Langsung ke konten utama

Kehidupan di Pasar

Tepatnya pada 8 Agustus pagi, tak biasanya saya bangun pagi ke pasar. Bukan kebiasaan saya pergi ke pasar pagi-pagi kalau bukan diminta tolong ibu “titip beli ya kak”.

Dengan mata yang masih sipit dan mandi seadanya, saya beranikan diri untuk ke pasar secara serius. Betulan serius, karena pasar adalah tempat publik dengan penjual yang menjajakan hasil bumi tani dari daerah lain. Di pasar, akan bertemu segala rupa jenis barang seperti rempah, buah, sayur, aneka daging, atau bahkan barang kelontong.

Jika di pasar modern pengunjung dimanjakan atap dan ruangan sejuk, namun tidak untuk pasar tradisional. Sebenarnya tidak bisa dikatakan pasar tradisional juga sih, lebih tepatnya pasar besar yang berada di tengah kota, dekat stasiun di daerah Kranji, Bekasi. Tetapi bukan juga pasar induk seperti di Jatinegara, Jakarta.

Pasar Kranji Baru Bekasi adalah spot baru untuk saya dan rekan saya. Keperluan kami merangkap sebagai pengunjung yang berbelanja. Pengunjung seperti kami tampak berpakaian santai sekali seperti berkelana, bukan seperti ibu-ibu yang buru-buru mengejar waktu ke pasar. Berbekal kamera di tas, kehadiran pengunjung model ini menarik perhatian orang pasar.

Mulai dari senyuman riang bapak pengangkut sampah sambil berpose “peace”, ungkapan “ayo-ayo mau diekspos”, bahkan dipelototi pengunjung lainnya menjadi camilan di pagi itu.

Tersenyum di Pasar Kranji Baru, Bekasi, 2019. 

Beruntungnya, tidak ada yang berlaku aneh-aneh, entah itu menyenggol atau menyiul. Semua berlangsung secara natural.

Mungkin karena berjalan sambil membawa tentengan belanja, kehadiran saya dan rekan saya tidak begitu ditanggapi. Apalagi jalan berdua, bukan rombongan. Kamera besar tidak jadi masalah asal belanja sayur-mayur yang banyak.

Sampai ketika, saya dan rekan saya sedang memilih-milih sayur-mayur. Tidak sengaja, lewatlah seorang pengamen yang bernyanyi sambil joget. Dikira perempuan karena berpakaian muslimah lengkap beserta dandanannya, ternyata dari jarak dekat kulit wajahnya kasar dan bersuara berat.

Pengamen ini bernyanyi di Pasar Kranji Baru, Bekasi, 2019. 

Penjual di sekitar pasar sayuran Kranji Baru tidak terganggu, malah merasa terhibur. Rekan saya memberi uang tip sebagai bentuk apresiasinya. Siapa tahu, akan bertemu lagi nanti?

Dan, tidak sengaja juga bertemu ayam hidup yang ketakutan sebelum masuk ke mesin pemotong bulu, Pasar Rawa Bebek, Kranji, Bekasi 2018. 

Jika flashback setahun lalu, bangun pagi seperti ini juga dilakukan. Waktu itu di Pasar Rawa Bebek, Kranji. Pasar itu berdekatan dengan kolong jembatan daerah Stasiun Kranji. Kondisi cuaca yang mendung, membuat seisi ruangan pasar terasa lembab dan pengap.

Menyusuri isi dalam pasar hingga ditanya “buat apa sih mbak?”, sempat membuat saya kaget. Ternyata tidak semua suka kehadiran kamera. Berbeda dengan yang lain, memanfaatkan kamera semaksimal mungkin agar panggung tampil tetap bersinar.

Namun di pasar, semuanya ingin hidup damai. Mungkin supaya tidak ada prasangka bangunan pasar akan dipindahkan atau dialihkan.

Di pasar, semuanya ingin hidup damai. 

Dalam kehidupan sehari-hari, pribadi kita tidak akan terlepas dari kehadiran pasar, entah untuk melengkapi lauk-pauk di rumah, bercengkerama, maupun ajang bersua.

Hunting Pasar Bekasi (HPB) dalam pameran perdananya mengambil tema ini untuk menghadirkan bahwa kehidupan kita tidak akan bisa lepas dari pasar dan di pasar pun terdapat kehidupan yang sangat kita nikmati tanpa kita sadari.

Pameran fotografi jalanan (street photography) ini berlangsung pada Minggu, 18 Agustus 2019. Pameran foto HPB terbuka untuk umum dan gratis. Lokasi pameran di Stadion Patriot Bekasi dan Gedung Kanwil DJP Jabar II (CFD Bekasi).

Ingin bergabung di komunitas HPB? Kunjungi laman Instagram HPB di ­­­­@huntingpasar.bks. Sampai jumpa di Minggu pagi, sarapan berkedok belajar foto dan video!

Komentar

Sering Dikunjungi

Mulai Aja Dulu di BandLab

Terowongan Kendal Sudah Berubah, Yuk Naik MRT!

Do you feel better today?

Eksperimen di Adobe Spark

Nadia K. Putri

Mari Berkawan