Suatu Ketika


Suatu ketika, aku pernah mengalami rasa kehilangan terbesar dalam dunia anganku.

Kau tahu, kita sudah lama bercinta sejak saat kita mulai bertemu. Bercinta dari tatapan, retorika, diskusi, hingga debat-debat yang tak kalah penting untuk mempertahankan argumen.

Kau tahu, kita sudah lama bercinta sejak saat kita menjelajah antar kota dan gedung-gedung pencakar langit. Kita saling menatap masa depan, namun tak ingin didikte dari gedung-gedung itu. Kita membuat masa depan sendiri. Usaha sendiri. Swadaya.

Hingga suatu ketika, aku merasa apa yang kita usahakan runtuh perlahan.

Satu per satu proposal swadaya hilang tertelan kompetisi. Satu per satu pendekatan pada kompeni terabaikan seiring cepatnya putaran uang. Satu per satu idealisme bias seiring dengan semakin gembornya standar ganda.

Dan.. aku pun merasa kehilangan bila kau pun tidak bersamaku lagi.

Alam pikirku sudah berubah menjadi lautan materi. Aku lelah. Aku takut kehilangan semua itu.

Dan saatnya aku merenung, apakah kita akan begini terus?

Mau menantang apa kita kepada tangan-tangan penguasa semesta?

***

Narasi puisi ini juga dipublikasikan dalam situs Medium.

Komentar

  1. Tetaplah berpuisi di antara belantara job review.
    Salam kenal yaa.

    BalasHapus
  2. Terima kasih mbak atas apresiasinya. Tetap semangat ngeblognya. Salam kenal juga :)

    BalasHapus
  3. suatu ketika itu bisa datang lagi. waspadalah ! hihi
    udah registrasi kartunya belum?

    BalasHapus

Posting Komentar

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri