Apa Zona Nyaman Menulis Anda?

Zona nyaman. (Foto: Pixabay)

Ya Tuhan, sudah setua ini. Apa ya zona nyaman menulis saya?

Jika saat ini Anda sudah 22 tahun, berarti hampir 16 tahun berkutat di dunia literasi. Anda mulai belajar membaca dan menulis sejak 6 tahun. Anggaplah kelas 1 SD. Kemudian, membangun imaji dan angan di alam pikir dari ratusan buku-buku yang telah dibaca.

Beranjak dewasa, barulah menghadapi berbagai macam realita hidup yang rupanya juga tertera dalam novel-novel. Segala pahit manis, aku dan kau telan semua agar bisa mengambil hikmahnya.

Bagaikan spons, semua yang dibaca akan diserap dan diendap. Suatu saat nanti, endapan itu akan keluar dengan sendirinya berupa tulisan, tindakan, dan ucapan. Spons itu memang memiliki zona nyaman sendiri, ibarat ia yang senang dicelup di tempat berair dan berendam selamanya di sana. Namun, tak ada gunanya juga spons direndam terus. Ada saatnya ia dipakai manusia untuk mengelap atau mencuci.

**

Semenjak ibu mengenalkan buku harian padaku, aku semakin rajin menulis dan membaca. Mengingat daya kembang akademisku cukup lambat saat awal-awal masuk SD, lalu kulahap semua buku berbagai genre agar kosakataku bertambah. Tak lupa, kutuliskan pula apa perasaan hari itu, seperti apa suasana yang sedang kujalani, dan siapa orang-orang yang kutemui. Semua itu kulakukan agar aku bisa mengejar ketertinggalan di sekolah.


Masih ingat pula, aku menulis dengan tangan kiri saat itu. Tekanan dari seorang guru yang bernasihat bahwa tangan kiri identik dengan ketidaksopanan. Terlebih, ketika menulis. Bagi orang Jawa Tengahan yang merupakan lingkungan tempat tinggalku dulu, tangan kiri yang beliau gambarkan adalah tangan yang kotor. Lantas, apa gunanya kedua tangan diciptakan? Bagaimana jika tangan kananku lumpuh atau kena luka bakar? Maka itu, aku terpaksa menuruti dan berlatih keras menulis dengan tangan kanan. Bahkan semuanya dengan tangan kanan. Kecuali membersihkan hadas.

Zona nyamanku saat itu adalah tekanan. Aku ditantang bahwa aku harus melakukan apa yang diminta orang lain. Mungkin karena masih kecil, jadi tekanan itu layak dikerjakan, worth. Efeknya kutuai hingga sekarang. Secara tak sadar, aku bisa menulis dengan dua tangan, kiri dan kanan. Bahkan untuk menulis buku harian pun, atau lelah mencatat karakter Han klasik dengan salinan terjemahan di papan tulis saat kuliah. Tak hanya itu, ada rasa percaya diri bahwa tak semua orang bisa menyusun gagasan dan pendapat dengan tulisan.

Tenang dan seimbang adalah kuntji. (Foto: Nandhu Kumar / Pexels)

Sayangnya, seiring berkembangnya diri, zona nyaman itu berubah drastis menjadi mencari ketenangan. Pernah teringat sebuah kutipan:

“Ketika manusia sudah memenuhi segala kebutuhannya, dan perutnya dalam keadaan kenyang, maka ia dengan mudah berfilsafat.”  

Kutipan itu pas dengan keadaan lingkungan yang semakin riuh namun orang-orang berlomba mengenyangkan perutnya. Faktanya, sebagian dari mereka lupa untuk memikirkan makna dan nilai hidup. Serta core skill. Akibatnya, aku mengambil kesempatan untuk mencari ketenangan di antaranya. Dampaknya, bila ada teman-temanku yang berapi-api cerita curahan hati, aku setia mendengar dan mengambil hikmah darinya. Kemudian, aku pergi ke tempat tenang untuk menulis hasil refleksiku.

Anehnya, di sanalah segala ide menyembur seperti pijar-pijar kembang api. Berlimpah ruah seperti buih. Kadang aku kelelahan untuk mengambil garis besar ide itu. Menulis dengan tangan tidak sanggup lagi dilakukan. Mengetik? Takkan cepat. Merekamlah yang menjadi solusi untuk mencatat ide-ide dengan tenang.

Pada akhirnya, aku menggunakan ketenangan diri sebagai zona nyaman menulis. Harus tenang, harus bisa mengambil apa garis besar dari sebuah ide yang meledak-ledak. Serta, sependek apapun tenggat waktu yang diberikan, seorang penulis harus tenang. Kadang, emosi bisa menghancurkan diri dan tulisan.
Tenangkan dirimu. Tarik napas dulu. (Foto: Pixabay)

Ketenangan dirilah bagai air untuk meredam bara api. Bara itu adalah rasa ambisius. Air itu adalah hikmah. Walaupun air itu dingin sekali, bahkan sampai mati rasa, ialah yang memberi rasa tenang untuk mengamati lingkungan secara realis dan objektif. Walaupun air itu rasanya sakit bila terkena kulit yang melepuh, ialah yang menyembuhkan. Agar rona diri tetap bersemangat menjalani hidup yang semakin kompetitif.


Bagaimana dengan zona nyaman menulis Anda? Yuk bagikan cerita menarik Anda agar kita saling menginspirasi :) 

---

Tulisan ini adalah bentuk kontribusi dalam Challenge Post Komunitas Nulisyuk Angkatan 6. 

Tema hari ke-5: "Your Comfort Zone”

Ceritakan kondisi ternyaman kamu untuk menulis. Bisa suasana tempatnya atau apapun yang mendukung produktif untuk menulis.

Hashtags
#Survivalbatch6
#keepalive
#PnFB_2
#nulisyukbatch6
#day5
#YourComfortZone

Anda berminat bergabung di komunitas Nulisyuk? Yuk mari kunjungi Instagramnya di @nulisyuk

Selamat menulis! :) 

Comments

  1. Justru saya tidak punya zona nyaman dan jujur saja menghindari masuk ke dalam zona itu. Sebisa mungkin saya usahakan zona itu tidak terbentuk.

    Saya harus bisa menulis dalam berbagai situasi, seperti dalam Commuter Line yang padat sekalipun saya tetap harus bisa menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius Pak? Kalo saya baca dari cerita bapak, sepertinya tekanan itulah yang jadi "zona nyaman". Walaupun nggak secara tersirat sih hehe.

      Atau mungkin zona nyaman bapak adalah niat? Jadi dalam kondisi apapun terus menulis. Harus dilanjutkan nih pak, salut!

      Delete
    2. Hahahahaha.. maybe yes dan maybe no.. tetapi, zona nyaman kan kalau merasa nyaman dengan sesuatu, dan saya memang mikir nggak seharusnya demikian.

      Entahlah, tantangan memang bisa lama-lama jadi zona nyaman juga, tapi juga saya sering berpindah ke tanpa tantangan. Jadi, prinsipnya ga mau berlama-lama di tempat lain.

      Kalau sedang tenang, saya pindah ke tempat yang ramai. Kalau lagi rame, saya pindah ke tempat tenang. Pokoke nomaden...

      Tapi bisa diartikan saya berada di zona nyaman "fleksibel"... :-D alias tidak terikat pada teori zona nyaman

      Serius.. nulis di kereta pakai tablet, sampai sekarang masih dilakukan

      Delete
    3. Ya Tuhan, perjuangan banget menulisnya ... Wah saya belajar kerja keras dari Pak Anton nih. Mantap!

      Salut banget! Semangat pak! :D

      Delete

Post a Comment

Popular Posts

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri