Jalan Pulang

Empat tahun lalu usai mengikuti pelatihan dari sebuah organisasi kampus, aku mengendarai motor matik menuju gerbang perbatasan Kukusan dan kampus. Sebut saja gerbang pintu Kukusan. Hari itu hari minggu, jalan lingkar dalam kampus terlihat sepi. Motor pun hanya beberapa yang lewat. Apalagi ke arah gerbang pintu Kukusan.

Tepat pukul tujuh pagi, aku sudah sampai di gerbang tersebut. Tak tahunya, ditutup. Yah elah. Mana sebentar lagi akan hujan. Lingkungan sekitar sepi sekali. Duh paniknya. Kalau ada pencopet atau perisak motor bagaimana? Kutenangkan diri. Sambil menarik napas, aku parkirkan motor dekat pintu masuk gerbang. Kemudian membuka jok dan cepat-cepat mengambil jas hujan.

Jalan diguyur hujan. Siapa yang mau menjamin kau aman?

Tak sampai lima menit, hujan langsung mengguyur deras. Daerah tempatku parkir tidak ada pohon yang menahan arus hujan turun. Saat menghidupkan motor, aroma hujan semakin menguat dan air yang turun semakin menyakitkan kulit. Terlalu dingin. Angin terlalu kencang. Motor yang dihidupkan hampir mati lagi. Kalau betulan terjadi, matilah aku terjebak hujan.

Bukannya termasuk sial juga. Asalkan sudah siap jas hujan, bensin, dan keberanian, maka kuputuskan untuk menerobos hujan deras minggu pagi itu. Motor melaju agak sedikit kencang meskipun jalanan licin. Aku tahu, meskipun agak berisiko, itu semua agar aku bisa keluar daerah sepi dengan cepat. Kulaju motor ke arah pintu gerbang utama kampus dan berharap bisa selamat dari kejaran hujan.

Selama perjalanan, aroma hujan yang baru kukenal istilahnya—petrikor—menenangkan pikiranku. Dengan mata dalam keadaan siaga, kuperhatikan keadaan jalan sekitar sambil menghirup petrikor yang lama-kelamaan membuatku mual. Cacing perut sudah berpaduan suara. Gas asam lambung mulai meningkat. Sementara ini sudah pukul tujuh lebih beberapa menit.

Sampailah di jalan Srengseng Sawah, daya fokusku menurun. Aroma petrikor itu perlahan mulai menghilang. Saat itulah aku baru ingat bahwa pintu gerbang Kukusan baru dibuka pukul delapan. Aku pun menarik napas lagi dan mencari-cari petrikor untuk menyegarkan pikiranku. Sudah hampir setengah jam melajukan motor dalam keadaan lapar. Apakah aku harus menepi dan sarapan nasi uduk di sekitar warung di sana?

Tidak usah. Minum air dari botol minummu saja.

Oke. Kalau begitu menepi dan menghirup aroma petrikor sejenak. Kemudian minum beberapa teguk air. Kuingat-ingat jalan yang kulewati saat itu. Sepertinya aku melewati jalan yang salah. Tak ada papan petunjuk warna hijau dari Dishub yang mengarah ke Kukusan. Apakah aku tersesat?


Aroma petrikor semakin lama-semakin menguat ketika aku tak sengaja melewati jalanan becek. Tak disadari aku mengumpat setengah teriak. Untung saja suara itu diredam oleh helm. Sempat saja terdengar, bisa-bisa dipelototi preman yang siap merebut motor. Setelah itu kukencangkan lagi laju motor untuk pulang dan berintrospeksi diri mengapa salah memilih jalan seperti ini.

**

Penggambaran petrikor bisa dilihat di sumber berikut:
Deutsch Welle Indonesia: Rahasia di Balik Harum Hujan.

--

Tulisan ini adalah bentuk kontribusi dalam Challenge Post Komunitas Nulisyuk Angkatan 6. 

Tema hari ke-6"Petrichor
Buatlah sebuah tulisan tentang petrichor, jenis tulisan bebas, bisa puisi, cerpen, artikel, dll sesuai kreativitasmu! 

Hashtags
#Survivalbatch6
#keepalive
#PnFB_2
#nulisyukbatch6
#day6
#Petrichor

Anda berminat bergabung di komunitas Nulisyuk? Yuk mari kunjungi Instagramnya di @nulisyuk

Selamat menulis! :)  

Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri