4 Alasan Mengapa Anda Harus Menulis

Menulis? Untuk apa sih menulis? Mending nge-game aja~

Menulis dan menulis. (Foto: Kaboompics / Pexels)

Menulis kini bukan kegiatan yang asing lagi. Menulis sangat akrab dalam kehidupan kita. Kalau Anda membaca koran, siapa yang menulis? Kalau Anda hobi membaca komik, hayo siapa yang menulis?

Atau bagaimana jika Anda tiba-tiba keranjingan membaca fan fiction Naruto, Death Note atau Boys Before Flower yang penggambaran ceritanya di luar imajinasi kita?

Bagaimana jika Anda senang membaca portal berita yang bahasanya anak milenial dan bertema kids jaman now banget, siapa coba yang menulis?

Tetot!

Tentu saja, di balik tulisan-tulisan apik di media yang sering Anda temui, ada perjuangan dan komitmen agar konten berkualitas selalu dihasilkan. Hal yang lebih penting, penulis tersebut pasti mempunyai strong why untuk tetap produktif menghasilkan karya tulisan.

Pernahkah Anda terpikir bagaimana mereka tetap kreatif menghasilkan tulisan yang menginspirasi, menghibur, bahkan mengobati luka-luka akibat mantan Anda? Mari kita telusur!

1. Menulis itu kebebasan berekspresi

Senang membaca tulisan, senang juga menulis. Betul atau betul? 

Beruntunglah jika Anda hidup di negara demokratis yang menjamin kebebasan rakyat untuk mengeluarkan aspirasi dan pemikiran. Jika Anda tinggal di negeri kita seperti ini: Indonesia, kebebasan berekspresi itu dijamin di Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28. Tentu saja, sebebas-bebasnya berekspresi tetap saja harus mengikuti norma dan memiliki attitude atau sikap yang baik.

Psst, tulisan yang dibaca oleh masyarakat juga menjadi indikator seberapa luas pengetahuan individu di negara tersebut loh.

Tak hanya itu, bila Anda adalah seorang introver, sering terkena perundungan (bully), atau dipenjara seperti Bapak Moh. Hatta dan Tan Malaka, menulis merupakan kekuatan dahsyat untuk mempengaruhi pembaca di luar lingkungan si penulis. Ekspresi penulis lebih kentara dan apa adanya dibandingkan kita yang masih berada dalam zona nyaman. Hal ini disebabkan unek-unek atau keresahan yang terakumulasi dalam tubuh dan pikiran, kemudian disalurkan melalui tulisan agar pembaca tersadar. Kemudian, jadilah sebuah tulisan yang sifatnya lebih tajam dari pedang, dan lebih pedas dibandingkan jalapeno.

Tak jarang, dari sebuah tulisan, penulis-penulis yang sebenarnya membawa ide brilian bagi negara dan bangsa, malah diburu dan ditangkap karena dianggap mengancam.

2. Menulis itu katarsis
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring, kata katarsis itu sendiri adalah cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas. Cara-cara untuk melakukan katarsis ini, salah satunya menulis.

Walaupun aku pemalu, tapi tulisanku menyadarkanmu kan?
(Foto: Pexels)

Berkaca dari pengalaman penulis, saya pernah mengalami masa terlambat mengenal alfabet saat masuk taman kanak-kanak. Saat itu, saya tidak bisa membedakan bentuk huruf a, b dan d. Tapi selalu ingat huruf v, w, x, y, z. Ibu saya khawatir karena saya juga terlambat mengolah informasi yang diajarkan ibu. Saya pun kesal dan tidak ingin belajar lagi.

Parahnya, pihak sekolah memberlakukan daftar ulang kelas 1 SD melalui tes baca dan tulis. Dengan perlahan mengeja kata per kata dan menandai titik koma sebagai tanda jeda, saya berhasil lolos dengan pertimbangan “anaknya diajarin membaca lagi ya Bu”. Nyesek nggak sih?

Suatu malam, saat saya asyik mewarnai, ibu mendekati saya. Ibu bilang, “Kakak, ini ibu berikan buku diary ya.” Saya bertanya-tanya apa itu buku diary, dan beliau menjelaskan bahwa itu adalah buku yang membuat seseorang bebas menulis apa saja. Di buku itulah seseorang juga bisa melatih cara memegang pensil yang baik, menulis dengan tulisan yang rapi, dan tentunya, melatih kebebasan berekspresi. Sejak saat itulah saya menulis hal apapun hingga kuliah tingkat empat. Sampai-sampai, tumpukan buku diary itu tinggi dan tidak muat dalam rak buku.

Melalui buku diary, saya bisa mengenal siapa diri saya, bagaimana karakter pemikiran saya, apa masalah hidup saya, kemana arah dan tujuan hidup saya, dsb. Menulis di buku diary juga berhasil menyelamatkan diri saya dari perundungan kala SD kelas 2-3, SMP kelas 3, dan SMA kelas 2. Perlahan, saya menjadi kuat karena sering membaca ulang tulisan diary, dan mendapatkan teman yang memiliki hobi menulis.

Bukankah menyenangkan jika menemukan dan mendapatkan teman yang saling menghargai dan mendukung diri Anda?

3. Menulis adalah pekerjaan

Bekerja sebagai penulis, tentu saja rajin membaca. (Foto: bruce mars / Pexels)

Setelah penulis banyak berlatih dan advance menguasai kemampuannya, maka pekerjaan sebagai penulis adalah ladang potensial dan menghasilkan untuk menunjang kehidupannya. Sudah tidak asing lagi, pekerjaan sebagai penulis banyak diekspos di media massa, bahkan diliput di media teve nasional. Bahkan, founding fathers kita juga hobi menulis loh!

Tak asing juga, pejuang-pejuang kemerdekaan pun juga ada yang memberikan kontribusi berupa tulisan. Tulisanlah yang bekerja untuk menyadarkan rakyat. Tulisanlah yang juga memicu semangat perlawanan. Wagelaseh, semua orang bisa bekerja dengan menulis!

Bahkan, sebuah tulisan juga bisa dibayar apa adanya, tergantung seberapa sanggup pemberi pekerjaan memberikan upah. Jika Anda pernah atau sedang bekerja sebagai penulis serabutan, tak jarang Anda harus mengelus dada dan bersabar karena upah yang diberikan tidak sebanding dengan kemampuan berharga anda. Bahkan, banyak penulis konten yang sering menemukan harga tulisan tak ubahnya harga satu dua buah roti yang dijual di stasiun-stasiun kereta api. Menggeramkan bukan?

Lain halnya dengan penulis yang dibayar tinggi berdasarkan seberapa banyak pembeli yang membaca karya-karyanya. Karya yang terpampang dan dipajang di toko-toko buku, menjadi sumber penghasilan, reputasi, bahkan inspirasi yang patut dilanjutkan. Masih ingat kan, penulis yang produktif menghasilkan karya, juga akan membuat tingkat membaca masyarakat tinggi? Semakin banyak buku yang diproduksi, ekonomi negara juga semakin meningkat, ya atau tidak?

Menulis adalah pekerjaan, dan memang akan tetap menjadi pekerjaan penulis. Sayangnya, jika finansial penulis tidak didukung dan dihargai, maka nyawa tulisannya menjadi mati dan tak ubahnya seperti zombie yang dipaksa bekerja.

4. Menulis adalah ibadah
Menulis adalah ibadah. Adagium ini populer dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun pernyataan ini sudah berlaku sejak zaman dahulu, namun kebanyakan orang baru sadar bahwa menulis juga bagian dari ibadah.

Kitab suci seperti Al-Qur'an juga mahakarya tulisan dan inspirasi.

Saya sendiri teringat akan pernyataan sebab-akibat ini:
“Apa yang kau tulis, akan dipertangungjawabkan di hari akhir nanti. Jika yang kau tulis itu bermanfaat, maka kebaikan akan menyertaimu. Jika yang kau tulis itu sia-sia, sayang sekali, kau telah menghabiskan banyak waktu.”

Setuju kalau menulis itu ibadah?

By the way, itulah empat alasan mengapa Anda harus menulis. Jangan pernah takut, setiap tulisan itu bagus. Yang menentukan hanyalah selera pembaca dan pasar. Setiap tulisan punya harga, setiap tulisan punya cerita dan nyawa. Yang membedakan adalah, seberapa gila Anda membaca banyak buku dari berbagai penulis.

Selamat menulis! 

**

Tulisan ini adalah bentuk kontribusi dalam Challenge Post Komunitas Nulisyuk Angkatan 6. 

Tema hari ke-3Strong Why
Apa alasan terkuat kamu untuk menulis hingga detik ini.

Hashtags
#Survivalbatch6
#keepalive
#PnFB_2
#nulisyukbatch6
#day3
#StrongWhy

Anda berminat bergabung di komunitas Nulisyuk? Yuk mari kunjungi Instagramnya di @nulisyuk

Selamat menulis! :) 

Komentar

  1. Telepas dari alasan2 menulis, buat aku menulis itu me time hihihi, writing for myself first and if it useful for the others, it's a bonus.

    www.ursula-meta.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap betul sekali mbak, setuju!

      Hapus
  2. Setuju dengan alasannya, dan sampe sekarang inilah saya tetap lanjut menulis..
    Dan menulis juga bagi saya sebuah ketenangan, karena ide itu selalu muncul dari mana, saja, rasanya belum tenang kalau belum dituliskan..he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik! Semoga tetap selalu tenang dan senang menulis ya kak :)

      Hapus
  3. Sayangnya, "menulis itu ibadah" sering disalahgunakan oleh orang lain (di luar yang menulis itu). Misalnya ketika seorang penulis mempersoalkan tulisannya yang diplagiat oleh maling (bagi saya, plagiator = maling), adaaaaaa saja orang, bahkan yang mengaku sebagai temannya, mengatakan, "Menulis itu ibadah. Nggak apa-apa diplagiat. Kan idenya juga dari Allah. Bukan punya kamu." >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia bunda. Saya juga heran kok bisa ada orang berpikir sejauh itu untuk dalih plagiasi tulisan. Ibaratnya bawa-bawa nama Tuhan dan ibadah untuk kegiatan negatif. Sedih sih, tapi faktanya begitu. Penulis memang harus sabar-sabar, sayangnya mah kita punya batas juga. Ujung-ujungnya penulis lagi yang harus expand bacaan dan tulisan sampai nggak bisa diplagiat.

      Tetap semangat menulis ya bu! Salut buat postingan ibu yang selalu warning penulis-penulis palgiat!

      Hapus
  4. Gw mah nulis buat narsis, wkwkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri