Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Berjuang": 41 Kisah, 1 Komunitas, 6 Keadaan

Kisah seseorang yang berjuang, kemudian mendapatkan hikmah bahkan keajaiban dalam hidupnya. Kisah yang juga bisa membuat pembaca lebih bersyukur. Karena ternyata, setiap kisah perjuangan itu ada yang lebih berat ujian hidupnya daripada kita sendiri. Sampai manakah kita memaknai perjuangan dalam hidup?

Jalan Bareng

Kapan lagi jalan bareng?

Jalan bareng itu lumrah lho. Entah itu bersama keluarga, saudara, sahabat, rekan kerja.

Tapi tidak jika bersama kekasih atau tunangan. Jadi saja belum, apalagi sah. Bisa-bisa, kenangan jalan bareng hanyalah teror. Lalu, merubuhkan kepercayaan diri yang dulunya pernah independen dan mandiri.

Kebetulan.

Di foto ini, jalan bareng yang terlihat sederhana namun sangat berarti. Kalau diingat-ingat, kapan ya terakhir jalan bareng? Jalan bareng ke kebun binatang, ke objek wisata alam, ke air terjun sambil bawa rantang dan karpet plastik supaya bisa makan bersama.

Ih, asyik deh.

Tapi kapan lagi ya?

Ketika sang buah hati tumbuh berkembang, menjadi dewasa, muncul gengsi-gengsi untuk jalan bareng orang tua. Ketika orang tua sibuk dan sibuk, demi menghidupi biaya dan biaya. Jalan bareng beralih tempat ke pusat perbelanjaan, mal, atau jangan-jangan ke sentra tekstil yang menjual kain-kain pewarna sintetis untuk wisuda, tunangan, dan pernikahan.

Tidak apa lah, toh juga jalan bareng bukan? Intinya sama, lokasinya saja berbeda.

“Ah, diajak jalan juga lo sibuk sendiri.”
“Yang deket-deket aja ya, macet soalnya di jalan.”
“Hah? Naik KRL? Repot dong bawa banyak barang. Terus ntar desak-desakan dan nggak dapat tempat duduk gimana?”

Ya udahlah, yang penting jalan bareng.

Kapan lagi kan?

Kalau-kalau ayah atau ibu pergi, belum tentu mereka kembali.

Kalau adik pergi, siapa yang menemani kakak?

Kalau kakak pergi? Nanti siapa yang mengeluarkan kucing, burung, anjing, kura-kura kecil, motor, mobil, jemuran, PS, kerupuk mentah ke luar pada pagi hari?

***

Sore itu, saya jalan sendiri alias solo travelling. Setelah plesir di daerah Ancol, Jakarta Utara, lalu bergeser ke Pinangsia, Jakarta Barat. Di Pinangsia, ada objek wisata bernama Kota Tua. Tiba pukul 15.00 WIB, matahari sore masih terik. Namun pengunjung sudah ramai berkumpul.

Burung-burung merpati mengerubungi kubangan air. Becekannya meloncat ke kain-kain baju pengunjung. Anehnya, mereka diam saja. Kadang, burung itu mengeluarkan tahi dan tahu-tahu sudah mendarat di pakaian pengunjung. Ada yang berteriak, mengeluh kena kotoran.

Sejumlah pemuda bersantai sambil menikmati pemandangan di kawasan objek wisata Kota Tua, Jakarta.

Sekelompok pemuda berkumpul di satu sisi, masih dekat di daerah kubangan. Mereka menenteng kamera digital SLR. 

Sejumlah siswa SMP berpose sambil mengendarai sepeda ontel di kawasan objek wisata Kota Tua, Jakarta.

Ada lagi, serombongan anak SMP yang ditemani guru-guru. Mereka berisik, naik sepeda saja sampai ngebut. Sepertinya belum pernah naik sepeda ontel.

Sedangkan pengunjung lain yang menaiki sepeda ontel, masih sempat bergaya ketika tidak sengaja kamera ini memotret mereka. 

Pengunjung asyik berpose natural bersama sepeda ontel di objek wisata Kota Tua, Jakarta Barat, Jakarta.

Mereka adalah pasangan. Doa saya pada mereka, semoga diberikan keluarga yang berkah dan beriman.

Serta kebahagiaan dan kewarasan. Amin.

Tetaplah jalan bareng ya!

Komentar

  1. Kota tua.. Dl dh lama bgt... Sampai skrg msh sk jln brg kluarga kecilku.. Trutama dgn anak bujang semata wayangku.. Kdg cm berdua aja sekedar makan bareng di luar itu bkn aku sdh hepi 😊

    BalasHapus
  2. Aku masih jalan bareng sama ibu... ke mall haha

    BalasHapus

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Insekuritas dalam Berkarya

Mulai Aja Dulu di BandLab

ZAP Rawamangun Pindah Lokasi, Tenang, Kliniknya Ada Dimana-mana Kok

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan