Sebungkus Permen Chacha di Idul Adha

Selamat Hari Raya Idul Adha!

Sebenarnya telat mengucapkan, meski suasananya masih terasa. Sekarang, justru hari tasyik yang berjalan, dimulai hari ini sampai dua hari ke depan (11-13 Zulhijah).

Tepatnya pada Rabu lalu, saya dan adik pergi salat Idul Adha di masjid dekat rumah. Setelah memilih lokasi saf yang pas dan nyaman, kami duduk anteng sambil seksama mendengarkan ceramah. Mukena sudah terpasang dan siap siaga jika ajakan salat berkumandang.

Dua rakaat, seluruh jemaah salat tampak khusyuk menikmati lantunan surah panjang dari sang imam. Hampir setengah jam, salat dua rakaat tak terasa lama jika dilakoni dengan ikhlas dan penuh harap ampunan. Hampir setengah jam lebih, ada suara isak tangis balita yang tidak rela ditinggal ibu yang sedang solat.

Photo by Caio Resende from Pexels

Usai salat, kami berdua kembali mendengarkan khotbah kedua. Di tengah khotbah, seorang anak kecil kira-kira berumur 5 tahun yang ada di saf tiga dari depan, berkeliling sambil membawa permen merek Chacha. Sambil berjalan, ia memakan satu persatu permen warna-warni ke mulutnya. Namun selang beberapa menit kemudian, gadis kecil itu bertingkah.

Ia kembali berkeliling sambil membawa permen Chacha yang mungkin masih banyak. Ia berikan satu-satu ke “teman” sebayanya, yang mungkin saja tidak ia kenal. Ia berikan dengan wajah lugu, namun mantap membagikannya. Ada beberapa anak yang kaget karena tiba-tiba diberi permen dari orang yang tidak dikenal. Ada juga yang menolak, mungkin karena tidak kenal. Ada juga yang malu-malu menerimanya.

Gadis kecil berkerudung itu menjadi tontonan. Wajahnya lugu, berkulit agak putih, bermata bulat, berjalan dengan langkah kaki pendek-pendek karena terhalang baju gamis. Tidak berani berlari-lari, karena ia tahu sedang di masjid. Permen Chacha masih dipegang erat sampai semua “teman”-nya mendapatkan permen. Bahkan, gadis kecil itu membagikan permen pada orang yang sama.

Dari jauh, ibunya tertawa-tawa. Anaknya sedang belajar praktik dan makna berbagi. Beberapa ibu juga tertarik untuk memangkunya, atau sekedar menggenggam tangan karena kagum. Si gadis kecil tetap bergerak lincah mengelilingi “teman” sebaya. Supaya, isi permen Chacha langsung habis, lalu ia bahagia.

Aku dan adik mengamati dari saf belakang. Adikku tak lepas menatap gadis kecil itu sambil senyum-senyum gemas. Komentarnya, lucu banget, ujarnya sambil menahan gemas. Kulihat tatapan mata gadis kecil itu, masih bersih, masa depannya masih cerah. Kejujurannya, semoga selalu dilatih hingga dewasa.

Ia mengorbankan satu bungkus permen Chacha. Ia rela hanya makan beberapa butir saja. Tak lama kemudian, ia kembali ke pangkuan ibunya. Sang ibu memberi apresiasi yang bahkan tak sempat kulihat apa.

Khotbah kedua di salat Idul Adha pun usai. Para jemaah membereskan barang bawaan dan segera beranjak pergi. Gadis kecil yang berbagi permen Chacha itu, entah kemana. Jelasnya, ia mencontohkan keikhlasan atas apa-apa yang dimiliki pada orang dewasa.

Aku malu, kalau kamu?

---

Permen Chacha yang saya lihat adalah kebetulan. Artikel ini juga tidak bermaksud atau berniat mempromosikan produk makanan tersebut. Saya pakai kata "Chacha", karena punya rima a yang sama dengan "Idul Adha". 

Anyway, selamat membaca! :)

Komentar

  1. keponakan keponakan saya juga pada seneng chacha. saya juga pernah seneng chacha, cuma yang ini nama cewe yang entah sekarang tinggal di mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cie, siapa tuh? Jangan-jangan chacha yang baru berhijrah? Atau chacha yang suka berdansa?

      Hapus
  2. Hmmm.. Selalu ada ide untuk menulis hanya dari permen! Ah terima kasih,,, Salam kenal, kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mister Gandi, salam kenal jua! Terima kasih ya

      Hapus
  3. Aku baru liat fotonya malah jadi ngiler pengen permen Chacha jadinya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri