Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Balada Hari Kerja

Setiap Selasa sore adalah waktu pulang ke rantau. Kadang hari Senin. Kadang hari Minggu. Atau bahkan setiap hari. Pulang ke rantau kini lebih menyilaukan akibat paparan matahari yang menembus kaca tebal jendela gerbong kereta.

Setiap pulang ke rantau, selalu saja ada cerita. Kali ini tentang penumpang yang bersikukuh pulang tanpa peduli himpitan.

Seorang perempuan pekerja berkacamata yang begitu ingin pulang ke rumah. Sampai halnya ia harus rela berdesakan di antara lainnya. Di satu sisi, aku merasa sedih.

Kereta itu menuju stasiun Bekasi. Entah hari apa itu, mungkin hari kerja. Kemudian aku mengejar kereta yang masih terbuka pintunya. Sadar akan tubuh yang cukup mampu meringsek tubuh-tubuh lain, aku paksa berlari at least sampai di pintu gerbong. Pak masinis yang tampan dengan caranya sendiri sudah pasang langkah untuk memasuki pintu ruang kemudi. Ia yang tersenyum dipaksa ramah, langsung memencet tombol pintu otomatis. Kemudian seluruh pintu gerbong tertutup.

Sial. Terlambat.

Pak masinis memencet tombol sekali lagi. Kemungkinan besar pintu gerbong tak sanggup menahan tubuh para pekerja sore itu. Jumlahnya bejibun. Seluruh penumpang berjubel menutupi jalan masuk tiap gerbong. Gerbong wanita lebih parah. Ibu berkacamata itu menahan napas dan mengempiskan perutnya. Sambil meyakini, bahwa ia langsing amat seperti penumpang perempuan lain. Sambil menguap sejenak dan berpegangan pada sisi atas pintu otomatis kereta, aku mengabadikan peristiwa ini sebagai pengingat bahwa tak mudah menunggu kedatangan kereta selanjutnya.

Pintu nyaris tertutup. Wajah sang ibu tertutup tasnya. Syukurlah. (Foto: Nadia K. Putri)

Omong-omong, kereta menuju stasiun daerah rumahku selalu ada 15-30 menit sekali. Cukup lama menunggu bagi yang memburu ketertinggalan waktu salat asar atau magrib. Dengan menenteng barang bawaan yang berat begini, bisa tipis tulang pundak dan punggungku. Mereka dimakan usia. Dimakan osteoporosis. Dirayap skoliosis. Dihancurkan radiasi sinar biru.

Terakhir. Mengambil momen lumrah seperti ini cukup sulit untuk diangkat. Entah ibu ini akan menjadi potret abadi dalam kertas atau jejaring sosial. Aku pun belum meminta izin untuk mengabadikan posenya.

Mohon maaf kepada ibu berkacamata, beserta penumpang yang ada di belakang dan sampingnya.

**

Kereta rel listrik menuju Stasiun Bekasi sudah berangkat. Aku merelakannya dengan hati legawa. Bagaimana tidak, bukankah ia akan datang lagi?

Asalkan tiket keretaku tidak hangus. Aku cukup bahagia akan hal tersebut.

**


Tulisan ini adalah bentuk kontribusi dalam Challenge Post Komunitas Nulisyuk Angkatan 6. 

Tema: Bebas

Hashtags
#Survivalbatch6
#keepalive
#nulisyukbatch6

Anda berminat bergabung di komunitas Nulisyuk? Yuk mari kunjungi Instagramnya di @nulisyuk


Selamat menulis! :) 

Komentar

  1. Rupanya sesama komuters yah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih pak, sama-sama dari stasiun keberangkatan awal hehe

      Hapus

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Jelajah Singkat Jogja 2 Hari

Insekuritas dalam Berkarya

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan