Terima Kasih, Modelku

Seminggu lalu adalah libur panjang yang paling santai dan ramai. Dimulai dari Jumat yang benar-benar panas sampai membasahi seluruh baju saat saya baru sampai di Stasiun Bekasi. Kemudian, berganti sejuk ketika memasuki mobil yang disupiri ibu dan dinavigasi adik.

Jalan raya pusat kota Bekasi selalu ramai ketika akhir pekan tiba. Untungnya hari libur panjang, semua orang berlomba-lomba untuk mengisi waktu santai. Pada akhirnya, berkumpul ria di jalan raya dengan mobil masing-masing. Klakson-klakson bersahutan untuk berebut waktu paling santai di mal. Tak ada yang peduli. Semua menikmati pemandangan itu dengan sudut pandang masing-masing, termasuk penumpang yang ada di mobil ibu.

Sampailah kami di sebuah mal yang dibangun di pinggir Saluran Kalimalang. Di seberangnya ada mal pusat elektronik yang bersebelahan langsung dengan Hotel Aston. Mal yang terletak di sisi kiri jalan ini cukup dekat dengan pintu tol Bekasi Barat. Tak pernah sepi. Padahal jualannya itu-itu saja.

Ibu mencari parkiran terdekat ke pintu masuk mal. Begitu dapat satu slot kosong, ibu langsung mengegas kencang agar tak direbut. Posisinya sekitar 50 meter dari gerbang parkir keluar. Tapi juga tidak terlalu jauh dari pintu masuk mal.

Kami bertiga pun jalan memasuki mal. Orang-orang berlalu-lalang dengan wajah bahagia. Ada yang bergaya dengan sepatu sneakers putih, ada yang hanya mengenakan sandal jepit. Ada yang dari kelas menengah atas, ada yang dari kelas menengah bawah. Semuanya berhenti sejenak ketika satpam melakukan pemeriksaan. Usainya, mereka melenggang kangkung menapaki lantai marmer yang disertai udara AC super dingin. Lampu kekuningan menerangi isi dalam mal. Lampu putih dari etalase kaca toko Hush Puppies menambah kesan mewah. Ibu nyaris tergoda melihat tas merah yang ternyata harga jutaan. Lalu melengos keluar toko sambil diikuti saya dan adik.

Belum 5 menit berjalan, justru saya yang tergoda pada salah satu laptop. Saya raba salah satu laptop keluaran terbaru Acer dengan spesifikasi Intel Core i7 dan NVIDIA nomor sekian. Seorang salesman datang sambil basa-basi bertanya laptop apa yang dicari. Setelah mengobrol beberapa saat, laptop itu bukan jodoh saya.

Keluar dari stand pameran laptop, saya melihat ada model yang sedang berpose dalam mobil. Model itu seakan dikejar-kejar oleh fotografer laki-laki. Mereka berebut memotret model cantik tersebut.

“Apa itu?” tanya saya dalam hati. “Ah! Lomba foto!”

Mata cepat menangkap maksud antara pameran mobil, fotografer laki-laki, dan model. Mata dan kaki bergegas mendekati pameran itu. Namun, adik menarik tangan saya erat untuk menjauhi pameran tersebut.

“Ih apaan sih! Mau ke situ!” tunjuk saya dengan tangan kanan sambil mengayun-ayunkan tangan kiri untuk melepas genggaman.
“Nggak, nggak boleh!” katanya dengan mata melotot.
“Hh!” gerutu saya sambil mengikuti adik yang menyusul ibu berjalan.

**

Setelah berkeliling, makan siang, dan solat zuhur, kami bertiga kembali lagi ke pameran mobil tersebut. Kali ini ibu mengizinkan saya untuk memotret model dalam pameran itu. Dengan rasa antusias dan wajah sumringah, saya bergegas menuju pameran mobil dan mengejar sesi foto model. Sementara ibu dan adik menunggu di sekitar daerah pameran mobil dan laptop.

Fotografer lain—konteksnya fotografer laki-laki— berebutan memotret model. Model saat sesi yang baru saya sambangi ini adalah model yang baru saya lihat. Rupa wajahnya tidak seperti saat saya baru menjejaki diri di mal. Model kali ini berambut panjang, pirang kecoklatan. Kemungkinan besar mengenakan lensa kontak di bola matanya. Ia mengenakan blus merah marun disertai dengan celana kulot hitam motif garis putih. Tidak terlalu seksi memang. Riasannya pun juga standar untuk pemotretan. Mungkin karena kompetisi foto ini dilaksanakan di tempat umum yang kerap dikunjungi anak-anak. Jadi ya, semacam menghormati lingkungan sekitar.

Sebelum memotret, biasanya saya mengamati sekitar dulu. Ada pertanyaan-pertanyaan yang melayang di kepala saya:
a. Apakah model itu merasa nyaman?
b. Apakah model merasa dihargai?
c. Etiskah mempublikasikan foto untuk tujuan komersil (menjual foto di mikrostok, dsb) tanpa seizin model?
d. Apakah saya malah akan mengganggu model?
e. Mengapa para fotografer di sana bernafsu sekali memotret model? Apa yang menarik?

Baca Juga: What is Release?

Setelah pertanyaan tersebut terkonfirmasi, barulah memencet tombol shutter dari kamera ponsel. Sebelumnya, saya amati dulu bagaimana posisi sudut pengambilan gambar (angle):
a. Apakah potret lurus menghadap model?
b. Apakah memotret dari arah samping?
c. Apakah fokus pada bagian tubuh tertentu?
d. Apakah fokus pada bagian tubuh tertentu disertai dengan objek nama merek mobil? Dan banyak lagi.

Baca Juga: Waspada Ekspektasi Saat Hunting Foto

Pastinya tidak diam di tempat seperti orang linglung. Saya puter-puter di daerah itu. Kadang ngepasin posisi agar objek masuk penuh ke layar kamera. Malah, lari-lari kecil supaya tidak tertinggal sesi foto. Parahnya, ketika posisi sudah pas, eh, ada fotografer lain yang tidak sengaja menghalangi pandangan.


Awalnya model belum memperhatikan arah kamera saya. Ketika fokus di satu posisi, mata kami beradu. Barulah saya pencet tombol shutter. Modelnya senyum gitu, aak! Tapi, auranya beda.

Dibandingkan dengan fotografer lain—yang kebanyakan laki-laki—model ini terlihat biasa saja dan terkesan menjaga jarak. Mungkin namanya juga sedang bekerja, all-out-nya sekedar untuk membantu fotografer yang sedang berkompetisi. Waktu pengamatan model sekitar 10-15 menit. Kebanyakan observasi sambil memposisikan angle yang pas.

Baca Juga: Hunting Foto Sendiri Bikin Kamu Jadi Berani. Yuk Coba! 

Anehnya, semua fotografer yang diamati ini justru terus-terusan “mengejar” model. Ketika usai, mereka justru meninggalkan lokasi tanpa menghampiri model. Ya, sekedar untuk mengucapkan terima kasih. Mungkin saja, peserta kompetisi foto ini kelelahan menenteng kamera high-end dengan portable lighting dan tripod.

Alhasil, model kelelahan. Dengan jeda tak sampai 1 menit, ia dipotret lagi dengan pose berbeda. Sebelum berprasangka, mungkin ini kali pertama saya melihat langsung lomba on the spot seperti ini.  Tapi ya, seharusnya agak lebih... manusiawi.

Berbeda rasanya ketika model tersenyum menghadap kamera ponsel saya. Wajahnya terlihat lelah dan meminta ingin istirahat. Auranya beda karena bertemu dengan sesamanya: perempuan. Bisa jadi ini asumsi sendiri. Tentu sangat beda bagi yang bisa merasakan proses pemotretan foto saat situasi ramai daripada yang hanya melihat hasil jadi seperti di bawah ini.

Bagaimana?

Usai memotret beberapa kali, saya langsung menghampirinya untuk mengucapkan terima kasih. Sayangnya, dia sedang dipotret pula. Namun saya tekan terus, dengan suara agak keras memanggil “Mbak.. mbak!” supaya ngeh. Dan... berhasil! Dia merespon dengan senyum yang buru-buru dipasang dan menjawab, “Sama-sama”.


Menjadi dan bertahan kerja sebagai model memang sulit.

**

Bacaan menarik: 

Nickmatulhuda, Eka. 2011. Perempuan yang Jadi Fotografer atau Fotografer yang Kebetulan Perempuan. 1000kata. http://www.1000kata.com/2011/04/perempuan-yang-jadi-fotografer-atau-fotografer-yang-kebetulan-perempuan/.

Shutterstock Contributor. Shutterstock Model Release Requirements. 

Komentar

  1. Wah, saya gak pernah mikir sampai sana tuh. Tapi setelah baca ini, jadi menggumam sendiri, 'iyayah~'.

    Kalau yang bisa saya ambil sih, intinya, terimakasih untuk mengapresiasi seseorang telah melakukan sesuatu kepada kita. Meski hal yang sangat kecil dan remeh, seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap betul sekali! Kadang hal-hal kecil itu sering banget terliput. Padahal dekat dan sederhana.

      Hapus
  2. Awesome shot!
    Cantik mbak nya

    Btw kok aku malah salah fokus ke mobilnya ya hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbaknya cantik XD

      Sekalian beli aja kak mobilnya hahaha

      Hapus
  3. Semoga mbaknya nyaman-nyaman saja dan suka sama pekerjaannya.

    Wah aku minta foto temanku, trus tiba-tiba teman yang lain ikutan moto aku mendadak ada tiga kamera moto aku aja rasanya risih hahaha gimana mbaknya pake SLR gede-gede gitu pula dan puluhan orang yang moto.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mbak, semoga dia menikmati pekerjaannya ya mbak.

      Kalo dibayang-bayangin, pasti risih banget sih mbak. Apalagi kalo yang kaku depan kamera, pasti bisa salah tingkah tuh.

      Hapus
  4. Tapi kadang ada kasian juga.. Klo info temenku sampai ada model yg terlalu di elploitasi. Sampai gak bsa istirahat mengejar tuntutan para fotografer

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh.. sampai ada yang dieksploitasi begitu....

      Hapus
  5. Apapun kerjaannya semoga dimudahkan selalu ya, Teh. Semuanya dilancarkan.. aamiin..

    BalasHapus
  6. Mengucapkan terima kasih .. iya ya, itu yang jarang sekali terpikir. Terima kasih sudah mengingatkan ya, Nadia :)
    Salam kenal. terima kasih sudah main ke blog saya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bunda, terlihat sederhana tapi praktiknya pol butuh usaha keras. Terima kasih juga bunda sudah berkunjung :) Kapan-kapan saya main lagi ke blog bunda :)

      Hapus
  7. Modelnya cantuk :-) tapi backgroundnya jelek bangetzzz.. Mungkin kalau ngambilnya pake low level lebih lumayan jadi bg nya ke atas..

    Tapi si mbaknya emang cantik jadi bg nya bisa diabaikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu foto itu, rasanya ga klop sama suasananya. BG-nya lah. cahayanya lah. Tapi gapapa deh, saya dapet cerita menariknya Pak hihi

      Hapus
    2. Bener sih setidaknya bisa buat bahan tulisan :-)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri