Kedai Kopi

Sumber: Pixabay

Suatu malam di kedai kopi bergaya fancy.

Aku memarkirkan motor tepat di samping motor SupraX berplat nomor B. Di depan motorku, langsung berbatasan dengan tembok cat abu-abu yang lusuh dan hampir mengelupas. Sementara di tanah yang kuinjak, hanyalah tanah beserta kerikil. Seharusnya sih paving block.

Dengan langkah kaki yang terburu-buru, aku bergegas membuka pintu kedai. Namun, langkahku tertahan karena ada seorang anak laki-laki yang menadahkan tangannya. Kira-kira umur 9 sampai 11 tahun. Wajahnya kotor, bajunya agak sedikit robek, tapi bau tidak sedapnya tidak tercium sampai ke hidungku. Syukurlah. Aku hanya menyunggingkan senyum dan memberi isyarat dengan tangan yang melambai pelan.

“Maaf dek, nggak ada,” kataku lirih.
“Makasih ya kak,” ia pun membalas senyumku dengan riang.

Sampai di dalam kedai, aku menaruh segala bawaanku. Tas yang berisi laptop tebal jadul ditaruh di kursi sofa hijau yang hanya muat untuk satu orang. Sedangkan kunci motor diletakkan di atas meja. Kaki pun berjalan ke arah meja pemesanan. Mata menatap sambil mengamati apa yang enak hari ini.

“Mas, mau pesen.”
“Silakan mbak.”
“Capuccino creme brulee, satu.”

Mas kasir mengetik dan menungguku.

“French fries, satu.”
“Ada lag kak tambahannya?”
“Udah itu aja mas.”

Aku menatap lekat kertas putih yang keluar dari cetakan mesin kasir. Bertinta biru, lalu tertulis “pajak” ketika aku menerimanya.

“Silakan ditunggu pesanannya ya kak. Terima kasih.”
“Terima kasih,” ucapku sambil tersenyum.

Beberapa menit kemudian. Aku kembali ke tempat dudukku. Membuka tas ransel hitam, mengambil laptop tebal jadul, dan menghidupkannya dari tombol power dari sudut kanan atas papan ketik laptop. Layar hitam menyala dan berubah menjadi warna hitam 50%. Lambang jendela biru, dan lingkaran kecil yang saling berputar menandakan proses load

Aku pun bersandar sambil menunggu itu semua dan membayangkan…

Aku memarkirkan motor tepat di samping motor SupraX berplat nomor B. Di depan motorku, langsung berbatasan dengan tembok cat abu-abu yang lusuh dan hampir mengelupas. Sementara di tanah yang kuinjak, hanyalah tanah beserta kerikil. Seharusnya sih ada paving block dengan tanda garis kuning batas parkir. Ada tukang parkir resmi. Juga lapangan parkir yang luas dan ditadahi atap plastik.

Dengan langkah kaki yang terburu-buru, aku bergegas masuk ke kedai kopi. Aku tak suka suasana luar jalanan besar kota Depok itu. Suara mobil saling berbising. Suara motor saling bersahut. Pejalan kaki menyepi.

Tiba-tiba, ada seroang anak laki-laki yang menadahkan tangan di tangan kanan sambil memegang kantong permen plastik kosong di tangan kirinya. Kira-kira umur 9 sampai 11 tahun. Wajahnya bersih, bajunya agak sedikit robek, tapi aku tidak mencium bau tidak sedap tubuhnya sekalipun. Syukurlah.

Oh, iya, dia anak yang penjual tisu itu bukan? Aku sering menemukannya, bahkan di dalam kampus sekalipun. Di belakang punggungnya, ia menenteng satu plastik hitam penuh berisi tisu. Aku sebenarnya ingin membelinya, tapi keuanganku lagi seret. Tisuku pun masih ada di tas. Ah betapa dilemanya.

Aku terpaksa menyunggingkan senyum dan memberi isyarat melalui badan yang agak membungkuk, dengan raut wajah yang tidak enak sambil berkata begini.

“Maaf dek, nggak ada,” kataku lirih.

Ia pun membalas senyumku dengan riang dan pergi.

“Permisi mbak. Pesanannya sudah datang,” ujar suara yang berasal dari sisi kiri kursi sofa hijau yang kududuki.

Aku menoleh kaget. Lalu buru-buru menyembunyikannya dan bergaya sok cool.

“Oh iya, terima kash mas.” 

Komentar

  1. Hmmmm
    Pasti jalan Margonda XD

    Anehnya si "aku" ini bisa beli french fries dan capuccino Creme brulle tapi menyatakan kondisi lagi seret

    I mean, tisu berapa sih
    Hmmmmmm

    Kids jaman now banget berarti dia wkwkw

    P.S.
    In my case, mungkin aku nggak akan ngasih anak yang pertama
    Tapi kalau yang jualan tisu itu, pasti aku beli
    Setidaknya dia berusaha bekerja, tidak meminta
    and that deserve an appreciation

    BalasHapus
  2. Iya kak, pasti dia kids jaman now gitu. Sering nemu kok yang kids model begini.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri