Menjajal Resto Ayam Halal ala Dubai, Chicking di Bekasi

Dua pekan lalu, saya menyempatkan diri untuk ke sebuah bank dalam Mega Bekasi Hypermall. Rencananya sih untuk mengurus akun internet banking. Sampai di bank, yah malah tutup karena istirahat siang. Alhasil, saya beralih ke musola dan mencari tempat makan siang.

Sebelum kepala terasa pusing, saya buru-buru mencari dua tempat itu. Mal ini ternyata cukup luas dengan rute agak rumit jika jalan sendirian. Setelah berkeliling mal, akhirnya saya bertanya pada satpam perempuan. Beliau menunjuk ke papan bertuliskan musola sambil tersenyum.

Musola ini berada di lantai 5. Di lantai 5 ini, ada beberapa konter penjual makanan dari harga terjangkau sampai harga high end. Lokasi musola berdekatan dengan konter makanan, strategis dalam menjangkau pembeli, sehingga nggak perlu lagi bolak-balik turun tangga untuk mencari jajanan.

Selesai salat, saya teringat merek-merek makanan yang dilewati. Berkelilinglah di antara konter-konter makanan itu. Berharap ada yang nyantol, selesai, dan kembali lagi ke bank. Sayangnya, konter dan resto makanan di lantai 5 bisa dibilang mainstream dan harganya kurang worth jika dikonsumsi sendiri.

Jam tangan menunjukkan pukul 12.30 WIB. Masih santailah sebelum jam 13.00 WIB. Turun ke lantai 3, saya melewati sebuah resto cepat saji dengan warna merah mencolok dengan tulisan Arab sebagai nama merek. Saya eja, “C-h-i-c-k-i-n-g”, atau Chicking.

Nama merek "Chicking" di salah satu sudut ruangan resto.

Standing banner depan resto cepat saji Chicking.

“Wah apaan nih? Pake ala-ala Arab segala.”

Dari segi poster menu makanan, warna, dan nama merek, resto ayam ini sukses memancing rasa penasaran. Apalagi saya bukan termasuk hobi cicip-cicip masakan baru. Bahkan, masakan Arab saja saya nggak doyan. Gimana ya?

Tanpa pikir panjang, kaki langsung melangkah masuk. Mata membulat dengan kening berkerut melihat daftar menu yang sekiranya cocok di lidah. Supaya hemat waktu juga. Saya pilih yang ada unsur bento rice, berarti satu mangkuk ada ayam goreng krispi dan nasi tanpa harus repot suwir pakai tangan. Minumnya teh Arab.

Deg-degan menunggu rupa makanannya, saya alihkan sambil melihat-lihat daftar menu lagi. Saya amati sekitar ruangan resto, tatakan ayam goreng, meja kasir, bahkan daftar menu di samping meja kasir. Bakal seperti apa sih rasanya?
Semacam bento rice dengan ayam goreng krispi, ditemani dengan teh Arab.

Ketika makanan datang, saya syok. Kenapa nasinya kuning gini? OMG. Gue makan nasi kuning gitu? Pas tanya ke kasir, ternyata itu adalah nasi briyani dengan beras basmati atau long grain rice. Dari segi bentuk beras, memang agak panjang dan lebih langsing dibanding beras putih yang biasa kita konsumsi. Dan teh Arabnya, kok ada biji yang mengapung? Apa-apaan ini....

Teh Arab dengan tambahan biji kapulaga.

Setelah ditelusuri, biji yang mengapung di teh itu adalah biji kapulaga. Ketika teh dalam keadaan panas dan diseduh, biji ini berbaur dan menimbulkan harum seperti bunga. Sehingga cukup mempengaruhi rasa teh. Rasanya manis (padahal, saya pesan dengan gula terpisah), legit, mirip teh poci asli. Di tenggorokan, rasanya plong lega.

Kalau untuk ayam goreng krispi, krenyesnya sangat terasa, gurih sih pasti. Tapi kalau lama-lama dikunyah tanpa nasi, agak bikin sakit gigi. Ada baiknya ayam itu dipotong lagi supaya nggak enek di tenggorokan.

Sedangkan nasi briyani, ternyata di luar ekspektasi. Awalnya mengira seperti rasa nasi kuning, tahunya berbeda sekali. Ada rasa gurih berpadu dengan bumbu rempah di nasi. Nasi dihidang dengan tampilan padat dan berisi, satu porsi mangkuk sedang cukup untuk makan dua kali. Oh iya, ini juga tergantung kemampuan makan pembaca ya hehe. Sayangnya, nasi ini agak sedikit sakit ditelan, mungkin karena kondisi tidak begitu sehat. Kalau lagi sehat, langsung lahap aja~

Tak lupa, ada sambal sebagai pelengkap makan. Sambal dengan pedas sedang, mampu menyeimbangkan rasa-rasa yang pernah ada. Tapi saya nggak sering cocol sih hehe.

Sekarang, dari segi harga. Uh yeah, awalnya menebak resto ini bakal kasih harga agak tinggi dibanding resto cepat saji pada umumnya. Saat cek struk, harganya terjangkau, apalagi kalau dikonsumsi sendiri. Untuk makan sendiri dengan dua jenis makanan, saya menghabiskan bujet sekitar kurang dari Rp50.000,00.

Suasana resto cepat saji Chicking saat makan siang.

Tampilan keseluruhan menu dalam poster di salah satu sudut ruangan resto.

Suasana resto dihias dengan cat dominan merah, kuning, dan warna-warna cerah menggugah selera. Lampu resto juga sangat membantu pencahayaan buat pembeli yang hobi swafoto atau foto makanan. 

Satu hal yang paling teringat, pelayanan kasir cukup ramah dan membantu saya yang first timer menjajal makanan baru. Kasirnya sanggup menjelaskan detail makanan yang saya pesan dan nggak buru-buru ketika melayani.

Sebelum ketinggalan, wadah makanan yang tersedia berbahan kertas. Wadah ini tentu standar dipakai untuk menyajikan makanan. Usai makan, saya habiskan teh Arab dan membawa gelas teh kertas itu untuk dijadikan pot bunga mini. Sedotan plastik khusus teh/kopi dibawa juga. Mengingat penggunaan plastik dengan sampah yang menumpuk hingga ke lambung paus, saya memilih untuk mendaur ulang wadah yang baru digunakan dan dimanfaatkan.

Secara keseluruhan, suka banget dengan resto cepat saji ini. Kalau coba sekali lagi? Hm, tertarik! Selamat mencoba!
Ternyata, resto ini tersebar di beberapa negara. Poster persebaran gerai resto cepat itu ada sebelum pintu masuk.

Komentar

  1. Saya udah pernah nyoba yang di Surabaya. Suka nasi kuning ala arabnya, enaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah, rasanya memang ngangenin mbak hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri