Langsung ke konten utama

Bayangan Perempuan


Hubungan ibu dan anak tidak pernah terpisahkan. Meski jarak yang memisahkan, selalu ada ikatan batin yang mengikat. Perkara konflik atau tidak, itu hal biasa. Bukankah begitu?

Anak perempuan adalah kesayangan ibu, begitu pula ayah. Sayangnya, gerak anak perempuan dibatasi demi kebaikan orang tua. Tapi kadang, anak perempuan itu juga tidak paham apa itu kebaikan orang tua.

Apakah kebaikan ini berdasar keyakinan rohani?

Ataukah tekanan masyarakat yang patriarki?

Anak perempuan haruslah terus bergerak. Jika ibu bebas bergerak dengan segala kuasanya, mengapa tidak dengan anak perempuan?

Hidup menjadi anak perempuan di tanah surgawi begitu sulit. Banyak yang mengombang-ambingkan teori dan realita.

Jika kata kelompok begini, perempuan sebaiknya lemah-lembut, keibuan, pasif, dan terkadang... memaksakan pandangan tentang nilai-nilai seorang perempuan pada perempuan lain.

Jika kata kelompok begitu, perempuan haruslah bersuara, aktif, mengekspresikan diri, dan bekerja keras.

Seperti bayangan, masa lalu seorang ibu akan tercermin di kaca. Masa depan sang anak tertangkap depan kata. Mata, adalah jendela. Masa lalu adalah sejarah. Dan sebagai anak perempuan pula, sudah waktunya belajar dari sejarah.

Seperti bayangan, masa lalu akan tercermin di kaca. 

Keterangan foto:
Bayangan seorang perempuan dan anak perempuan di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PUSGIWA), Universitas Indonesia pada Sabtu 26 Oktober 2019.

Foto ini saya ambil ketika mengambil buku album wisuda kampus pada Oktober 2019 lalu. Kebetulan, Pusgiwa sudah banyak berubah. Bangunannya cukup futuristik. Ketika dikunjungi, anak-anak pun suka bermain dan berlarian di lantai ini.

Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Terowongan Kendal Sudah Berubah, Yuk Naik MRT!

Insekuritas dalam Berkarya

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan