Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Kehidupan di Pasar

Tepatnya pada 8 Agustus pagi, tak biasanya saya bangun pagi ke pasar. Bukan kebiasaan saya pergi ke pasar pagi-pagi kalau bukan diminta tolong ibu “titip beli ya kak”.
Dengan mata yang masih sipit dan mandi seadanya, saya beranikan diri untuk ke pasar secara serius. Betulan serius, karena pasar adalah tempat publik dengan penjual yang menjajakan hasil bumi tani dari daerah lain. Di pasar, akan bertemu segala rupa jenis barang seperti rempah, buah, sayur, aneka daging, atau bahkan barang kelontong.
Jika di pasar modern pengunjung dimanjakan atap dan ruangan sejuk, namun tidak untuk pasar tradisional. Sebenarnya tidak bisa dikatakan pasar tradisional juga sih, lebih tepatnya pasar besar yang berada di tengah kota, dekat stasiun di daerah Kranji, Bekasi. Tetapi bukan juga pasar induk seperti di Jatinegara, Jakarta.
Pasar Kranji Baru Bekasi adalah spot baru untuk saya dan rekan saya. Keperluan kami merangkap sebagai pengunjung yang berbelanja. Pengunjung seperti kami tampak berpakaian san…

Ayah yang Menyiram Bunga

Ibu memasak nasi, ayah membaca koran, Budi mengeja kata
Subyek-subyek seperti ibu, ayah, dan Budi (Budiiii ini zaman baheula banget) tertancap di kepala. Berbekal buku pelajaran menulis dan membaca Bahasa Indonesia waktu SD, saya hanya kenal mereka. 
Di beberapa buku lainnya, ibu yang saya kenal adalah yang mengurus rumah tangga. Sementara ayah, pergi keluar untuk bekerja. Namun tidak untuk kondisi keluarga saya dan mungkin pembaca lainnya. Kondisinya terbalik.
Misal sang ibu bekerja, ayah bekerja, dan anak-anaknya sekolah. Atau ibu bekerja sambilmenjadi ibu rumah tangga, ayah bekerja, anak-anaknya kuliah sambil bekerja. Atau bahkan ayah mengasuh, ibu sakit-sakitan, anak sudah tamat kuliah dan bekerja. Banyak kemungkinan. Bekerja pun bisa dari rumah atau remote working bukan?
Tapi kini saya mengalami sendiri. Fase-fase ayah dan ibu pernah bekerja saat bugar-bugarnya, dengan keadaan anak masih kecil-kecil dan sekolah. Kemudian berlanjut ke fase orang tua bekerja, dan anak-anaknya kulia…

Bayangan Perempuan

Hubungan ibu dan anak tidak pernah terpisahkan. Meski jarak yang memisahkan, selalu ada ikatan batin yang mengikat. Perkara konflik atau tidak, itu hal biasa. Bukankah begitu?
Anak perempuan adalah kesayangan ibu, begitu pula ayah. Sayangnya, gerak anak perempuan dibatasi demi kebaikan orang tua. Tapi kadang, anak perempuan itu juga tidak paham apa itu kebaikan orang tua.
Apakah kebaikan ini berdasar keyakinan rohani?
Ataukah tekanan masyarakat yang patriarki?
Anak perempuan haruslah terus bergerak. Jika ibu bebas bergerak dengan segala kuasanya, mengapa tidak dengan anak perempuan?
Hidup menjadi anak perempuan di tanah surgawi begitu sulit. Banyak yang mengombang-ambingkan teori dan realita.
Jika kata kelompok begini, perempuan sebaiknya lemah-lembut, keibuan, pasif, dan terkadang... memaksakan pandangan tentang nilai-nilai seorang perempuan pada perempuan lain.
Jika kata kelompok begitu, perempuan haruslah bersuara, aktif, mengekspresikan diri, dan bekerja keras.
Seperti bayangan, m…

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan