Kisah Pak Ojek Hari Ini

“Yang baik sama bapak, bapak doain semoga semua keinginannya dikabulkan Allah.”

Masih teringat jelas ucapan beliau ketika saya menumpangi motornya. Sebagai supir ojek online, beliau termasuk yang senior dalam dunia kerja ojek online. Mulai bekerja pada tahun 2015, sering narik di daerah Jakarta. Perlahan, layanan ojek online pun berekspansi sampai ke daerah Jabodetabek. Termasuk beliau mendapat bagian narik di daerah Bekasi, salah satunya di daerah dekat rumah saya.

**

Hari Selasa sore terlanjur cepat mendung. Awannya kelabu. Anginnya mulai ribut-ribut. Padahal, siangnya cerah. Paginya mekar. Cuaca bulan ini sangat aneh. Kadang senang, kadang merajuk.

Berjalan kaki [Foto: Lily Lvnatikk / Unsplash].

Tepat pukul 16.15, berangkat dari rumah. Semua pintu sudah terkunci. Tinggal cus menghampiri pak ojek yang sudah dipesan beberapa menit sebelumnya. Sampai di warung gorengan, saya mencari-cari pak ojek.

“Oh itu dia,” kata saya dalam hati. Sebut saja pak “Ojek”.
“Pak ‘Ojek’ ya?” tanya saya.
“Iya neng,” jawabnya sambil mengatur posisi cincin batu akiknya.
Saya memberi barang bawaan untuk ditaruh di bagasi depan. Beliau menaruh dan menatanya. Kemudian kembali mengatur posisi cincin batu akik di jari-jarinya.
“Sebentar ya neng.”

Usainya, motor Supra butut dihidupkan. Kemudian bertanya, “Mau muter di mana neng?” Kebetulan di depan ada putaran, namun biasanya langsung memutar dengan arah berlawanan. Demi keselamatan, saya pun meminta beliau agar putar di tempat semestinya.

“Oh, udah berubah ya? Dulu mah bebas. Tinggal muter.”
“Iya pak, udah berubah sekarang.”
“Kenapa, ada yang tabrakan ya?”
“Ada pak,” sahut saya cepat. Seingat saya sih, tabrakan motor dengan sepeda. Atau motor yang jatuh karena ngebut lalu tersangkut di tengah batas tengah aspal.
“Mati nggak?”
“Nggak pak, cuma jatuh aja.”

Hampir 2 menit perjalanan, beliau kembali fokus menyetir. Saat melewati gerbang komplek perumahan lain, beliau melanjutkan obrolan.

“Adek rumahnya di komplek tadi ya?”
“Iya pak.”
“Tadi saya masuk ke komplek lain. Terus saya bingung di mana rumah adek. Saya nanya ke orang komplek yang kita lewatin tadi. Diputer-puternya saya. Saya masuk malah dicemberutin. Pada nggak demen kalo masuk ojek online.” “Udah gitu pada nggak sopan lagi. Kan yang gaji juga warga. Saya diceritain sama penumpang sebelumnya. Katanya bisa dipecat tuh,” sambungnya.  

Serem juga. Demikian seringnya kejadian kurang mengenakkan terhadap ojek online. Kelihatannya, beliau mulai membuka diri untuk bercerita. Sempat kepikiran untuk potret beliau usai turun. Tapi, sikonnya tidak pas.

Beliau kembali fokus. Saya pun fokus melihat jalan sekitar untuk memastikan keadaan jalan dan kecepatan berkendara. Sepuluh menit kemudian, beliau kembali bertanya.


Stasiun kereta [Foto: Nuno Alberto / Unsplash].

“Neng mau ke Jakarta ya?”
“Nggak pak, saya mau ke Depok.” Sebenarnya ini agak mengganggu sih. Tapi baiklah, saya berusaha untuk memberikan impresi baik dan respon positif. Semoga, hanya basa-basi.
“Oh, transit gitu ya?” Maksudnya, pindah kereta ke jalur tertentu di Stasiun Manggarai. Stasiun ini ada jalur-jalur kereta yang mengarah ke beberapa tempat, salah satunya Depok.
“Iya pak,” jawab saya.
“Yang di Depok di rumah sodara atau rumah sendiri?” Ini rada bingung jawabnya. Suaranya tidak terdengar jelas karena tertutup helm dan tertiup angin. Beberapa detik kemudian, barulah ngeh.
“Oh, yang tadi itu rumah saya, pak. Yang di Depok itu tempat kuliah.”
“Oh, kuliah ya. Kuliah di UI?”

Sudut pemandangan di FIB UI [Foto: Nadia K. Putri / Shutterstock].

Tebak-tebak benar aja. Sambil nyengir, menjawab, “Iya betul pak.” Bapak pun langsung mengacungkan jempol.

“Sekolahnya yang mantep neng!” serunya dengan nada tulus dan mengapresiasi. “Udah mau lulus ya neng?”
“Insya allah sebentar lagi lulus pak.”
“Bapak doain semoga yang adek kerjain lancar. Jadi sarjana yang mantep. Dapet kerja dan jadi orang yang berguna.”


Wisuda, amin! [Foto: paseidon / Pixabay].

Saya kaget. Begitu terus terangnya beliau mengucapkan kata ini. Ini termasuk doa, doa yang diucapkan kala mendung di sore hari. Tak biasanya orang mengobrol dalam keadaan sibuk menyetir, namun bisa menyeimbangkan konten dialog. Dan tak biasanya mau mengobrol hal mendalam dengan orang asing, apalagi dengan anak muda. Semoga bapak sehat-sehat ya. Rejekinya selalu dilancarkan. Keluarganya dalam keadaan Islam kaffah dan barokah.

“Amin pak, insya allah.”
“Doain bapak juga ya neng, semoga bapak lancar. Sehat-sehat.”
“Amin pak.”

Saya pun penasaran sudah berapa lama beliau bekerja sebagai supir ojek online. Kemudian, melanjutkan obrolan lagi.

“Bapak udah berapa lama kerja di ojek online?”
“Udah 3 tahun neng,” jawabnya mantap.
“Tiga tahun pak?” tanya saya dengan agak kaget.
“Iya neng, dari tahun 2015.”

Ojek online [Foto: Aho Talk].

Sempat teringat awal mulai berdirinya ojek online, khususnya ojek beridentitas warna hijau-hitam. Bukan bermaksud untuk promosi dan sebagainya. Kenyataannya, tahun tersebut adalah tahun awal mula startup transportasi online. Sebelumnya, berpusat di sekitar daerah Jakarta. Perlahan, layanan ojek online berekspansi sampai ke daerah Jabodetabek. Tak terkecuali, beliau pun mendapat bagian narik di daerah Bekasi, salah satunya di daerah dekat rumah saya.

“Dulu bapak narik di Jakarta doang. Orangnya kan masih dikit tuh. Kadang kalo narik, sampe jauh banget. Pernah narik sampe Kuningan.”
“Kuningan pak, Kuningan Jawa Barat pak?” tanya saya.
“Kuningan Jakarta,” jawabnya dengan nada sedikit meninggi. Mungkin karena jalan terlalu ramai, sehingga suara beliau tak terdengar.
“Oh,” respons saya dengan suara agak meninggi pula agar beliau bisa mendengar suara saya.
Beberapa menit berlalu dengan obrolan-obrolan meneduhkan. Tak terasa, kami melewati daerah SMPN 1 Bekasi. Obrolan kami pun bertukar tema.

“Anak-anak bapak lagi sekolah ya pak?” tebak saya dengan nada sok tau.
“Udah nggak neng. Udah pada kawin. Yang pertama (dan) kedua, udah kawin. Yang bontot tiga, SMK kelas 2. Yang bontot empat, SMP kelas 3.”
“Oh gitu ya pak. Semoga anak-anaknya lancar-lancar sekolahnya ya pak.”
“Amin neng. Doain bapak juga ya. Bapak doain orang-orang yang baik sama bapak. Semoga doanya terkabul. Yang dipengenin, kejadian. Yang dipengenin, jadi dapet.”
“Amin pak.”
“Semoga eneng langsung dapet kerjaan, dapet kerjaan yang mantep.”
“Amin pak!”

Menatap senja [Foto: Iulia Mihailov on Unsplash].

Di momen ini, tiada hentinya mengamini ucapan-ucapan sarat doa dari beliau. Bapak yang kira-kira berumur 50-60 tahun itu terus mendoakan hal-hal baik—Insya allah—mujarab di sore hari. Ketika jalan dipenuhi kendaraan-kendaraan pulang kerja dan para pekerja dengan wajah kerut lelah, justru merasakan sebuah dorongan untuk melesat maju.

Tetap senyum! [Foto: Alexas_Fotos / Pixabay].

Seterpuruk apapun yang dialami orang-orang yang berjuang, tetaplah bersyukur dan mengucapkan hal-hal baik. Karena ucapanlah yang seringkali menjadi doa. Tak disadari, itulah yang tak sengaja didengar langsung oleh Maha Pengatur Rezeki.

Saat itu, ingin banget rasanya mengutarakan keinginan agar didoakan beliau juga.

“Anu pak, saya pengen kerja jadi fotografer.”
Krik.. krik.. Lima detik berlalu.
“Di luar negeri pak,” sambung saya. Ingin bilang kata “foto jurnalis” atau “foto dokumenter”, takut beliau tidak kesampaian di bayangannya.


Fotografer? [Foto: Pinterest].

“Kamu mau jadi fotografer? Kamu udah mantep belum sama itu?” Tegurnya. Mungkin, teguran ini juga dikatakan ayah-ibu kelak, maupun orang asing, kerabat sendiri—parahnya—teman sendiri.
“Iya pak, jadi fotografer. Insya allah mantep pak.”
“Oh yaudah kalo gitu. Tapi kenapa di luar negeri neng?”

Boom! Kenapa di luar negeri? Kenapa tidak di dalam negeri saja?

Long way to go. Berhubung waktu sangat sempit. Awan sore sudah pekat kelabu. Angin-angin menggrasak ranting-ranting pohon di jalanan. Motor-motor mulai cepat dan  mengganas. Kali Bekasi mulai deras mengalir. Laju motor kami hampir sampai di daerah Stasiun Bekasi. A short story.


Work globally [Foto: Duangphorn Wiriya / Unsplash].

“Iya pak, soalnya bisa dapet keluarga baru, dapet saudara baru, dapet temen banyak kalo kerja di luar negeri.” Konyolnya... Deg-degan banget jawab beginian.
“Oh gitu ya? Bisa dapet keluarga baru gitu?” tanyanya heran.
“Bisa pak!” seru saya dengan nada meyakinkan.
Dengan angguk-angguk sembari mempercepat laju motor, beliau berkata, “Yaudah, pokoknya bapak doain deh semoga yang dipengenin dikabulin Allah.”
“Amin pak.”

Amin lagi dalam hati. Amin terus sampai gerbong kereta.
Amin terus sampai mengamini ucapan teduh sarat doa-doa.
Amin terus sampai paham, respek.
Amin terus sampai menangkap hikmah.
Amin terus, Allah SWT menciptakan manusia dari berbagai suku bangsa untuk berhubungan, interaksi.

Putar lagunya di sini. 

“Jalan hidup di hitamnya dunia, dan pertemuan ini jadi inspirasi, antara ku dan masa depanmu. Apa yang ku dapatkan, tak seberapa. Maka yang kuberikan memang, hanya sederhana. Dan semoga saja, kau tak akan lupa. Tentang kita.”Kita (Nostress feat Sandrayati Fay).

Komentar

  1. 你好, Nadia. 我是印尼人,现在在中国当印尼语老师。你会说中文吗?在哪儿学习?

    我喜欢你拍的那些照片,真好看。希望你真的能实现你的梦想,可以称为一位摄影师。有梦想才有动力嘛。

    年轻的时候多去看看世界,开阔眼界。假如我们地球就像一本书,那我们现在可能算只看过了一页。

    我也喜欢写blog,现在不知不觉已经9年多了写blog。有空的话,来看看我的blog哦。加油!

    BalasHapus
    Balasan
    1. 您好老师。至于说中文,我还差得远呢。有时候就忘好多生词。现在的学习是在印尼大学的。但是呢,在高中的时候也学习汉语。

      哪里老师,哪里。一部分拍照的照片是从Photo Stocks,一部分是从我自己拍的。“有梦想才有动力嘛” 是对的,我同意!到今天,我还学怎么拍照拍得好、照片也有精神。

      多谢您的鼓励。从心里想,常常想去看看世界,像Traveller blog一样。他们很棒!能带照片有精神。Mohon doanya, 老师,希望能实现我的梦想。

      Hapus
  2. Heee anak Sastra Cina?
    Aku pengen bisa Bahasa Mandarinnn... tiap hari belajar hahaha... mumpung housemate-ku isinya Chinese speakers

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehehe, iya mbak. Kebetulan banget tuh mbak, bisa belajar langsung sama native. Langsung cepet bisa, yakin deh :D

      Hapus
  3. Kak, cara nyampein ceritanya apik banget!
    Nyampe ke hati sekaligus memotivasi.
    Entah kenapa setiap nyoba bikin cerita
    kehidupan sehari-hari versi saya sendiri, pas mau di posting kok merasa nggak pede :D
    Baru beraniin untuk komentar di sini, kak :D
    Salam kenal kak Nad ^^
    *anak grup nulisyukbatch6 :D*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Nur! Iya aku pernah lihat nama kamu di grup itu wkwk. Salam kenal juga ya!

      Nulis tentang kehidupan sehari-hari bakal jadi yang menyenangkan kalo bisa diamati dengan bijak dan sabar. Jadi, tetap beranikan diri untuk mencoba ^0^9

      Hapus
  4. saya belum pernah naik ojek online, naik ojek juga jarang. tapi sering kepikiran jadi tukang ojek, mungkin karena sering nonton TUKANG OJEK PENGKOLAN. cuma rasanya agak sulit ngebayangin jadi tukang ojek di usia 60 taun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya saya sempat kepikir begini pak: "Apa jadi mbak-mbak ojol aja ya. Lumayan kan ngisi uang saku." Terpikir saat masa jayanya ojol atau ojek online. Semenjak ngeh kalau usaha startup begini banyak gonjang-ganjingnya, sekarang cukup paham saja sama mereka.

      Jasanya banyak :"

      Hapus
  5. saya bantu aminin ya mbak, jadi fotografer di luar negeri dan dapat keluarga baru.

    eh tapi luar negeri tepatnya dimana mbak?

    Saya jarang2 bisa ngobrol seintim ini dengan ojol, hehe, mungkin kebetulsan si bapak nya baik banget kali mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin, aamiin.

      Itu dia kak, kebetulan sekali bapak ojolnya sukarela memberi nasehat seperti itu hehe.

      Hapus
  6. Ojol sekarang memang terdiri dari beragam generasi ya, mbak. Saya juga pernah tuh dapat ojol yang driver-nya ibu-ibu. Cerita ngalor-ngidur, ternyata si ibuk jadi ojol karena harus menyekolahkan anak-anaknya. Tapi so far, ojol memang terkadang menjanjikan sih mbak hehe. Banyak orang-orang yang bergabung di ojol bisa sukses. Bahkan bisa punya mobil padahal baru 6 bulan jadi ojol. Hebat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, dari yang muda sampai tua, ada semua.

      Saya juga pernah dapat yang ibu-ibu mbak. Alasannya pun sama, untuk nambah-nambahin biaya sekolah anaknya. Kadang kalo denger cerita beliau, suka keinget sama ibu yang kerja juga hehe

      Hapus
  7. Aweee
    Soo inspiring

    Whatever will be, will be
    Whoever you want to be, just do what you love and be the best version that you can be

    *Tips sukses yang ku lupa entah dari siapa tapi ngena banget buat anak anak milenial yang cita-citanya melawan rekomendasi ibu-bapak jaman old yang hampir semua cuma kepengen anaknya jadi pegawai PNS kantoran aja wkwkwkw

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri