Keluarga-keluargaan

Begitu tidak percaya dirikah menceritakan tentang kondisi keluarga?

Tergantung situasi dan kondisi.


**

Ketika aku bergabung kedua kalinya di writing challenge yang diinisiasi oleh Komunitas Nulisyuk angkatan 6, ada firasat yang mengatakan bahwa aku harus lanjut menulis. Dalam keadaan sedikit memaksa penulis pemula dan tekanan yang diatur sedemikian rupa, aku pun telaten mengerjakan tugas-tugas menulis. Dimulai dari bercerita tentang diri. Saat seorang penanggung jawab di grup Whatsapp mengajukan tema tentang keluarga, perlahan ada rasa luruh seperti kutub es Antartika yang perlahan mencair.

Begitu tidak percaya dirikah menceritakan tentang kondisi keluarga?

Tergantung situasi dan kondisi.

Aku pun memahami, saat kuliah di tahun keempat dan kelima, keluarga menjadi sangat penting. Keluarga, dalam makna sebenarnya: ayah, ibu, kakak, adik, kakek, nenek, dan anggota-anggotanya. Bukan keluarga-keluargaan seperti didengung-dengungkan saat mahasiwa baru menjalani ospek, atau bukan yang dianggap akrab sampai mampu menyelesaikan utang sesama teman dekat. Bukan.

Keluarga telah mengerucut pada makna spesifik. Teman-teman seumuranku kini justru mengurus kehidupan masing-masing, jarang berkumpul hanya untuk mengeluarkan gelak tawa kehidupan secara satir, atau berdebat hal-hal tak perlu mengenai siapa menteri atau orator yang ganteng. Kebanyakan dari mereka sudah keluar dengan resmi dari kehidupan kampus yang unyu, idealis, dan bias. Sebagian ada yang nekat lari dari kehidupan kampus karena kampus bukan tempat yang baik atau bertumbuh = DO. Ada pula mereka yang masih bertahan sepertiku sampai tahun keenam. Di sinilah masing-masing bersandar pada keluarga yang ada di rumahnya setelah bersandar pada Tuhan.

Sekilas, aku pun jadi teringat bagaimana proses demokrasi keluarga di kala santai. Saat itu aku, ayah, adik, ibu, dan seorang asisten rumah tangga berkumpul di ruang tivi sambil bercerita tentang kelucuan hidup.
Berkumpul bersama. (Foto: Helena Lopes / Pexels). 

Ayah mempunyai gaya bercerita layaknya pendongeng dari Minangkabau, dengan suara menggelegar tapi masih ada cengkok sikit-sikit, menceritakan situasi pasca kelahiran adikku di Ternate 20 tahun lalu. Masa-masa kerusuhan saat reformasi, membuat adik, aku, dan ibu mengungsi ke Soasiu karena rumah sakit dibakar oleh massa. Ibu menambahkan, massa tersebut terbakar emosi karena perbedaan yang tak bisa didebat lagi. Rumah sakit Katolik di Ternate saat itu nyaris hangus, sementara adik masih tidur nyenyak dalam inkubator. Adikku senyum-senyum sendiri mendengar hal itu. Sementara mbak—asisten rumah tangga—memperhatikan dengan seksama.

Prasangkaku semakin menguat. Cukup melelahkan mencerna situasi adik dan ibu yang pelik seperti itu. Sementara ayah, sebagai pelindung, turut menceritakan bahwa yang ia lakukan untuk mempertahankan keutuhan keluarga meskipun bersama-sama menghadapi masa-masa reformasi yang tak tentu. Di satu sisi, pelajaran sekolahku juga menceritakan masa reformasi yang diklaim demokratis. Nyatanya, tidak. Ada keluarga yang harus berkorban untuk bertahan. Jadi, masa reformasi hanya menguntungkan satu pihak saja.

Proses demokratis berupa berkumpul bersama di ruang tivi itu perlahan makin erat. Kami bercerita tentang hal-hal yang membuat sebal. Tentang anak-anak sekolah yang banyak gaya tapi nol skill. Juga tentang kasus-kasus anak dan perempuan yang ibu tangani di kantor hingga hampir stres jika anak-anak perempuannya bertingkah. Sebagai orang rantau, kami dibiasakan untuk berkumpul bersama agar tahu keadaan masing-masing. Hal ini juga untuk mengurangi rasa khawatir ayah, ibu, dan mbak terhadap kami—bocah tengil—dan juga perempuan ini. Dan kembali lagi, masa reformasi itu telah selesai dan kini sedang dijalankan oleh keluarga kami, melakukan proses demokrasi dari internal keluarga. Prasangka baikku kembali memulih.

Kembali pada keluarga-keluargaan yang didengungkan kala ospek, yang disanjung-sanjungkan saat masa kepengurusan organisasi. Lepas dari semua lembaga-lembaga itu, aku dan teman-teman seumuranku kembali ke keluarga yang sebenarnya. Membuat simbol dan memberikan makna baru dengan situasi dan kondisi yang sengaja diciptakan, hanya bertahan semu. Simbol dan makna keluarga yang didefinisikan saat awal masuk kampus, itu hanya gimik untuk menambah anggota-anggota baru. Gimik untuk melancarkan dialog-dialog idealis nan memanjakan.

Sedangkan orang-orang di dalam sana, tak semua betul-betul tulus seperti keluarga di rumah.


Padahal di luar sana, ada jutaan keluarga di negeriku yang sedang dipertahankan. Kalau karena mengedepankan ego, gengsi, harta, dan ekonomi, mungkin takkan pernah aku bertemu dengan teman-teman seumuranku di kampus perjuangan itu. Proses demokratis dalam keluarga di rumah memang hanya membutuhkan telinga, tapi menghadirkan hati yang tulus, hanya Andalah yang mengerti. 

**

Tulisan ini adalah bentuk kontribusi dalam Challenge Post Komunitas Nulisyuk Angkatan 6. 

Tema hari ke-2This is My Family.

Hashtags
#Survivalbatch6
#keepalive
#PnFB_2
#nulisyukbatch6
#day2
#ThisIsMyFamily

Anda berminat bergabung di komunitas Nulisyuk? Yuk mari kunjungi Instagramnya di @nulisyuk

Selamat menulis! :) 

Komentar

  1. Keluarga sejatinya adalah tempat kita kembali pulang. Bentuknya bisa apa saja. Keluarga yang terbentuk dari hubungan biologis,sosial,atau budaya. Selama kita menganggapnya sebagai rumah, itulah keluarga. Salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya, benar juga ya mbak. Terima kasih atas pengingatnya. Salam kenal juga :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri