gak enak gitu soalnya cuma nemenin, pun nggak daftar sebagai peserta. Alhasil, ketika LO panitia memberikan cemilan dan makan siang pada Cordova, saya yang megangin semua makanannya. Jauh-jauh disambut dengan megangin makanan orang.

Begitu acara dimulai, naluri fotografer saya muncul berapi-api. Pertama, ketika Kak Lahandi memulai presentasi dengan tampilan slide wajah Elon Musk.


Elon Musk berkata: "If something are important enough, even the odds are against you, you should still do it." 
Ketika Elon berkata ini pun, dia bisa membuktikan dengan produk-produk keluarannya: Tesla, Hyperloop (konsep), dan sebagainya. 


Kemudian, saya memotret dua orang potensial sejagat Nusantara ini, (aamiin!) sebagai bahan dokumentasi.

Lalu, ketika saya memotret seluruh materi yang saya anggap pengetahuan baru dan pas mengisi gelas kosong. Materi-materi ini berisikan tentang penting banget loh menggagas ide bernuansa inovasi sosial dan diwujudkan dengan merintis sebuah startup, atau perusahaan rintisan yang sedang nge-in di kalangan anak muda sejagat raya, termasuk di negeri kita tercinta. Misalnya:


Langsung dari presentasi Kak Lahandi

Selain menampilkan presentasi, Kak Lahandi juga menampilkan video-video yang beyond of people expectation. Misalnya video membuat minyak dari serangga untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak ikan, cangkang kapsul dari rumput laut bagi vegetarian dan persediaan pasar terhadap konsumsi halal, lampu tenaga matahari dari botol plastik, plastik dari bahan singkong, dan sebagainya. 


Plastik dari Pati Singkong (CEO Avani, Kevin Kumala).


Cangkang kapsul dari rumput laut asli Indonesia (Rula Caps)




A Liter of Light (Persediaan lampu untuk masyarakat kota Manila, Filipina), beserta tutorial. 


Oil Insects


Kerjabilitas, wadah informasi lowongan pekerjaan bagi kaum disabilitas.

Semua gagasan ini diwujudkan melalui startup yang berorientasi pada gerakan sosial, artinya penggerak startup ini berusaha untuk memaksimalkan dampak bagi masyarakat dan lingkungan. Percepatan pertumbuhan startup berorientasi sosial ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya membangun kesadaran, mencari dukungan, bekerjasama dengan lembaga atau pemberi modal, dan pastinya dong, meningkatkan kredibilitas startup supaya masyarakat percaya dan usahanya bisa direkam melalui data-data yang mereka ditemukan.

Tapi, hal yang terpenting dalam membangun startup berorientasi sosial ini adalah harus punya rancangan storytelling yang kuat dan menarik. Bukan hanya untuk menarik perhatian, tapi betul-betul membangun kesadaran, bahkan sampai ke alam bawah sadar. Makanya nih, startup model seperti ini sangat butuh publikasi yang kuat. Untung ada teknologi. Thanks to technology :D

Startup seperti ini semakin banyak ternyata. Kak Lahandi sempat berpesan, kalau banyak masyarakat yang peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan, makin banyak juga diperlukan wirausaha yang memecahkan masalah ini. Dengan demikian, makin banyak anak negeri yang saling berkolaborasi, masyarakat yang melek teknologi dari isu-isu sosial-lingkungan, dan akhirnya potensi anak negeri berkembang pesat. Pasti berpengaruh juga ke peningkatan ekonomi, ya walaupun ga selamanya tentang hal itu juga. (kutipan dari: Website Resmi Compfest 9 2017)

Terharu

Nggak nyesel ikut seminar ini. Hampir aja mau nangis karena terharu, ya bukan cengeng sih. Memang sesekali kita perlu keluar dari zona nyaman untuk mengetahui hal-hal baru.

Anyway, saya pun teringat oleh teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence. Teknologi ini sebenernya sangat membantu manusia dalam pekerjaan yang berat, cepat, dan sibuk. Sehingga, manusia bisa mengerjakan hal lain yang lebih berguna dan memberikan dampak positif. Di sisi lain, teknologi ini juga bisa disalahgunakan juga. Hmm, untuk mencapai pemahaman terhadap tingkat teknologi seperti ini sebetulnya harus sadar dari individu dan punya pengetahuan cukup. Orangnya juga harus baik banget, jangan sampai teknologi ini dipakai untuk perang.

Nggak mau kan muncul lagi perang seperti Perang Dingin. Masih ingat kan dengan dua negara adidaya: Amerika Serikat dan Uni Soviet?

Semoga teknologi yang muncul ini membuat manusia lebih bijak dan kontribusi secara positif ya. 

***

Psst, akan semakin banyak pemuda-pemudi yang aware dengan masalah di sekitar lingkungannya. Milenial gitu loh. 

Komentar

  1. Amiiinn

    Waw, thank's for sharing the quotes and slides
    Sangat t e r f a e d a h

    Hehehehe

    Seru banget kayaknya acaranyaa
    Ah jadi sedih nggak bisa ikutan acaranya

    BalasHapus
  2. Wow! Keren banget! Semoga mbak bisa terus-terusan ikut acara ginian ya

    BalasHapus
  3. Thank you atas tulisannya, sangat detail dan inspiratif !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas respons-nya! Tetap semangat berkarya ya! ^^

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri