Langsung ke konten utama

Jelajah Singkat Jogja 2 Hari

Penjual obat-obatan herbal berinteraksi dengan pembeli di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. (Foto: Nadia K. Putri)

Jenuh, lelah, sering sakit kepala, bete. Ah, butuh liburan itu mah! Liburlah sejenak walau 2 hari. Namun, daftar tempat yang akan dikunjungi banyak. Bagaimana?

Petualangan saya berawal dari ngide solo travel atau perjalanan mandiri selama 1-2 hari. Ada banyak kota yang ingin dikunjungi, tetapi pilihan realistis adalah Jogja atau Yogyakarta. Biaya hidup murah, udara sejuk (jika musim kemarau), ramah turis dan pejalan, dan leluasa menikmati keindahan alam beserta petualangannya. 

Ide ini ditentang orang tua karena beberapa alasan: perempuan, belum punya pasangan halal, harus didampingi orang tua, dan terakhir, ya perempuan tidak wajar jalan sendiri. Sayang sekali. *kapan-kapan kita bahas kenapa ya!*

Jadilah saya pergi bersama ayah. Untungnya ayah juga suka ngide dan menyarankan untuk cari tiket pesawat di beberapa situs perjalanan. Saya pun buka Pegipegi untuk melihat-lihat harga tiket pesawat. Siapa tahu dapat tiket murah kan? 
Pesawat Air Asia dipotret dari dalam ruang kedatangan Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. (Foto: Nadia K. Putri)

Kebetulan, dapat juga tiket pesawat Air Asia dari Jakarta-Yogyakarta pukul 14.30 WIB di Pegipegi. Awalnya ingin berangkat pagi supaya perjalanan lebih panjang. Tapi, ingin coba naik kereta bandara juga. Jadilah berangkat jam setengah 3 sore. Sementara ayah naik kereta api lebih pagi supaya bisa stay in di hostel, sekaligus istirahat juga. 

Saya pesan tiket pesawat sekitar Sabtu malam, kira-kira pukul 20.00 setelah cek surel. Selepas itu, saya sigap cari tiket pesawat yang kalau bisa murah demi menekan biaya perjalanan mendadak ini. Untungnya, eh dapat promo tiket pesawat via voucher dari Pegipegi. Jadi kalau ditotal, dapat harga sekitar Rp 425.000 plus asuransi Rp15.000 yang disediakan PasarPolis. Kalau begitu sekalian saja pesan hotel murah sekitaran Malioboro, dan dapat promonya juga. Syukurlah, rezeki pasca lebaran ehe. 
"Semua Bisa Terbang", slogan maskapai Air Asia di badan pesawatnya saat saya potret di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. (Foto: Nadia K. Putri)

Setelah itu, barulah menyusun daftar itinerary agar perjalanan efektif walau 1-2 hari. Perlengkapan yang dibawa juga sedikit, misal bawa baju yang ringan dan gampang digulung, kosmetik yang prioritas saja, dan printilan lainnya. Tujuannya supaya tas lebih ringan dan semacam ada unsur light travel gitu.

Ransel 40 liter ini muat di ruang kosong antara tempat yang saya duduki dengan kursi di depannya. Kereta bandara ini cukup luas dan dijamin kaki bisa lega kalau diluruskan. (Foto: Nadia K. Putri)

Dan ini tas yang saya bawa, ransel 40 liter.  

Di hari keberangkatan, saya naik kereta bandara dari Stasiun Bekasi pukul 10 pagi. Baru kali itu sih naik kereta bandara, dan rasanya cukup lega tanpa khawatir macet. Harga tiket dari Stasiun Bekasi adalah Rp100.000 sekali jalan. Untuk detailnya, akan dibahas di pos selanjutnya ya. 

Sekarang apa kabar ke Jogja? Tancap gan!

Gereja Sayidan
Pemandangan sekitar Gereja Sayidan dari tanah kosong penuh semak belukar. Kebanyakan pengunjung berfoto di daerah tersebut. (Foto: Nadia K. Putri)

Dengar-dengar, sebuah bangunan mirip gereja dan kastil di Sayidan ini ramai dibicarakan. Di media sosial dan Google Maps, bangunan ini tampaknya mudah ditemukan. Ekspektasinya, kita bisa masuk sebagai pengunjung untuk berswafoto ria. 

Nyatanya tidak toh, bangunan ini milik pribadi, menurut warga yang kami tanyai saat tersesat. Pintu masuk tidak ada dan bangunan ini berada di perumahan warga. Agak aneh kan? 

Bukan orang Jogja namanya kalau tidak kreatif. Yang luput perhatian saat melihat informasi tempat wisata hits ini adalah pengunjung berfoto di tanah kosong dengan dinding bergrafiti. 

Tidak percaya? 

Tembok yang dilukis grafiti karya anak muda Yogyakarta. Tembok ini persis berada di sekitar Gereja Sayidan. (Foto: Nadia K. Putri)

Jadi tanah kosong ini, disulap jadi tempat foto dadakan plus tempat parkir liar. Grafitinya banyak. Semak-semak pun begitu. Perlu kreativitas dan sudut pandang luas untuk berfoto di sini. Kalau beruntung, pasti ketemu deh foto instagramable yang diinginkan. 

Alamat: 
Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Klik peta di sini.

Malioboro
Sisi lain Jalan Dagen, Malioboro, Yogyakarta di sore hari. (Foto: Nadia K. Putri)

Jujur, Malioboro itu dekat sekali dengan hostel yang kami inapi. Saking dekatnya, sampai dua kali ke sana hanya untuk mencari nasi Padang dan teh wangi untuk ayah. 

Saat kami sampai pada Selasa malam, lorong-lorong ruko di Malioboro yang seharusnya ramai dan festive, malah sepi tanpa pedagang kaki lima (PKL). 

Seorang ayah menggendong putrinya di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Seluruh pengunjung tumpah ke jalan raya karena ruas jalan ditutup setiap Selasa Wage. Foto dipotret saat Selasa Wage, 18 Juni 2019. (Foto: Nadia K. Putri)

Pintu masuk toko aksesoris di sekitaran ruko daerah Malioboro, Yogyakarta. (Foto: Nadia K. Putri)

Namun, jalan rayanya bebas kendaraan, mulai dari titik nol Malioboro sampai pintu masuk arah Malioboro. Jadi semua pengunjung tumpah ke jalan. Ternyata di hari berikutnya, tidak begitu lagi. 

Penjual sate menjajakan dagangannya di samping Pasar Beringharjo, Malioboro, Yogyakarta. Dari daerah sini, juga banyak menjual aneka jajanan tradisional lainnya. (Foto: Nadia K. Putri)

Setelah bertanya ke warga setempat, jalan Malioboro bebas kendaraan dan PKL hanya ada tiap Selasa Wage pukul 18.00-21.00. Bagi kamu yang gerah dengan suasana macet namun berjiwa bebas dengan jalan kaki, datanglah ke Malioboro di Selasa Wage ya! Di sana banyak sekali pemandangan ngangenin untuk dipotret. 

Alamat: 
Jalan Malioboro, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta. Klik peta di sini.

Pasar Beringharjo
Penjual obat-obatan herbal berinteraksi dengan pembeli di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. (Foto: Nadia K. Putri)

Sama dengan Malioboro, pasar ini cukup dekat dijangkau dengan jalan kaki. Di bagian depan atau utara, persis di pedestrian Malioboro, adalah lokasi baju batik dan aneka pakaian. Bagian barat, tersedia suvenir, seserahan, dan aneka kerajinan. Sedangkan di bagian belakang atau bagian selatan dan timur adalah lokasi pasar tradisional yang menjual sembako, aneka bumbu dan obat herbal, buah-buahan, daging, dan jajanan pasar. 

Di Pasar Beringharjo, ternyata kita bisa menemukan penjual aneka bumbu masakan Minang di lantai 1. Aneka bumbu, herbal, daging, ikan, sayur, dan buah-buahan bisa ditemukan di sisi selatan Pasar Beringharjo. (Foto: Nadia K. Putri)

Saya dan ayah justru memilih pasar bagian belakang. Agak ngeri-ngeri sedap dan tidak berekspektasi banyak demi aman memotret stok foto ilustrasi. Apalagi bawa kamera DSLR besar yang mungkin agak intimidatif dibanding mirrorless dan kamera saku. 

Selain di pinggir jalan Malioboro, aneka sate-satean dan makanan tradisional juga dijual di selatan Pasar Beringharjo. Foto ini menunjukkan bahwa sejumlah penjual sedang memasak lauk dan sate. (Foto: Nadia K. Putri)

Namun, lokasi selatan ini akan sangat menyenangkan dan menantang bagi kamu yang bahagia menikmati interaksi dengan penjual, mencari bumbu masak, dan menyusuri lorong pasar demi jajanan tradisional. 

Ayah membeli obat-obatan herbal, misalnya kunyit putih, teh daun jati, dan buah ciplukan. Sedangkan saya membeli temulawak kering, kayu manis Lampung, dan jeruk lemon lokal. 

Kalau mau mencoba, pandai-pandai berinteraksi, ingin tahu namun tetap sopan jika ingin hunting pasar di Beringharjo. Bonusnya, kita juga bisa membeli barang lebih dulu sambil memotret mereka. Asyik kan? 

Alamat: 
Jalan Ahmad Yani no. 1, Yogyakarta. Klik peta di sini.

Plengkung Gading
Gapura Plengkung Gading dari lampu merah. Setelah melewati gapura ini, juga terdapat lampu merah. (Foto: Nadia K. Putri)

Plengkung Gading sebenarnya adalah gerbang atau gapura yang menjadi bagian dari Keraton Jogja. Bangunan ini termasuk peninggalan sejarah yang terletak di kawasan selatan Keraton Jogja. Dari Plengkung Gading, kita bisa mampir ke Alun-alun Kidul (alkid) atau alun-alun selatan kota Jogja. 

Gapura Plengkung Gading tepat berada di kawasan lampu merah. Gapura yang saya foto ini berada di Jalan Patehan, Yogyakarta. (Foto: Nadia K. Putri)

Awalnya sih mengira kalau gapura ini punya tempat sendiri, ada pintu masuk khusus. Ternyata, gapura Plengkung Gading ini berada jalan raya, pas di pemberhentian lampu merah. Mungkin lebih cocok dikunjungi saat hari bebas kendaraan deh. 

Alamat:
Jalan Patehan Kidul no. 4, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Klik peta di sini.

Situs Sejarah Warungboto
Pengunjung berfoto ria di situs sejarah Warungboto. Situs sejarah ini cocok dikunjungi kala menjelang sore, jadi kita bisa berkreasi dan berswafoto dengan bantuan bayangan sinar matahari seperti ini. (Foto: Nadia K. Putri)

Situs sejarah Warungboto merupakan bangunan peninggalan sejarah pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I. Situs sejarah ini awalnya adalah tempat peristirahatan dan pemandian keluarga kerajaan. 

Pengunjung ini sebenarnya sedang dipotret temannya, namun tidak sengaja terpotret saya. Kalau tidak salah, dia berada di rooftop. (Foto: Nadia K. Putri)

Menariknya, situs sejarah ini dilengkapi kolam, taman, semacam rooftop, dan struktur bangunan unik berupa lorong-lorong, pintu dan jendela beraksen lengkung. Karena itu, bangunan ini tampak seperti bangunan ala Yunani yang dipenuhi arsitektur geometris, dan pastinya nampak minimalis-instagramable

Ayah saya menyusuri pintu-pintu di situs sejarah Warungboto. Tas kirinya itu berisi pasokan air minum, lumayan haus kalau seharian beraktivitas di luar ruangan plus mengendarai motor. (Foto: Nadia K. Putri)

Bagian dalam situs Warungboto, tampak jendela berlengkung yang tembus ke arah luar. (Foto: Nadia K. Putri)

Pecinta minimalisme cocok nih berkunjung di sini. Karena warna bangunan ini cenderung earth-tone, dengan pantulan sinar matahari yang ideal. Yuk lah coba! 

Alamat:
Jalan Veteran, Kelurahan Warungboto, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Klik peta di sini.

Itulah tempat-tempat yang bisa dikunjungi kala perjalanan singkat 1-2 hari. Kalau mau tambah lagi, silakan komentar di sini ya supaya bisa masuk wishlist~ Supaya tidak ketar-ketir, siapkan rencana perjalanan dengan matang ya!

Selamat menjelajah!

Komentar

  1. ada masjid jogokariyan juga, solat subuh di sana seramai solat jum'at

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, rencananya juga mau ke masjid itu Grand, tapi entah kenapa lupa. Kami juga ke kebun binatang Gembira Loka lho. Mungkin next post akan ditampilkan yaa

      Hapus
  2. Gw lebih suka ke desa-desanya kalo lagi main ke Jogja. Apalagi adek-adek gw sekolah di UGM semua, jadi berasa punya guide gratisan, wkwkwk

    BalasHapus

Posting Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Terowongan Kendal Sudah Berubah, Yuk Naik MRT!

Insekuritas dalam Berkarya

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan