Langsung ke konten utama

Buku Antologi "Perjalanan Waktu"

OPEN ORDER 
Perjalanan Waktu 
karya Nadia K. Putri, dkk. 
Segala yang bernyawa di alam ini seolah adalah sebuah siklus: lahir, hidup, mati. Suatu detik ada yang mati, tetapi detik yang sama ada yang lahir. Sepintas lalu seakan lumrah saja, tapi jika ditilik ada makna yang bukan biasa saja. Apa yang bisa dimaknai dari kelahiran? Bagaimana baiknya mengisi kehidupan? Hikmah apa dari peristiwa kematian? Mengapa perlu menilik semua itu? Maka jawabannya hadir dalam kisah yang disajikan di buku ini. 
Kisah dan renungan dari 14 penulis yang akan menambah wawasan dan memancing imajinasi. Dirangkai dengan rasa dari hati, sehingga mengasa menjadi jembatan menuju rasa dalam hati. 
Spesifikasi Buku Judul : Perjalanan Waktu  Penulis : Nadia K. Putri, Raubiyal Maulad, Wienarieska, Yunita Lusiyana, Nurul Fitriani Salim, Indrimai, Rizna Maria Hidayah, Nur Indah, Pandan Arum Ayu Darmayanti, Westri Purwita, Putri Utami Dewi Ningtyas, Lucky Fitriana, Eka Mauliana Diastuti, Ghea Herdhyta Maesarani  Penerbit…

Kisah tentang Maju Jaya

Suasana aktivitas jual-beli di toko Maju Jaya, Pasar Rawa Bebek, Bekasi, Jawa Barat.

Januari dan Februari, bulan yang identik dengan musim hujan.

Dua bulan tersebut menjadi harapan dan doa. Menjelang Tahun Baru Imlek, doa dan harapan makin kencang. Hujan turun makin deras. Di bulan inilah, para arwah jahat diusir dan dikurung. 

Jika hujan sebagai rezeki, maka petasan yang bising saat itulah untuk mengusir para arwah itu. 

Di luar sana, ada pula yang ikut keciptratan rezeki di tahun baru. Jika penanggalan Masehi ditandai dengan Tahun Baru 2019, maka penanggalan lunar ditandai dengan Tahun Baru Imlek 2570 Kongzili. Dua bulan di awal tahun menjadi kunci menjalani 10 bulan ke depan. Masih lama, tapi doa dan harapan itu berisikan bagaimana cara bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan situasi di sekitar kita.

Ada rezeki awal tahun yang menambah rasa syukur. 
Ada rezeki di tahun baru yang membuat diri tersadar. 
Ada rezeki di awal tahun yang baru berupa teguran dari bumi berupa tumpukan sampah plastik dan kuota TPA yang hanya 5-10 tahun lagi untuk kita. 

Memang boleh, berlomba-lomba untuk menjadi siapa yang paling bertahan di tengah ketidakpastian. Boleh pula berlomba-lomba menjadi paling kaya menurut versi diri sendiri. Apalagi, boleh pula berbagi-bagi deviden pada investor yang sedang nikmat dan bebas. 

Namun, masih ada yang lebih membutuhkan uluran tangan. Cuan yang didapat bukan hanya untuk foya-foya.

Berbagi, semampu cara.
Kurangi, serasional akal.
Kelola, sebijak diri.

Di tahun babi tanah ini, selalu ada cara untuk bertahan dan mempertahankan hidup. Selagi masih menjadi manusia, waraslah sebelum negara api menyerang. 

**

Foto di atas, saya potret di sekitar Pasar Rawa Bebek, Kranji, Bekasi, Jawa Barat. Di sana, ada beberapa toko emas yang buka sejak pagi. Salah satunya, toko Maju Jaya. 

Saya tidak mungkin datang ke tempat itu sendiri. Beruntung, ada teman-teman komunitas fotografi di Bekasi yang melakukan hunting foto bersama. Komunitas Hunting Pasar Bekasi (HPB) telah menyediakan kesempatan untuk eksplor tempat-tempat yang tidak kita duga, pasar. 

Mau ikut hunting pasar bareng HPB? Yuk pantengin linimasanya di Instagram @huntingpasar.bks. Sekalian mau keliling Indonesia? Ada Hunting Pasar Indonesia @huntingpasar.id yang siap temani perjalananmu! 

--

Bacaan lanjut:

Komentar

  1. Dari jaman dahulu, toko emas selalu di daerah pasar, Kak. Apalagi kalau di kota kecil macam Kutoarjo, Sleman, Magetan ... Yang saya kagum, para penjual emas itu rajin lho. Pagi² menata dagangan, sore mereka simpan lagi di brankas. Belum lagi, bikin catatan arus kas, memastikan tukang bikin perhiasan kerjanya bener, dan menghubungi agen emas. Memang dagang itu harus rajin.

    BalasHapus

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Jelajah Singkat Jogja 2 Hari

Insekuritas dalam Berkarya

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan