Asyiknya Ditantang Menulis di Komunitas


Hampir 12 hari ini saya mempublikasikan tulisan, baik melalui blog dan Instagram. Ibarat ada writing challenge “One Day One Post” yang tenar di kalangan blogger. Atau ada  “30 hari bercerita” yang tagarnya pernah bertebaran di Instagram saat awal tahun.

Kegiatan ini selalu menyenangkan, dan pastinya mengasah kreativitas.

Mungkin saya hidup di kota yang mobilitasnya padat. Pembaca menunduk sambil menggulirkan tulisan-tulisan yang mereka baca via gawai pintar. Rata-rata, mereka membaca berita, artikel listing, atau trivia yang dianggap menarik dan menyegarkan pikiran. Ada juga yang baca meme dan jokes. Fanfict. Ada.

Sayangnya, tak semua mau berlama-lama membaca cerpen, novel, atau esai yang idealnya di atas 1000 kata. Mungkin saja, waktu mereka habis meneliti kehidupan orang di Instagram atau mencari ide receh di linimasa Twitter atau LINE. Atau, mungkin saja tak sempat karena tak tega membaca akhir ceritanya. Jadi ditunda sampai mood dan waktu selaras. Khas anak milenial. Mungkin, Anda bisa saja tak sepakat dengan saya. Tak masalah.

Begitu tahu dan langsung bergabung writing challenge yang diinisiasi anggota Nulisyuk Batch 6, kini penulis-penulis itulah kelak menggantikan warna bacaan para pembaca. Berkumpul dari sudut pandang berbeda dengan pengalaman yang beraneka pula, berharap bahwa para penulis ini bisa meyakinkan pembaca. Akan ada saatnya pembaca upgrade bacaan supaya otak selalu mendapat asupan bergizi. Paling tidak, para pembaca tidak hanya menjadi budak atas tulisan-tulisan yang berpola sama: menarik, mengejutkan, tapi kosong. Alhasil, diskusi dengan teman, keluarga, atau pasangan, tak sampai pada impian yang mereka utarakan sendiri: membangun keluarga cerdas, beriman, toleran, dan beradab.

Satu lagi, tanggap teknologi.

Dan ya, para penulis juga mengemban amanah berat. Penulis juga harus upgrade bacaan, tanggap dengan isu yang advanced pula, entah itu teknologi, humanity, dan lain-lain. Kemudian dikemas sedemikian rupa layaknya penulis-penulis besar yang dipajang karyanya di toko buku ternama. Berat? Jelas berat. Menjelaskan hal-hal kompleks dengan bahasa yang mudah membutuhkan latihan keras. Apalagi tulisan. Saya sadar sekali bahwa lingkungan kita tak terbiasa menulis dan membaca. Bisa saja karena faktor warisan sejarah, bahwa bangsa kita adalah bangsa pencerita. Bukan penulis dan pemikir keras layaknya Cina dan Timur Tengah.

Namun dari kita yang pencerita itulah menjadi angin segar. Menceritakan kehidupan masyarakat Indonesia yang sedang digempur Industri Revolusi ke-4? Mempersuasi masyarakat agar melek mana bacaan yang valid dan yang hoax? Mengajak pembaca agar mementingkan nilai hidup agar mereka berguna bagi sekitar dan didoakan setelah akhir hayat?

Untuk duo PJ tercinta, perempuan, salut banget dengan kekuatan besar kakak. Melobi ego dan mengalah untuk belajar bersama adalah hal yang langka saat ini. Kritik justru terletak di penulis dan pembaca itu sendiri. Perkara menunda-nunda atau procrastinating serta menentukan arah dan langkah hidup adalah introspeksi bagi kita masing-masing.

Btw, selamat belajar buat kita! Tetap semangat menulis. Tetap semangat mewujudkan mimpi menerbitkan sebuah buku.

With love,
❤️
yang ketagihan ikut writing challenge di grup Whatsapp.

#Survivalbatch6
#keepalive
#PnFB_2
#nulisyukbatch6
#day15
#KesandanPesan

Komentar

  1. Setelah one day one post..nanti tingkatkan jadi obe day ten posts yah ..:-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow banyak sekali itu. Tapi bolehlah dicoba hehe

      Hapus
  2. Aku udah nyerah deh, ikut dan bikin challenge.

    Dulu pernah, bikin challenge #1Week1ShortStory tapi cuma tahan beberapa bulan, trus udahan.

    Yang akhirnya dikemas jadi majalah online aomagz.blogspot.com , sempat nyala beberapa bulan, trus udahan. Semua penulis yg gabung gak semangat karna gak ada royalti. Hihi

    Pernah bikin #1Month1Book, tapi failed terus tiap bulan. akhirnya udahan.

    Akhirnya challenge yg aku lakuin skrg ya buat diri sendiri aja. Yaitu bikin flashfiction dalam 30 menit. Itu juga kalo lagi mood. Setahun paling cuma sanggup 3-4 kali wkwk

    Plus sekarang lagi mabok tesis.
    Yaudah deh, vakum dari dunia tulis menulis wkwkkwkw

    Sedih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang sekali ya kak. Padahal kakak dikit lagi loh bisa ngerealisasiin challenge-nya jadi buku. *padahal diri sendiri juga masih harus di-challenge buat nulis.

      Mantap kak, udah tesis aja. Semoga sukses dan lancar tesisnya kak! :D

      Hapus

Posting Komentar

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri