Yuk Nostalgia ke Ternate, Ini Rekomendasi Spot Liburan Akhir Tahun

Seorang pria memandangi lautan dari dalam Masjid Al Munawwar, Ternate, Maluku Utara.

Juli lalu, jauh-jauh melancong dari barat ke timur, tepatnya kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Kebetulan, kota itu tempat lahir adik saya, jadi sekalian saja berkunjung untuk bernostalgia kala ayah dan ibu merantau dulu.

Perjalanan kami dipandu rekan ayah yang bekerja sebagai supir di kantor cabang sebuah bank di Ternate. Beliau menjemput kami di Bandara Sultan Baabullah Ternate pada pukul 13.00 WITA. Kemudian, mengajak kami makan siang di warung makan terkenal se-kota Ternate yang menghidangkan olahan ikan tuna dan kerapu.

Sebagai turis, awalnya saya berekspektasi. Makan enak, bersih, instagramable, Wi-Fi, sejuk, dan sebagainya. Namun hawa panas semakin menusuk, matahari terlalu terik seolah tembus ke mobil. Pendingin tampaknya tidak begitu ampuh. Sampai di warung makan itu, saya tak melihat ada tanda-tanda. Setidaknya plang nama rumah makan. Begitu sederhana, bersahaja, seperti warung kopi.

Begitu masuk, ya ampun betul, panasnya bukan main! Beruntung, pramusaji sigap mengantarkan makanan setelah kami menunggu. Ikan berdaging tebal berukuran besar tersaji depan kami. Aromanya menggoda, bumbunya menggigit. Tapi tersaji dengan sederhana. Saking sederhananya, bapak supir bercerita bahwa warung ini sudah dikunjungi para pejabat.

“Rasa yang berbicara,” ujar beliau.

Bertemu olahan ikan di Ternate sangat mudah dan terjangkau. Kota ini berhadapan langsung dengan laut dan produksi ikan melimpah nan segar. Ikan dan hasil laut lainnya menjadi sumber protein masyarakat setempat, seolah menggantikan daging berkaki empat dan ayam.

Saat makan, ikan yang dipotong seperempat dari badan raksasanya itu ternyata masih terlalu banyak. Bumbu yang disinggung tadi, muncul dari sambal kecap rawit dan minyak bercampur tomat dan cabai yang dibalurkan di daging ikan. Nyam!

**

Bapak supir itu membawa kami berkelana di kota Ternate selama dua hari.  Beberapa tempat yang disinggahi yakni Masjid Raya Al Munawwar Ternate, Batu Angus, Danau Laguna Ngade, tepi pantai tak bernama, dan berakhir tepar di hotel. Berikut ulasannya.

1. Masjid Raya Al Munawwar
Pengunjung berteduh di balik menara Masjid Al Munawwar, Ternate, Maluku Utara.

Hal menakjubkan dari masjid ini: menara tinggi menjulang, fondasi cakar ayam di pinggir pantai, dan retakan bekas gempa.

Masjid ini mirip bangunan Masjid Amirul Mukminin, Makassar, Sulawesi Selatan. Pasalnya, kedua bangunan masjid ini ditopang fondasi cakar ayam yang membuat bangunan terapung meski air laut terus menggerus.

Siapa sangka, fondasi beton masjid ini ikut retak ketika Ternate dilanda gempa 6,6 Skala Richter pada tahun 2016 silam. Beberapa tahun kemudian, masjid ini direnovasi hingga pulih sediakala.

Karena langsung menghadap laut, agak ngeri-ngeri sedap juga kalau diterpa tsunami. Seperti tsunami di Palu yang menerjang Masjid Terapung Arwam Bab Al Rahman pada bulan Oktober lalu. Satu yang saya bayangkan, ombak yang pedekate ke beton-beton fondasi masjid mungkin akan berubah menjadi air yang marah.

Entah kapan.

Hm, jadi teringat sensasi dan suasana gempa dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 :’)

2. Batu Angus
Penampakan Batu Angus, Ternate, Maluku Utara.

Objek wisata ini berada di lereng Gunung Gamalama, yang juga langsung mengarah ke laut lepas. Beruntungnya, kondisi tanah di Batu Angus sudah stabil pasca letusan gunung pada tahun 1673.

Berjarak sekitar 10 km dari kota Ternate, Batu Angus menawarkan pemandangan alam eksotis. Kedahsyatan letusan Gunung Gamalama membuat batu-batu besar tersusun tak beraturan, menyuburkan tanah, dan melahirkan ragam flora: tumbuhan paku dan lumut. Suhu di kawasan ini sangat panas, ditambah terpaan angin laut yang kencang. Pengunjung sebaiknya membawa tabir surya. Kecuali jika mau tanning skin sih, gapapa deh.

3. Danau Laguna Ngade
Penampakan Danau Ngade, Ternate, Maluku Utara. 

Disebut pula Danau Ngade, karena terletak di Desa Ngade dan berbatasan langsung dengan laut. Namun, danau berkomposisi air tawar yang terdapat budidaya ikan gurame dan nila. Sedangkan laut lepasnya berhadapan dengan Pulau Tidore dan Maitara.

Warna biru dan hijau dominan, ditambah ketenangan jauh dari hiruk-pikuk kota. Jika cuaca cerah, rencana pemotretan Anda akan menghasilkan foto ciamik dan instagramable.

Tapi perlu antri ya, karena pengelola hanya menyediakan papan kayu sebagai spot foto untuk umum.

4. Tepi Pantai Tak Bernama
Seorang turis berfoto sambil menikmati pemandangan matahari terbenam. 

Tak disangka, beliau memberi surprise. Usai menikmati Danau Ngade, kami diantar ke tepi pantai tak bernama untuk menikmati matahari terbenam. Pantai ini tenang dan sepi. Pasirnya putih keabu-abuan, berdekatan dengan pemukiman warga dan sampan bersandar.

Cukup lama kami habiskan waktu di pantai ini. Tentunya, berswafoto dan motret ala landscape photography tak ditinggalkan. Anak-anak yang bermain di tepi pantai juga bersahabat ketika bertemu kamera.

Sampah botol plastik di tepi pantai. 

Sayangnya, tepi pantai ini meninggalkan sampah tak terurus. Sampah kayu dan daun masih ditoleransi, namun tidak untuk botol plastik dan kresek. Mereka lengket di pasir, tersangkut sampah lain, bahkan ada botol air mineral terbelah dua karena dentuman ombak. Dan lagi, botol ini tidak terdaur ulang. Sedih ya?

Selain 4 objek wisata yang dikunjungi, ada beberapa objek lagi yang telah disinggahi. Jika pembaca hendak berwisata ke Ternate, yuk sekalian jaga lingkungan dan kurangi penggunaan kantong kresek. Sayang sekali kan kalau sampah plastik merusak kontemplasi liburan kita?

---

Sumber pendukung:

Komentar

Postingan Populer

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri