Membangun Desa (2)

Foto: Pixabay

Dua hari setelah kepulangan Koy, Bang Go dan La O pun bermusyawarah untuk membicarakan hal krusial di kampungnya, yaitu penanda jalan. Penanda jalan sangat penting bagi keselamatan masyarakat kampung, terlebih anak-anak yang sering bermain di tengah jalan maupun pejalan kaki.

Sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan pasca peristiwa tabrakan motor dengan pejalan kaki, bahkan anak kecil yang bermain tertabrak motor yang melaju kencang. Termasuk Bang Go,  menjadi korban tabrak lari pada pagi hari sebelum berangkat ngojek. Atas keresahan ini, mereka bertiga berembuk mencari cara agar bisa mengurangi insiden tersebut.

Dimulai dari La O, yang mengusulkan agar dibuat sirene dan lampu merah di depan rumahnya, tepatnya di depan pintu keluar rumah yang berdekatan dengan got. Bang Go menampung ide tersebut. Kemudian Koy, mengusulkan agar jalanan kampung diberi polisi tidur tiap 800 meter dengan ukuran undakan tertentu. Terakhir, Bang Go mengusulkan agar kedua usul tersebut digabung saja. La O dan Koy pun tertawa.

Baru di satu jam pertama, mereka lelah. Tetapi, tetap mencari solusi, sambil memegang masing-masing gawai untuk mengakses informasi. La O memandang layar gawainya sambil menopang dagu. Koy, sambil tengkurap. Bang Go, tetap setia duduk di kursi rodanya dengan posisi punggung yang tegak. Tak lama kemudian, mereka hanyut dalam kesibukan masing-masing, dan... tertidur.

Tilulit... tilulit.. tilulit..” suara dering berbunyi di ponsel Bang Go.

Ia tersentak dan terbangun, bergegas mencari-cari letak ponselnya. Ia tak sadar bahwa ponsel itu ada di meja dekat kursi rodanya. Lalu mengecek notifikasi di layar.

“Oh, SMS masuk,” gumanya.

Dalam keadaan setengah sadar, Bang Go kembali melanjutkan berselancar di internet untuk mencari informasi. Tidak sengaja, ia menemukan sebuah tutorial menggambar mural di Youtube. Ia khusyuk menyaksikan langkah-langkah pembuatan mural tersebut. Lalu, mukanya berubah riang dengan raut wajah yang bahagia. Seolah-olah, ia mendapatkan sesuatu yang bisa dikaitkan dengan informasi lain.

“Oh iya, 3D,” bisiknya dalam hati.

Koy terbangun. “Kenapa bang??”

La O pun demikian. “Bang, udah dapet??”

“Coy, kita pada nih udah pernah bikin mural gitu kan yak?” tanya Bang Go.

“I.. iya.. Terus kenapa?” tanya Koy dan La O kompak.

“Jadi, mural kan digambar di tembok tuh. Bentuknya ada yang dua dimensi, ada yang tiga dimensi. Warnanya juga macem-macem kan. Nah, daripada digambar di tembok, mending di jalan aja!” ujar Bang Go sambil mengepalkan tinju.

“Lu mau ninju orang bang?” canda La O.

“Nggak ih,” tepis Koy.

“NGERTI NGGAK?”

“YES.”

“Jadi, gua pernah iseng gambar perspektif di mural di tembok lapangan bola, yang deket rumah RT itu loh. Tanggapan warga, waktu gue gambar itu ya, keren banget. Dan sampe sekarang nggak pernah dihapus. Dicoret orang iseng pun nggak.”

“Eh bisa tuh! Kalo kita gambar gimana bang?” seru La O.

“Masalahnya, kita perlu izin dari Pak RT, soalnya kan dianggap nyoret-nyoret di jalan,” ujar Koy agak pesimis.

“Tapi gue yakin, Pak RT pasti setuju. Kita bakal gambar mural 3D, atau mungkin gambar yang lainnya dengan model 3D di jalan. Gue yakin, itu bisa mengurangi kecepatan laju motor.”

Koy dan La O awalnya bingung mencerna ide Bang Go. Sepuluh detik kemudian, pipi Koy mengembang lebar dengan gigi putihnya yang berseri. Wajahnya agak sedikit memerah bahagia.

“Ah iya! Memainkan perspektif tuh bisa ganggu konsentrasi yang bawa motor!”
“Eh iya juga yak,” tambah La O sambil tersenyum. “Lagian mereka bakal pusing sendiri kalo ngeliat perspektif tiap gambar. Iya iya. Oke, gue setuju!”

Mulai saat itulah, mereka perlahan-lahan melobi Pak RT. Dengan dalih, menggambar 3D di jalan ini adalah alasan terkuat untuk mengurangi kecelakan di jalanan kampung. Dengan proses yang cukup alot, ditambah lagi cara pandang Pak RT yang sempit, mereka bertiga berkali-kali melobi. Sampai-sampai, membawa contoh gambar untuk meyakinkannya. Tak kapok, agar Pak RT percaya, mereka bertiga langsung saja menggambar di jalanan depan rumahnya. Alhasil, Pak RT terdiam.

“Terus?” tanya sinis Pak RT. Alis kirinya naik.
“Bapak harus liat dulu prosesnya. Kami akan gambar sampai di ujung perumahan,” ujar Bang Go yakin.
“Kami akan gambar kira-kira setiap 200-600 meter,” kata Koy.
“Selain ada polisi tidur seperti yang sudah ada, kami tetap gambar model 3D sedemikian rupa sampai pengendara motor ini terpengaruh dengan gambar yang kami buat. Tergantung dari arah datangnya motor,” tambah La O.
“Yaudah, oke. Buktikan ya,” tantang Pak RT dengan raut wajah dingin.

Beberapa minggu pengerjaan gambar 3D, tiap-tiap meter jalanan kampung, dan masing-masing anak-anak yang diberdayakan, akhirnya gambar tersebut berhasil mempengaruhi perspektif pengendara motor. Melalui cara ini, pengendara akan mengubah laju kecepatan sampai ke batas sewajarnya. Batas ini sebenarnya tidak resmi, tetapi pengendara menjadi tahu diri karena bisa mengendalikan kecepatan motornya dalam situasi dan kondisi jalanan kampung.

Misalnya, ketika La O, Koy, dan beberapa anak menggambar karpet terbang dengan perspektif dari arah datangnya motor, pengendara akan bingung dan mengganggap bahwa karpet tersebut benar-benar terbang dan menggantung di udara. Contoh lain, ketika Pak RT buru-buru menjemput anak semata wayangnya di sebuah TK, ia terpaksa mengurangi kecepatan motor karena melihat gambar lubang dengan tangga mengarah ke bawah. Seolah-olah jalanan tersebut digali dan terdapat tangga tersebut. Alhasil, Pak RT mengendarai motor melewati tepian “lubang” tersebut.

Atas kerja keras Bang Go, Koy, La O, dan anak-anak di kampung, usaha mereka diapresiasi oleh Pak RT. Tak disangka, karya unik tersebut tersebar di media sosial, bahkan diliput oleh kantor berita di ibu kota. Sampai-sampai, berita yang menyebarkan hal positif dan kreatif tersebut, mampu meredakan kekesalan warganet atas kehidupan mereka yang penuh dengan keluh kesah.

Namun, satu hal yang menjadi pengingat gue, Bang Go tetap belum sembuh kakinya, namun mampu mengerahkan tenaga untuk ikut menggambar bersama “rekan tim”. La O, perempuan yang beranjak dewasa ini mengisi waktu luang karena bosan les persiapan masuk universitas dengan mengasah kemampuan menggambar. Dan, Koy, ia pulang ke kampung. Padahal, ia bolos kuliah yang sepertinya itu-itu saja.

***

Beberapa tahun kemudian.

“La, lu bakal balik ke kampung ini lagi nggak?” tanya Bang Go.
“Ga tau Bang. Gue ga jamin,” jawab La O ketus.
“Lo kok jadi cuek gini sih? Ini kan hasil kerja keras kita dan anak-anak kampung. Masa lo ninggalin kita gitu aja cuma gara-gara lo dapet beasiswa?” tanya Koy dengan mata nanar.
“Bang, Koy, gua kalo ga ambil. Nama gue dicoret. Gua ga akan bisa lagi ambil ini beasiswa. Gua udah nyia-nyiain kesempatan. Orang yang jadi saingan gue bakal marah. Kesel. Orang desa kayak gue, yang kuliah aja telat, malah sok-sokan.”
“Emang itu bakal jamin lo berguna ntar di masyarakat?” tanya Bang Go.

La O menunduk. Keputusannya menerima tawaran dari sebuah universitas jurusan desain grafis di benua Amerika sana, harus diterima. Mungkin karena ia mendapat fasilitas berupa beasiswa dari negara sendiri, sehingga harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

***

Cerita ini terinspirasi oleh Kampung 3D di Jalan Danau Tondano Raya, RW 03, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Gambar-gambar 3D, jika pembaca menelusurinya di internet, adalah karya-karya para anak muda di Karang Taruna setempat.

Sebagian besar cerita pendek ini adalah murni fiksi. Jika ada hal yang kebetulan, itu merupakan tokoh fiktif dan tidak mengandung unsur kesengajaaan.


Sumber inspirasi: 
Foto-foto lengkap dibalik cerita pendek: 


Foto: Republika





Well, selamat datang di Depok ^^. 

Komentar

  1. Wah saya yang 3 tahun menghuni Depok malah gak tau kalau ada mural2 kyk gtu :D
    TFS

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri