Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Lebaran Sehat dengan Asupan Berserat, Pilih Kue Barongko atau Koktail Buah?


Ramadan telah pergi. Puasa penuh dengan perjuangan diri.

Berpuasa itu pelajaran abadi. Sisa belasan bulan kelak, kita akan terus berpuasa yang sebenar-benarnya. Bulan Ramadan menguji kita, mampukah mengendalikan diri?

Apa kabar dengan kita yang khilaf saat berbuka puasa? Bicara kondisi kesehatan diri, sudahkah mengecek gizi makanan pasca berpuasa?

Apa kabar hari ini? Cek dulu kolesterol dan karbo, supaya hati tetap terjaga dan pikiran tetap kalem.

**

Ngomongin soal makanan, sekarang jadi sadar kalau badan punya batas tertentu. Waktu kecil, kita sanggup menghabiskan permen, lidi pedas, mi goreng kremes, bahkan mecin-mecin. Saat ini, harus pikir ulang.

Dulunya, sanggup makan lontong atau sate Padang beberapa piring, Sekarang, duh, tiba-tiba tumbang bisa repot.

Dulunya, ketagihan minum minuman manis dan es. Kuat menghabiskannya dalam beberapa gelas atau botol. Sekarang? Bakal kepikiran deh tuh kalau radang tenggorokan.

Apa yang dimakan, itulah yang bereaksi ke tubuh.

Buat pembaca yang berumur 21-an ke atas seperti saya, mulailah selektif memilih makanan. Berkaca dari pengalaman saya pasca Lebaran yang sering sakit dan bahkan dirawat inap, efeknya sadar kalau kita nggak bisa melahap semua makanan.

Dengar kata ibu sih, karena perut terbiasa puasa, jadi butuh adaptasi dulu. Apalagi kalau kamu habis berantem, pasti adaptasi dulu dong biar kalem dan gak meledak kayak nuklir Hiroshima. Wajar manusia punya nafsu dan hasrat. Siapa yang nggak tahan lihat makanan sedap dipandang mata?

Sebagai pemadam kelaparan, makan buah menjadi solusinya. Ibu selalu sedia buah pisang di meja makan. Nggak peduli deh mau habis atau nggak, asal ada niat buat gerak dan ngunyah satu-satu, pasti pada senang tuh perut.


Di kulkas, ibu juga sedia lepat pisang (lapek pisang; sebut orang Minang). Bedanya lepat ini asal Makassar, disebut Barongko. Dikemas rapi dengan daun pisang. Kemudian ditata apik dalam satu boks plastik dan diawetkan dalam kulkas. Pisangnya? Tanpa pengawet, tanpa pemanis buatan. Karena biasanya dipermanis dengan gula aren. Biar nggak pahit kan perjalanan kita.

Barongko yang merupakan makanan khas Bugis, bertekstur lembut dan lumer di lidah. Ada rasa dingin nan menyegarkan di tenggorokan. Karena pisang pada dasarnya mengandung zat kalium yang menetralkan kadar sodium. Biar tubuh nggak asin-asin amat, amit-amit kan kalau darah tinggi :(


Barongko kaya serat ini cukup praktis serta berkadar air tinggi, sehingga  siap melancarkan saluran pencernaan kita.

Cucok deh buat yang begah makan seharian ini. Jaga-jaga sebelum pusing.

Ada lagi nih, koktail buah yang mampu menyempurnakan konsumsi buah dalam tubuh kita. Misalnya bertamu nih, biasanya disediakan koktail buah. Paduan antara nanas, pepaya, semangka, timun suri, didinginkan dan diberi pemanis alami pada takaran seimbang di lidah. Cukup untuk mengobati panas dalam dan mulas perut.


Nggak perlu khawatir lagi deh takut gendut gara-gara buah. Mengenyangkan saat lapar, tapi melegakan kalau demen berbadan sehat. Yang malas gerak ngupas-ngupas buah, tinggal hap dan kunyah santai.


Saya berterima kasih banget pada ibu di rumah dan produsen Laka-laka ini. They support our body with healthy consuming stuffs. Mereka tulus merawat orang sekitar untuk sehat dengan cara yang mudah. Say bye aja konsumsi makanan berlebih nan begah.

Eits, jangan lupa dihabiskan lho! Mubazir kawannya pemboros. Dan pemboros akan menghasilkan sampah yang menggunung hingga ke laut. Plastiknya didaur ulang kembali juga yuk!

Selamat hari raya Idulfitri 1439 H. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin :)

---

Sumber bacaan:
- Kue Barongko khas Bugis: Makassar.terkini.id
- 9 makanan yang ampuh mengusir perut kembung: Hellosehat.com

Komentar

  1. saya ga suka pilih kasih. jadi pengin dimakan semua hehehe

    BalasHapus
  2. Saya suka lapek pisang... Tradisonal khas Indonesia, suatu saat akan mendunia.

    BalasHapus
  3. Barongko sering banget makan, waktu tinggal di Makassar :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Jelajah Singkat Jogja 2 Hari

Insekuritas dalam Berkarya

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan