BTS: Ada Apa dengan Khitanan Massal?

Kamis itu, matahari menyengat sampai ke kain kerudung. Keringat mengucur di sekitar bawah kantung mata. Mata intens melihat kondisi jalan raya yang ramai lancar dengan kendaraan berpacu sedang. Ojek online yang saya tumpangi ini rupanya cukup membuat angin menerpa tubuh.

Kedua jemari dingin. Tangan kiri erat menahan pangkuan tas kamera, sementara tangan kanan berpegangan pada ujung besi tempat duduk bagian belakang jok motor. Motor yang cukup kencang membuat saya menahan tubuh agar seimbang. Sempat berpikir saat itu, kalaulah memang ditakdirkan kecelakaan, mungkin saja khusnul khotimah. Eh, tapi tanggung, mending hari Jumat saja perginya. Selang kemudian, saya tepis pikiran depresif itu.

Memotret foto ilustrasi khitanan massal.
Kebayang gak lo?

Tangan makin dingin ketika tiba di kompleks Bandara Halim Perdanakusuma. Rasa gugup menyelimuti dan pikiran kalut selalu saja ada. Kalau nanti diliatin gimana? Kalau ntar ditanyain apa-apa gimana? Kalau ditanya kartu pers gimana? Kalau.. kalau.. Ya, kalau gitu sih mending pulang aja kali ya. Turun dari tumpangan ojek online, langkah sigap menghampiri masjid yang dituju, Masjid Al-Mathaar. But wait, wait, masjidne endi? Mana menaranya?

Celingak-celinguk melihat keadaan. Adakah orang yang bisa jadi tempat bertanya? Ada sih, semacam beberapa personil TNI dan petugas bandara gitu. Bertanyalah pada mereka, standar sih, di mana lokasi khitanan massal masjid kemudian memperkenalkan diri sebagai anak magang di sebuah startup media di kawasan Pasar Minggu. Tiba-tiba seorang bapak personil TNI menyeletuk.

“Apa? Nikah massal? Ayo! Saya siap,” ujarnya dengan raut wajah riang gembira. Beliau berumur sekitar 40-50-an tahun.

Yaelah pak, lagi serius juga.

Yes, namanya juga performance, pasang deh wajah ramah dan bersahabat sama semua orang. Tatapan mata sinis justru refleks keluar. Tanpa mengulur waktu, salah satu dari mereka menunjukkan arah lokasi. Barulah buru-buru mengejar waktu supaya tidak tertinggal acara.

Sampai di masjid, peserta khitanan massal rata-rata ditemani orang tua. Peserta yang hendak dikhitan, duduk dengan gerak-gerik gelisah. Meskipun ada orang tua, rupanya mereka cukup gugup, malu, atau mungkin ogah. Dikagetkan dengan keadaan yang tak bisa dikontrol, saya pun menata hati supaya tetap tenang ketika dipertemukan dengan suasana super baru dan ramai.

Mula-mula, kenalan dengan orang yang bisa diajak ngobrol. Kayak, salah satu panitia gitu, kemudian sebutkan darimana asal media. Sebutkan juga narahubung yang sempat dihubungi saat H-1 acara. Setelah itu, panitia tersebut membantu dengan memberi informasi-informasi. Lumayan untuk mengamati keadaan sekitar. Kenalan dengan beberapa orang juga, supaya bisa menandai panitia yang bisa diminta tolong jika terjadi apa-apa.

Setelah itu, barulah beranjak ke wilayah privat. Ruang khitan masih di lingkungan sekitar masjid, tepatnya di halaman masjid bagian samping, tapi tidak terlalu terekspos ke luar. Ruang ini dibagi 6 sekat lebih dengan kain agak tebal.

Di salah satu ruang yang menghadap arah tempat wudu, saya temui salah satu dokter untuk berkenalan. Alhamdulillah, dokter itu membantu mengenalkan saya ke salah satu dokter yang bertanggungjawab di acara itu. Gaya bicara dokter penanggung jawab itu bersahabat dan bikin nyaman untuk mengobrol. Terlebih, beliau tahu seluk-beluk sejarah startup media yang menjadi tempat magang saya sekarang.

“Bagus, bagus kalau di situ,” responnya sambil tersenyum dan mengacungkan jempol. Saya tersenyum pula sambil menahan pundak pegal membawa dua tas.

Setelah mengobrol dan berhasil berbaur, barulah bisa mendekati orang-orang sekitar. Bisa dimulai dari senyum atau anggukan sebelum mengeluarkan kamera. Butuh waktu cukup lama ketika pendekatan. Mungkin, tak semua orang nyaman dipotret dengan kamera besar.


Sesi khitanan pun dimulai. Sejumlah anak berbaris rapi menunggu giliran. Masuk giliran pertama kedua, mereka digiring ke ruangan yang telah ditentukan. Snap! Tertangkap jelas wajah cemas mereka di kamera. Disunat? Sakit nggak ya?

Krik.. krik.. krik..

Menit-menit pertama, belum diapa-apain loh, udah ada yang nangis duluan. Ada yang berontak. Ada yang teriak duluan... Saya pikir anak laki-laki bandel, bebal, lincah, cerdik, dan licik itu kuat. Eh, pas bertemu pisau atau laser khitan, nyali langsung ciut!

Beberapa ibu menangis, tak sanggup melihat anak mereka kesakitan. Mereka memeluk sambil menenangkan anaknya dengan sarung dan bantal mini. Ada yang ditenangkan dengan gawai pintar berisi gim RPG. Ada anak yang kalem terdiam menikmati prosesi. Ada yang tertawa.....

Semua itu demi kesehatan dan kebersihan.

Terharu melihatnya. Anak-anak laki itu menyambut kedewasaan mereka.

Dibalik itu, justru saat prosesi khitanlah yang bikin nggak tahan melihat darah, bau-bau aneh, dan alat-alat operasi khitan. Perut rasanya berputar-putar (gimana caranya coba?). Asam lambung naik, asli laper tapi bercampur mual. Ingin rasanya menyudahi memotret sesi-sesi “menyeramkan bagi perempuan” itu. Terbayang gimana ya orang tua mereka, apakah siap memberi bekal pengetahuan seks lebih lanjut mengenai kebersihan alat reproduksi?

Tak ingin berlama-lama, saya bersiap pulang. Sebelum pamit, saya sempatkan mengobrol dulu dengan dokter yang bersahabat itu. Kami mengobrol tentang kelayakan sunat perempuan di mata dunia kesehatan. Kalau dari sudut pandang WHO, sunat perempuan tidak begitu dianjurkan. Bahkan dokter itu menyarankan untuk tidak lakukan daripada terjadi apa-apa. 

Saya pun tercenung, apa kabar perempuan muslim yang terlanjur disunat?

---

Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri