Nadia K. Putri Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2017

Translate

Selamat Menempuh Hidup Baru, Girls!

Akhir-akhir ini, di beberapa mata kuliah di kelas yang berbeda selama seminggu ini, saya mendengar kabar bahagia dari seorang teman dekat-- yang bahkan-- satu kelompok di satu mata kuliah.

Parah sih, nikah muda.

Oops, ini bukan bermaksud negatif loh, hehe.

Jadi, teman saya ini sudah menikah.

Alhamdulillah yaa Rabb. Puji syukur pada Allah, akhirnya teman saya sudah menikah dengan pasangan yang menjadi jodoh dunia akhiratnya dan... brondong *nice info, becanda*.

Awal saya tahu kabarnya ketika saya tidak sengaja melihat di sebuah status real time di media sosialnya. Biasa kan, kalau lagi bosan atau kepo, atau bahkan iseng aja melihat, buka aplikasi dan menengok stories para pengguna dari kontak smartphone saya. Dan, saya mencium aroma status yang berisikan tentang "pernikahan", "janur kuning", and whatever. Beruntungnya, saya menganggap hal tersebut adalah hal biasa. Karena, memang lagi nge-in atau jadi tren bukan, menikah muda itu?

Tapi, lama-kelamaan saya mengkhawa…

Membangun Desa (2)

Foto: Pixabay
Dua hari setelah kepulangan Koy, Bang Go dan La O pun bermusyawarah untuk membicarakan hal krusial di kampungnya, yaitu penanda jalan. Penanda jalan sangat penting bagi keselamatan masyarakat kampung, terlebih anak-anak yang sering bermain di tengah jalan maupun pejalan kaki.
Sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan pasca peristiwa tabrakan motor dengan pejalan kaki, bahkan anak kecil yang bermain tertabrak motor yang melaju kencang. Termasuk Bang Go,  menjadi korban tabrak lari pada pagi hari sebelum berangkat ngojek. Atas keresahan ini, mereka bertiga berembuk mencari cara agar bisa mengurangi insiden tersebut.
Dimulai dari La O, yang mengusulkan agar dibuat sirene dan lampu merah di depan rumahnya, tepatnya di depan pintu keluar rumah yang berdekatan dengan got. Bang Go menampung ide tersebut. Kemudian Koy, mengusulkan agar jalanan kampung diberi polisi tidur tiap 800 meter dengan ukuran undakan tertentu. Terakhir, Bang Go mengusulkan agar kedua usul tersebut digabung…

Membangun Desa (1)

“La, lu bakal balik ke kampung ini lagi nggak?” tanyamu.
“Ga tau Bang. Gue ga jamin,” jawab gue ketus.
***
Kampung gue terletak di lokasi antah berantah. Kampung ini terkenal dengan jalan kecil yang sering dilewati oleh motor berkecepatan tinggi. Anehnya, anak-anak sekitar kampung sering banget main di jalanan ini. Padahal berbahaya sekali.
Bang Go prihatin mengamati lingkungan di sekitar rumahnya, karena dekat dengan jalan tersebut. Setiap pagi sebelum bekerja sebagai kuli ojek, Bang Go harus tengok kanan-tengok kiri untuk memastikan motor dan dirinya tidak terserempet. Bila terserempet, rezeki di pagi hari terburu diambil ayam berkokok dari tetangga sebelah, alias, menunggu hari esok untuk bekerja lagi.
Rupanya, geliat Bang Go sering tertangkap oleh La O. La O adalah gadis kecil yang tinggal bersama Bang Go, tepatnya adik kandung beda ibu. La O berumur 11 tahun, ia termasuk gadis yang rutin mengikuti tren masa kini melalui gawai pintar berbentuk kotak tipis seukuran penghapus papan tu…

Kedai Kopi

Sumber: Pixabay
Suatu malam di kedai kopi bergaya fancy.
Aku memarkirkan motor tepat di samping motor SupraX berplat nomor B. Di depan motorku, langsung berbatasan dengan tembok cat abu-abu yang lusuh dan hampir mengelupas. Sementara di tanah yang kuinjak, hanyalah tanah beserta kerikil. Seharusnya sih paving block.
Dengan langkah kaki yang terburu-buru, aku bergegas membuka pintu kedai. Namun, langkahku tertahan karena ada seorang anak laki-laki yang menadahkan tangannya. Kira-kira umur 9 sampai 11 tahun. Wajahnya kotor, bajunya agak sedikit robek, tapi bau tidak sedapnya tidak tercium sampai ke hidungku. Syukurlah. Aku hanya menyunggingkan senyum dan memberi isyarat dengan tangan yang melambai pelan.
“Maaf dek, nggak ada,” kataku lirih. “Makasih ya kak,” ia pun membalas senyumku dengan riang.
Sampai di dalam kedai, aku menaruh segala bawaanku. Tas yang berisi laptop tebal jadul ditaruh di kursi sofa hijau yang hanya muat untuk satu orang. Sedangkan kunci motor diletakkan di atas meja…

Pengalaman Kedua Mashup Songs

Hola readers! 

Ini pengalaman kedua kalinya saat membuat mashup songs dengan Audacity.

Mashup songs kali ini memiliki konsep tropical house atau tropical edm yang cocok didengar saat bersantai atau jalan-jalan. Tapi, karena ini masih latihan yang kedua, jadi masih agak "berisik" gimana gitu.

Dibanding dengan latihan pertama, video kali ini juga lebih halus dan sejuk dipandang. Sehingga nggak pusing dan mager seperti video pertama *malu.


Dukungan pembaca melalui langganan, komentar, suka , atau bagikan sangat membantu dalam pengembangan kanal Youtube sebagai media latihan mashup songs saya.

---

Kredit pada:
Audio Library yang menyediakan lagu top markotop ini:
[No Copyright Music] Sthlm Sunset - Ehrling https://goo.gl/eBc5QB
[No Copyright Music] Nostalgia - Tobu https://goo.gl/4U1nXm

Pengalaman Edit Mashup Songs

Alhamdulillah, selesai juga mashup songs pertama ini.

***

Ini adalah pengalaman pertama saya ngedit dan gabungin lagu orang untuk dijadikan mashup songs. Awal yang sulit, karena masih berkompromi dengan software pengedit audio Audacity. Mungkin editor lain menggunakan FL Studio atau Adobe Audition kali ya.

Audacity sebenarnya software yang nggak hanya digunakan sekali saja. Sebelumnya pernah menggunakannya untuk edit lagu saat freelance dengan rekan saya, Cordova,. Saat itu kami membuat project sebuah video dari sebuah perusahaan multinasional.

Oiya, untuk tampilan Audacity seperti apa, ini dia. Simpel, tapi membingungkan.


Gambar ini di-screenshot ketika sudah selesai mengedit. 
Terdapat dua lagu dalam editor tersebut, yaitu Bay Breeze oleh FortyThr33 dan Tropical Love oleh Del. Semua lagu ini adalah musik tanpa hak cipta atau no copyright music, yang diunduh dari kanal Youtube Audio Library.

Dan untuk video, awalnya tuh masih bagus ketika diputar di laptop, terlebih sebelum mengalam…

Bahasa Mandarin 101 Tips 2

大家好 Dàjiā hăo!
Halo pembaca :)
Setelah melewati masa ujian tengah semester, rasanya tuh, beuh, lega. Tapi tetap aja tugas berduyun-duyun datang, as usual. Dan akhirnya, saya kembali katarsis untuk menumpahkan ide-ide yang mampet di pikiran. Ya, biar bisa dibagi dan siapa tau bermanfaat.
Minggu lalu, blog ini mempublikasikan artikel tutorial “gimana sih belajar bahasa Mandarin?”. Diawali dari tips pertama, dan sekarang akan lanjut ke tips berikutnya: “dari mana gue bisa belajar bahasa Mandarin?”. So, let’s check it out.
Waktu saya hidup di zaman maba, belajar bahasa Mandarin tuh rasanya seru banget dan asyik sampe lupa makan. Saking keasyikannya, saya lupa untuk nambah-nambah ilmu bahasa ini, at least nambah kosakata dan membuat suasana berbahasa Mandarin dalam kegiatan sehari-hari. Alhasil, saya gampang lupa dan jadi kerepotan sendiri ketika masuk bab baru.
Sampailah di tahun kedua atau ketiga kuliah, saya baru nemu ternyata banyak banget media belajar yang bisa bikin nambah pengetahua…