Kisah Pak Ojek Hari Ini 2

Tiap malam, Stasiun Sudirman selalu ramai oleh pekerja. Sudah terhitung, bulan lalu hampir dua bulan menjalani masa magang.

Malam-malam di Stasiun Sudirman saat itu membuat kondisi pundak saya makin buruk. Saya harus menahan lelah dan beban dua tas cukup berat. Barang yang paling berat adalah kamera sendiri. Rasanya ingin sekali ganti kamera, mirrorless gitu. Tapi ya sudah lah, toh rekan fotografer di KPK yang rata-rata sudah senior masih setia menggunakan kamera raksasa dengan lensa seperti belalai gajah.

Ketika sedikit saja telat pulang dari KPK, gawatlah. Penumpang Stasiun Sudirman yang mengarah Stasiun Manggarai begitu sesak. Belum lagi saya harus jalan kaki dari Stasiun Bekasi untuk menghampiri pesanan ojek online. Bila keluar sekitar jam 7 malam, habis sudah. Bisa-bisa berdesakan dan ya, tentu terkena macet ke arah jalan pulang.

Lokasi foto lapangan yang berada di tengah kawasan sentra bisnis cukup dilema. Pasalnya, selain berdesakan dengan penumpang, harus transit lagi di Stasiun Manggarai. Tak terpikir untuk langsung pesan ojek online ke arah stasiun itu. Maklum, masih seminggu di lapangan.
Perjalanan pulang melewati sebuah pasar di Pasar Minggu.

Sampailah di Stasiun Bekasi dengan selamat. Letih dan lapar mendera, sehingga cukup membuat raut wajah jutek dan nada suara tak ramah. Seorang pengemudi ojek online menanyakan asal-usul saya, misalnya pekerjaan.

“Baru pulang kerja mbak?”
“Iya pak.” Padahal, pengemudinya masih cukup muda. Paling beda 5-10 tahun.
“Lembur ya mbak?”
“Oh nggak pak. Memang dari sana ke sini 2 jam, jadi lama,” alasanku.
“Kerja atau kuliah mbak?”
“Masih kuliah pak, tapi sambil magang”
“Oh gitu. Jangan terlalu capek mbak, nggak baik buat badan,” nasehatnya.
“Oh gitu ya pak? Hmm,” gumamku pura-pura tak tahu untuk memancingnya obrolan.
“Iya mbak, soalnya mumpung masih muda. Kalo sakit kan, kita juga yang rugi.”
“Iya juga sih pak. Jadi kudu jaga kesehatan gitu ya pak.”
“Betul mbak.”

Lampu merah perempatan berubah menjadi hijau. Rombongan motor dari arah depan tak sabar untuk menerobos. Sementara dari arah saya, semua lekas mengegas agar tak ditabrak. Padahal, kedua sisi jalan ini punya jeda lampu pemberhentian cukup baik.

Motor melaju dalam kecepatan konstan. Jalanan masih macet. Asap kendaraan berhamburan hingga menusuk hidung. Termenung sambil mengamati jalan. Ternyata kondisi badan yang masih muda belumlah jaminan untuk menikmati masa pensiun kerja yang cemerlang.

Komentar

  1. Hai kak Nadia! Saya bingung, nih, mau menulis apa, masih canggung sayanya. Ehe. Yang jadi perhatian saya sebenarnya adalah 'magang di KPK.' Keren sekali! Salam buat teman-teman di kantor, ya. Ehehe.
    Postingan kakak yang ini bagus, loh. Akan lebih bagus lagi kalau lebih panjang lagi. Karena aku 'kepo' banget sebenernya sama lanjutan cerita tukang ojeknya. Hehehe.

    BalasHapus
  2. Halo Cila! Terima kasih atas apresiasinya ya :)

    Sebenarnya sih bukan magang di KPK. Tapi "ngepos" foto liputan di KPK. Kebetulan magang bagian foto di kumparan hehehe.

    Untuk mulai nulis, coba perhatikan sekeliling kamu. Ada aja hal sederhana tapi ngena. Salah satu yang paling membantu, pantengin Instagram stories bertema kehidupan. Dijamin bakal keluar banget ide-ide nulisnya. Selamat mencoba!

    BalasHapus
  3. Masa tua yang cemerlang di mulai dari masa muda yang hemat. Kisah pak ojek hari ini

    BalasHapus
  4. Tukang ojeknya sangat bagus. Selalu menjaga dan peduli dengan customernya , beruntung mbaknya dapat tukang ojek seperti beliau :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri