Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Nostalgiaku dengan Mesin Absensi Karyawan

Kepikiran tentang berbisnis, bisa menggaji karyawan sendiri, punya perusahaan, sistem rekrutmen, dan eh, satu lagi, absensi karyawan?
Pernah terpikir, sebenarnya bagaimana sih cara kerja sebuah sistem manajemen pekerja di sebuah perusahaan? Bahkan, sebelum kenal magang di sebuah perusahaan, saya pernah melihat mesin absensi yang pakai kartu itu lho. Mesin itu bisa aktif jika ada input kartu yang berisi absensi karyawan. Jika karyawan datang tepat waktu, maka mesin itu merekam aktivitas “masuk kerja”. Jika sudah waktunya pulang, tentu saja mesin itu juga merekamnya.
Itu 10 tahun lalu, ketika saya bertandang mampir ke kantor ayah dan ibu. Mesin itu sepertinya ajaib.
Sampailah ketika saya magang tahun 2018 lalu, saya bertemu mesin absensi karyawan itu lagi. Bedanya, mesin ini baru berfungsi jika ada sentuhan ibu jari. Namanya, mesin fingerprint. Agak geli sih bersentuhan dengan benda yang langsung kena kulit. Terbayang kan berapa banyak bakteri yang hinggap di sensor layar sentuh itu.
Apa…

Kisah tentang Maju Jaya

Januari dan Februari, bulan yang identik dengan musim hujan.
Dua bulan tersebut menjadi harapan dan doa. Menjelang Tahun Baru Imlek, doa dan harapan makin kencang. Hujan turun makin deras. Di bulan inilah, para arwah jahat diusir dan dikurung. 
Jika hujan sebagai rezeki, maka petasan yang bising saat itulah untuk mengusir para arwah itu. 
Di luar sana, ada pula yang ikut keciptratan rezeki di tahun baru. Jika penanggalan Masehi ditandai dengan Tahun Baru 2019, maka penanggalan lunar ditandai dengan Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili. Dua bulan di awal tahun menjadi kunci menjalani 10 bulan ke depan. Masih lama, tapi doa dan harapan itu berisikan bagaimana cara bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan situasi di sekitar kita.
Ada rezeki awal tahun yang menambah rasa syukur.  Ada rezeki di tahun baru yang membuat diri tersadar.  Ada rezeki di awal tahun yang baru berupa teguran dari bumi berupa tumpukan sampah plastik dan kuota TPA yang hanya 5-10 tahun lagi untuk kita. 
Memang boleh,…

Jalan Bareng

Jalan bareng itu lumrah lho. Entah itu bersama keluarga, saudara, sahabat, rekan kerja.
Tapi tidak jika bersama kekasih atau tunangan. Jadi saja belum, apalagi sah. Bisa-bisa, kenangan jalan bareng hanyalah teror. Lalu, merubuhkan kepercayaan diri yang dulunya pernah independen dan mandiri.
Kebetulan.
Di foto ini, jalan bareng yang terlihat sederhana namun sangat berarti. Kalau diingat-ingat, kapan ya terakhir jalan bareng? Jalan bareng ke kebun binatang, ke objek wisata alam, ke air terjun sambil bawa rantang dan karpet plastik supaya bisa makan bersama.
Ih, asyik deh.
Tapi kapan lagi ya?
Ketika sang buah hati tumbuh berkembang, menjadi dewasa, muncul gengsi-gengsi untuk jalan bareng orang tua. Ketika orang tua sibuk dan sibuk, demi menghidupi biaya dan biaya. Jalan bareng beralih tempat ke pusat perbelanjaan, mal, atau jangan-jangan ke sentra tekstil yang menjual kain-kain pewarna sintetis untuk wisuda, tunangan, dan pernikahan.
Tidak apa lah, toh juga jalan bareng bukan? Intinya sama,…

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan