Balada Hari Kerja

Setiap Selasa sore adalah waktu pulang ke rantau. Kadang hari Senin. Kadang hari Minggu. Atau bahkan setiap hari. Pulang ke rantau kini lebih menyilaukan akibat paparan matahari yang menembus kaca tebal jendela gerbong kereta.

Setiap pulang ke rantau, selalu saja ada cerita. Kali ini tentang penumpang yang bersikukuh pulang tanpa peduli himpitan.

Seorang perempuan pekerja berkacamata yang begitu ingin pulang ke rumah. Sampai halnya ia harus rela berdesakan di antara lainnya. Di satu sisi, aku merasa sedih.

Kereta itu menuju stasiun Bekasi. Entah hari apa itu, mungkin hari kerja. Kemudian aku mengejar kereta yang masih terbuka pintunya. Sadar akan tubuh yang cukup mampu meringsek tubuh-tubuh lain, aku paksa berlari at least sampai di pintu gerbong. Pak masinis yang tampan dengan caranya sendiri sudah pasang langkah untuk memasuki pintu ruang kemudi. Ia yang tersenyum dipaksa ramah, langsung memencet tombol pintu otomatis. Kemudian seluruh pintu gerbong tertutup.

Sial. Terlambat.

Pak masinis memencet tombol sekali lagi. Kemungkinan besar pintu gerbong tak sanggup menahan tubuh para pekerja sore itu. Jumlahnya bejibun. Seluruh penumpang berjubel menutupi jalan masuk tiap gerbong. Gerbong wanita lebih parah. Ibu berkacamata itu menahan napas dan mengempiskan perutnya. Sambil meyakini, bahwa ia langsing amat seperti penumpang perempuan lain. Sambil menguap sejenak dan berpegangan pada sisi atas pintu otomatis kereta, aku mengabadikan peristiwa ini sebagai pengingat bahwa tak mudah menunggu kedatangan kereta selanjutnya.

Pintu nyaris tertutup. Wajah sang ibu tertutup tasnya. Syukurlah. (Foto: Nadia K. Putri)

Omong-omong, kereta menuju stasiun daerah rumahku selalu ada 15-30 menit sekali. Cukup lama menunggu bagi yang memburu ketertinggalan waktu salat asar atau magrib. Dengan menenteng barang bawaan yang berat begini, bisa tipis tulang pundak dan punggungku. Mereka dimakan usia. Dimakan osteoporosis. Dirayap skoliosis. Dihancurkan radiasi sinar biru.

Terakhir. Mengambil momen lumrah seperti ini cukup sulit untuk diangkat. Entah ibu ini akan menjadi potret abadi dalam kertas atau jejaring sosial. Aku pun belum meminta izin untuk mengabadikan posenya.

Mohon maaf kepada ibu berkacamata, beserta penumpang yang ada di belakang dan sampingnya.

**

Kereta rel listrik menuju Stasiun Bekasi sudah berangkat. Aku merelakannya dengan hati legawa. Bagaimana tidak, bukankah ia akan datang lagi?

Asalkan tiket keretaku tidak hangus. Aku cukup bahagia akan hal tersebut.

**


Tulisan ini adalah bentuk kontribusi dalam Challenge Post Komunitas Nulisyuk Angkatan 6. 

Tema: Bebas

Hashtags
#Survivalbatch6
#keepalive
#nulisyukbatch6

Anda berminat bergabung di komunitas Nulisyuk? Yuk mari kunjungi Instagramnya di @nulisyuk


Selamat menulis! :) 

Comments

  1. Rupanya sesama komuters yah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya nih pak, sama-sama dari stasiun keberangkatan awal hehe

      Delete

Post a Comment

Popular Posts

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri