No Hijab Day?


“Semoga hijab ini adalah yang pertama dan terakhir.”

Intro
Empat hari lalu, gemparlah berita mengenai aksi No Hijab Day yang digagas oleh Yasmine Mohammed di Iran. Aksi ini bertujuan untuk melawan aturan-aturan yang memaksa perempuan untuk mengenakan di jilbab. Aksi ini juga viral di Twitter sejak Jumat, 1 Februari lalu dengan tagar #NoHijabDay. 


Padahal, tanggal tersebut merupakan peringatan World Hijab Day, yang bertujuan untuk menolak diskriminasi oleh para perempuan berjilbab, serta ajakan untuk mengenakan jilbab.

Hijab atau Jilbab?
Menurut KBBI, hijab (kata benda) adalah kain yang digunakan untuk menutupi muka dan tubuh wanita muslim sehingga bagian tubuhnya tidak terlihat. Kata “hijab” juga bersinonim dengan kata “jilbab”. Jilbab (kata benda) adalah kerudung lebar yang dipakai wanita muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai dada. Tambahan, kata “kerudung” (kata benda) pun juga memiliki makna sepadan, yaitu kain penutup kepala perempuan; cadar. Jika disimpulkan, kata-kata ini saling berkaitan dan mengisi tujuan spesifik, yaitu menutup aurat sebagaimana yang termaktub dalam aturan Islam yang berlaku.

World Hijab Day atau No Hijab Day?
Pertama kali saya mendengar kampanye World Hijab Day, yang diprakarsai oleh Nazma Khan pada tahun 2011, kampanye ini sangat-sangat bertujuan mulia jika dinilai dari opini pribadi. Bayangkan, gadis yang tinggal di New York ini jelas teguh memegang prinsip hijab is my life sebagai bentuk ketaatan dan kedekatan kepada Allah SWT. Walaupun, gaya hijabnya tidak syar’i-syar’i amat seperti yang booming di negeri kita akhir-akhir ini.

Tapi, inilah yang membuat hijab, kerudung, khimar, jilbab, dan kawan-kawannya mempunyai status dan nilai di mata masyarakat awam yang tidak seberuntung di negeri kita sendiri.

Dalam beberapa tahun, dakwah media sosial mengenai World Hijab Day bertebaran, dan sampailah saya simpan posternya ketika ia muncul di beranda akun LINE. Sampailah pula pesan dakwah untuk membumikan hijab, sebagai simbol perempuan tanpa pandang bulu. Walaupun, ada beberapa aktivis perempuan yang berpendapat, hijab juga diidentikkan sebagai simbol represif dari penguasa untuk mengontrol perempuan. Whatever.


World Hijab Day, 1st February 2015 (Foto: Pinterest)

Ketika muncul kampanye kontra World Hijab Day, yaitu No Hijab Day, justru dilatarbelakangi oleh represifnya pemerintah yang menyebabkan aksi protes para perempuan berhijab di Iran. Ini baru Iran. Belum negeri kita. Tapi, kenapa Iran?

Jika ditinjau lebih jauh, ada faktor sejarah yang melatarbelakangi rentetan protes hijab di Iran. Pada masa pemerintahan Reza Syah Pahlavi (1925-1941), hijab (plus cadar) dilarang demi menunjukkan status setara dan maju seperti negara-negara di Eropa. Pada tahun 1928, Pahlavi pun mengeluarkan undang-undang yang mewajibkan masyarakat Iran untuk memakai pakaian seperti orang Eropa. Tak hanya itu, Pahlavi juga mengadakan Kongres Perempuan Timur di Teheran pada tahun 1932 guna mempromosikan pelepasan hijab. Sampailah pada Desember 1935, pemerintah Iran resmi mengeluarkan aturan larangan berjilbab, dan sebulan berikutnya diberlakukan di semua provinsi.

Kemudian, situasi berbalik ketika masa pemerintahan Ayatollah Khomeini (1979) yang melegalkan hijab dan wajib mengenakannya sebagai bentuk untuk melaksanakan aturan Islam yang berlaku. Pelegalan hijab sebenarnya bertujuan untuk melaksanakan perintah Allah SWT, namun dianggap sebagai bentuk.. lagi-lagi pemaksaan terhadap perempuan Muslim yang ingin kebebasan berpakaian dan mengatur tubuhnya sendiri jika dipandang dari konteks masa kini.  

Dalih yang membuat protes pelegalan hijab, salah satunya adalah penggambaran Khomeini terhadap perempuan tidak berjilbab dianggap sama seperti “telanjang”. Pelegalan hijab di Iran pasca Revolusi 1979, yang dicetus oleh Khomeini sendiri justru menimbulkan masalah baru: pelecehan perempuan yang tidak mengenakan jilbab (laporan dari organisasi Justice for Iran: 2014).

Kini, efek jangka panjang pelegalan hijab justru berbuah No Hijab Day di negara Republik Islam Iran. Efek ini melahirkan protes-protes atas nama kebebasan. Sementara kampanye pengenalan hijab untuk masyarakat dunia, seperti World Hijab Day yang menjamur di negara-negara mayoritas non Muslim (bahkan negeri seperti kita juga kena manfaatnya), justru memperjuangkan hak-hak anti diskriminasi. Penggunaan istilah World Hijab Day dan No Hijab Day sungguh butuh konteks dan latar belakang agar tidak asal pakai tagar di media sosial. Selain merugikan perempuan berhijab itu sendiri, juga perlahan membunuh karakter perempuan berhijab yang strong, independent, smart, dan pandai bersosialisasi.

We Can Do It Too! #StrongInHijab (Foto: World Hijab Day)

Ada apa dengan hijab?
Mungkin ketika saya baru merasakan damainya media sosial, kampanye hijab bersifat proaktif dan menimbulkan respon positif. Saya belum menemukan kaum nyinyir se-jagat media sosial yang sibuk membahas suatu hal dari lingkup terlalu sempit dan satu sisi seperti sekarang. Alhamdulillah, dengan adanya media sosial seperti Twitter, saat saya SMA, kampanye bermanfaat itu mendorong saya untuk fix and full mengenakan hijab. Tanpa lepas-lepas. Tanpa ragu-ragu. Tanpa bongkar di mal, pasang di sekolah.

“Kemudian ada oknum-oknum warganet yang berkicau dengan bekal daya kritis dan nalarnya. Kesel sih, ngebahas kejelekan dari kabar yang pengaruhnya nggak begitu dirasakan perempuan Muslim kebanyakan. Malah, yang kebanyakan ini merasa fine-fine aja. Dan sampai sekarang, masih ada yang nyinyir kelas dunia membahas hijab aja loh. Gila nggak tuh.

Padahal, mobil terbang udah hampir mengelilingi bumi, tapi tetep aja kaum flat earth nggak mau percaya. Yaudahlah.”

Saya tidak paham, kenapa orang-orang begitu pedulinya dengan hal-hal buruk yang setitik nila saja. Apalagi hijab, notabene sebagai aturan Islam paling jelas dan terpampang nyata di dunia-akhirat. Selembar kain yang menempel di kepala perempuan Muslim ini menjadi peluru untuk ditepis oleh oknum yang merasa tahu dan berjuang atas nama sesuatu. Padahal, ada beberapa hal tentang pelajaran hidup yang membersamai pengguna hijab yang sangat lekat dan berkaitan dengan harga diri dan usaha di mata Penciptanya.

Merespon aksi No Hijab Day yang ramai beberapa saat di media sosial, ada harapan bahwa kita, manusia, memang harus banyak-banyak mengamati dan membaca. Mengamati keseharian pemakai hijab, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Membaca, asal-usul dan dalil penggunaan hijab yang sebenarnya tanpa ada campur tangan subjektivitas penguasa yang tak paham. Widiw, bagus banget kata-kata gue.

Iya, membaca buku memang jendela dunia. Mengetahui latar belakang penulis buku/artikel tentang hijab juga perlu diteliti. Jangan sampai, World Hijab Day yang sudah susah payah dibangun citranya, menjadi runtuh hanya karena aksi temporer No Hijab Day di Iran.

Saya tahu, pun kamu, mengenakan hijab butuh proses. Sama seperti hidup yang telah membersamaimu. Biarkan pengguna hijab berkeliaran bebas sebagai bentuk kebebasan diri untuk menaati perintah Tuhannya, atau kebebasan diri untuk menunjukkan identitas keislamannya. Karena mereka juga hidup seperti kita.

Karena mereka manusia pula. Berusaha taat walaupun kecil gerakannya.

Semoga hijab ini adalah yang pertama dan terakhir.

Sumber:
Al Jazeera English. 2018. These women in Iran demand the right to choose to wear or not wear the hijab. https://twitter.com/AJEnglish/status/961653363770146817
Faisal, M. 2018. Anti-Jilbab dan Wajib Jilbab Sebelum dan Sesudah Revolusi Iran. Tirto.id. https://tirto.id/anti-jilbab-dan-wajib-jilbab-sebelum-dan-sesudah-revolusi-iran-cEsY
Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/hijab
Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/jilbab
Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kerudung
Kumparan News. 2018. Geger Aksi No Hijab Day di Twitter, Ajak Lepaskan dan Bakar Jilbab. Kumparan. https://kumparan.com/@kumparannews/geger-aksi-no-hijab-day-di-twitter-ajak-lepaskan-dan-bakar-jilbab
Kumparan. 2018. Geger Aksi #NoHijabDay. https://www.instagram.com/p/Be21kCflah9/?taken-by=kumparancom
Mvslim.com. 2018. 10 Reasons Why We Should All Celebrate World Hijab Day. http://mvslim.com/5176-2/

Komentar

  1. Sukaaakk sm ulasannya mbk. Lengkap sm sejarahnya juga. Makasih yak sharingnyaa 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak, alhamdulillah :)) Semoga bermanfaat ya mbak hehe

      Hapus
  2. Beruntungnya kita yang tinggal di Indonesia. Negara yang heterogen tapi menghargai setiap ajaran agama. Nggak kebayang kalau di Indonesia ada no hijab seperti di Iran. T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat beruntung mbak. Bersyukur banget tinggal di Indonesia, yang memperbolehkan mengenakan hijab dalam model apapun tanpa dibatasi sampai tahap "wajib cadar".

      Di Iran, boleh menggunakan hijab dan diwajibkan oleh negara. Tapi.. hijab yang dimaksud adalah chador. Seperti cadar yang sering kita lihat. Bedanya, dia full menutupi tubuh, dan yang terlihat hanya kedua mata saja (seperti titik kecil gitu kalo dari jauh). Inilah yang membuat Muslimah di Iran protes besar.

      Hapus
  3. Baru tau deh aku kalau pernah ada aksi "No Hijab Day".
    I'm like... WHATT????

    Pada nggak tau ya kalau nggak berhijab itu masuk neraka? -____-

    Semoga #WorldHijabDay lebih trending dan lebih banyak pendukungnya deh. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya pernah gitu kak, cuma seminggu trending di media sosial. Sehabis itu langsung dihapus karena nggak sesuai aturan gitu.

      Iya sih kak, mungkin berhijab itu prosesnya panjang. Jadi wajar ada protes begitu. Lebih baik dukung #WorldHijabDay supaya lebih dikenal masyarakat dunia dan setara posisinya hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri